Edisi 10-04-2016
Hidup yang Memudahkan


Nuning Purwaningrum Hallett merupakan contoh perempuan Indonesia yang berjaya di bidang pendidikan dan karier.

Dia selalu mendapat beasiswa untuk studi di luar negeri hingga meraih gelar doktor dan kini menduduki posisi puncak di perusahaan multinasional. S etelah dua tahun membangun dan memimpin Yayasan Diaspora Indonesia, sejak akhir 2015 Nuning berlabuh di iiCare Benefits Indonesia sebagai country director.

Doktor Transnational Studies/Global Gender Studies dari State University of New York, Buffalo, AS, ini merasa penjelajahannya sebagai social entrepreneur lebih terakomodasi karena pengabdiannya sekarang langsung bersentuhan dengan hajat hidup kalangan pekerja. Berikut wawancara dengan perempuan kelahiran Bandung, 23 Januari 1973, ini.

Selain memimpin iCare Benefits Indonesia, apa saja kegiatan Anda saat ini?

Karena dari dulu saya sangat tertarik untuk berkegiatan di bidang sosial, saya saat ini juga membuka kelas-kelas gratis untuk meningkatkan pendidikan kalangan pekerja terutama pekerja outsourcing . Sekarang saya dan beberapa teman membuka kursus bahasa Inggris gratis bagi mereka, sekitar 90 menit setiap minggu. Perlindungan dasar bagi kehidupan pekerja adalah kapabilitasnya sendiri. Pemberdayaan diri. Kompetisi dunia kerja akan semakin berat terlebih sekarang sudah berlaku MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Sebelumnya saya mendirikan beberapa organisasi kawin campur dan mengadvokasi sejumlah draf regulasi untuk melindungi hak-hak hukum kewarganegaraan keluarga mereka yang melakukan kawin campur. Melalui Yayasan Diaspora, saya bersama sejumlah teman memperjuangkan dan mengadvokasi dua kewarganegaraan di Indonesia.

Apa tujuan hidup Anda?

Saya senang berkegiatan sosial sehingga setiap aktivitas saya berkaitan dengan pekerjaan sosial, pekerjaan yang memiliki nilai manfaat kepada masyarakat, baik sosial maupun pendidikan. Saya ingin setiap anak muda menyadari pentingnya value added bagi kehidupan mereka. Virus ini harus disebarkan ke mana-mana. Satu lagi, hidup kita harus memudahkan orang lain. Hidup akan lebih indah apabila kita bermanfaat bagi banyak orang.

Dari aktivitas di Yayasan Diaspora Indonesia, bagaimana hingga akhirnya Anda memimpin perusahaan dengan platform social benefits ?

Dalam sebuah acara di Amerika Serikat, dua teman saya dari Vietnam yang samasama lulusan perguruan tinggi di sana mengajak bergabung dengan perusahaan ini. Setelah saya pelajari, ini adalah bentuk social enterprise . Tidak hanya sebuah retail, tetapi memiliki misi dan tujuan sosial bagi pekerja.

Membantu pekerja agar dapat hidup lebih baik dengan cara memberikan akses terhadap barang dan layanan secara terjangkau. Akhirnya, saya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut dan mengembangkan iCare Benefits di Indonesia. Saya juga melihat, saat itu sudah banyak orang yang bisa melanjutkan kepemimpinan di Yayasan Diaspora Indonesia. Sistem dan jaringannya sudah terbentuk.

Kenapa ini disebut social enterprise ?

Begini, saya memandang pasar tidak fair terhadap pekerja berpenghasilan paspasan di Indonesia. Banyak pekerja yang tidak mampu memenuhi persyaratan perbankan bahkan punya rekening pun tidak. Tapi, mereka perlu memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Akhirnya, banyak yang terjerat rentenir atau berat melunasi pinjaman konsumer finance .

Disadari atau tidak, sekarang sistem tunjangan kepada pegawai di Indonesia sudah banyak berubah, perlahan diturunkan atau bahkan dihapus melalui berbagai strategi. Lihat saja, turn over pekerja semakin tinggi karena mereka terus mencari perusahaan yang bisa memberi perlindungan yang bagus.

Dalam situasi ini, perlu platform yang memutus mata rantai panjang antara distributor dan karyawan sebagai konsumen secara langsung. Dengan begitu, para pekerja mendapatkan barang keperluan mereka dengan harga yang lebih murah dari di pasaran. Mereka dapat mencicil selama enam bulan tanpa biaya jasa ataupun bunga dan bebas biaya kirim. Masa tunggu hanya tujuh hari sejak pemesanan hingga barang sampai di rumah.

Berbasis di mana iCare Benefits?

Platformretail bagi karyawan yang memenuhi persyaratan sebagai social benefits ini berbasis di Vietnam. Indonesia menjadi negara kelima yang mendirikannya. Kami membuka akses bagi pekerja, produk, dan layanan dasar untuk hidup lebih nyaman, sehat, cerdas dan sejahtera.

Efek dari program ini adalah meningkatkan moral, loyalitas, dan produktivitas pekerja di tempat kerja. Kami tidak hanya menyediakan barang retail, tetapi juga untuk pembiayaan pendidikan si karyawan maupun keluarganya. Ada juga produk asuransi untuk memudahkan mereka berobat, tidak perlu mengantre panjang saat mendaftar karena semua bisa dilakukan secara online .

Bagaimana perkembangan di Indonesia?

Saat ini iCare Benefits Indonesia telah bekerja sama dengan 35 perusahaan dengan total sekitar 250.000 pekerja dan terus berkembang. Kami mengalami kemajuan yang paling pesat di antara negaranegara lain. Perbandingannya bisa mencapai 10 kali lipat. Saat awal masuk ke Indonesia pada 2013, perusahaan ini memulai dengan USD700.000. Pada 2015 investasi yang masuk USD2 juta dan tahun ini mencapai USD25 juta. Saat ini wilayah kerja kami Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Tahun ini kami mulai kembangkan di Jawa Tengah.

Apa saja target Anda untuk iCare Benefits?

Kami akan masuk ke sektor perumahan pada 2018. Kalau target global, pada 2019 kami berharap sudah eksis di 50 negara.

Karakter kepemimpinan Anda tampak begitu kuat. Apakah pengalaman hidup Anda juga membentuk profil Anda saat ini?

Banyak sekali pengalaman jatuh bangun yang saya alami. Bahkan pada 2013, sebelum saya bergabung dengan Yayasan Diaspora Indonesia, saya sebagai single parent dan ketiga anak saya pernah menjalani hidup tanpa rumah di Amerika Serikat. Saat itu visa saya telah habis dan kampus tempat saya mengajar tidak bisa mengambil risiko tetap mempekerjakan saya. Tanpa penghasilan apa pun dan dengan uang yang tersisa, saya membawa ketiga anak saya tinggal dari motel ke motel sambil terus berusaha mendapatkan beasiswa.

Hidup memang penuh kejutan dan pertolongan Tuhan datang dalam berbagai bentuk. Suatu ketika, saya menerima undangan menjadi moderator dalam sebuah acara tentang diaspora di Jakarta. Akomodasi ditanggung. Saya melihat ada peluang dari kegiatan ini. Selama sepekan, saya titipkan anakanak ke kerabat.

Dari sana jaringan saya semakin luas hingga kemudian diminta menjadi ketua Yayasan Diaspora Indonesia yang pertama. Itu menjadi salah satu titik balik dalam hidup saya.

Robi ardianto