Edisi 10-04-2016
Rumah Tumbuh


Membangun rumah bagi sebagian orang harus penuh perjuangan, termasuk yang dialami Sapta Nirwandar. Untuk membangun rumahnya diperlukan beberapa tahapan layaknya tumbuhan yang berkembang. Prosesnya pun berbanding lurus dengan jenjang karier dan pendapatan.

Sehari-hari, hanya Sapta dan istrinya, Kuntari, yang tinggal di rumah ini. Sulung dari ketiga anak mereka sudah menikah dan tinggal di rumah sendiri. Sedangkan, dua adiknya sekolah di mancanegara. “Sepi karena sekarang hanya ada kami berdua. Tapi, kami kerasan karena suasananya homey banget,” tutur Sapta.

Sebuah gazebo mini beratap rumbia menghiasi bagian tengah pekarangan hijau rumah dua lantai di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu. Jalan setapak dari paving block menjadi penghubung antara carport di sisi kanan rumah dan saung tadi sekaligus memisahkan taman berbentuk setengah lingkaran itu menjadi dua bagian yang samasama ditumbuhi pepohonan rindang. Rumah dan pekarangan griya Sapta dibentengi tembok bebatuan alam dengan tanaman merambat agar debu dari jalanan di luar tersaring dan tidak merusak keasrian taman.

Di taman ini terdapat pohon rambutan, mangga, dan matoa. Tak ketinggalan tanaman seperti anthurium, lidah mertua, hingga kuping gajah. Di saung inilah Sapta biasa bersantai, pagi maupun sore hari, sambil membaca koran ditemani teh atau kopi. ”Karena hanya tinggal berdua, selain saling mengisi, kami juga selalu berupaya bagaimana supaya rumah ini semakin nyaman. Karena rumahlah tempat paling nyaman untuk beristirahat, tempat mencari inspirasi, dan melakukan kegiatan lainnya. Alhamdulillah, tinggal di sini kami sangat kerasan,” kata ketua umum Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (Ika Unpad) ini.

Kuntari menambahkan, meski hanya tinggal berdua dan kehilangan keramaian ketika anak-anak masih tinggal bersama mereka, dia tidak kehilangan kehangatan saat sudah di rumah. Apalagi bila Sapta juga sedang tidak ada agenda ke luar kota atau ke luar negeri. ”Kalau Bapak ada, tentu suasananya tambah hangat. Seperti pacaran lagi. He he ,” kata perempuan berdarah Solo yang dinikahi Sapta pada Maret 1983 ini.

Menurut Sapta, dia dan keluarga tinggal di rumah ini sejak 1993. Pada 1989, setelah Sapta mendapat gelar doktor di Prancis, mereka kembali ke Indonesia dan mengontrak rumah tak jauh dari lahan kosong yang kini menjadi rumah mereka sekarang. Ketika itu Sapta masih berstatus pegawai Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Setiap lari pagi Sapta mengintip lahan kosong tersebut dari balik pagar bedeng yang menutupinya. Alumnus Universitas Padjadjaran ini tertarik dengan lahan seluas 470 meter persegi (m2) itu.

Setelah mencari tahu ke sana-sini, lahan yang sudah berpuluh tahun kosong tersebut ternyata milik Batan. Pria penyuka durian dan kopi ini pun mengajukan permohonan ke kantornya agar tanah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai rumah tinggal. Batan pun mengabulkan permohonannya. Lahan tersebut dijual dengan sistem cicilan kepada Sapta. Begitu izin mendirikan bangunan (IMB) keluar pada 1993, Sapta secara bertahap membangun rumahnya.

”Di tahun yang sama kami sekeluarga akhirnya bisa tinggal di rumah sendiri meski harus mencicil setiap bulan selama 20 tahun,” ungkap pria kelahiran Bandarlampung, Lampung, 13 Mei 1954, ini. ”Surat ketentuan mencicil terbit pada 1998. Jadi, sampai sekarang cicilannya belum lunas. He he he,” tambah Kuntari. Sapta melanjutkan, perkembangan rumah ini benar-benar bertahap. Tidak langsung jadi sebesar sekarang. Peningkatannya berbanding lurus dengan jenjang karier dan pendapatannya. Karena itu, Sapta dan Kuntari menyebut mereka ”rumah tumbuh”.

”Tumbuh artinya ya ada tahapannya. Sedikit-sedikit dari kecil semakin berkembang. Sejalan dengan peningkatan karier saya,” ujar Sapta. ”Pertumbuhan” bertahap ini tampak kentara dari perbedaan keramik lantai antara ruangan atau bagian satu dan lainnya. Misalnya antara ruang tamu dan ruang tengah. Lantai ruang tamu yang merupakan bangunan hasil perluasan bercorak grey shadow sementara ruang tengah berlantai keramik solid white.

Di sayap kanan ruang tamu terdapat sebuah pintu untuk mengakses ruang tengah. Di sinilah pusat aktivitas keseharian Sapta dan Kuntari termasuk bila anak-anak mereka sedang pulang. Mereka biasa berkumpul dan bercengkerama di ruangan tengah yang setiap bidang dindingnya dihiasi lukisan serta foto keluarga. Di ruang ini pula terdapat tiga lemari berisi koleksi suvenir dari berbagai negara yang pernah dikunjungi Sapta. Di salah satu sudut ada piano yang dibawa langsung dari Praha. Di samping kanan piano terdapat pintu akses ke dapur.

Meja makan ada di sudut lain. Di balik tembok ruang makan ada kolam kecil. Kuntari menuturkan, ruang makan ini sebelumnya adalah kolam renang kecil. ”Karena anak-anak sudah dewasa dan nggak ada lagi yang main air di kolam, akhirnya dibongkar dan dijadikan ruang makan. Karena itu, posisinya menjorok,” ujarnya. Kuntari mengatakan, ruangan yang kini digunakan sebagai ruang keluarga awalnya adalah kamar tamu.

Namun, lantaran ukurannya kecil akhirnya beberapa tembok dibobok dan dijadikan ruang keluarga dengan aksen gebyok kayu dan ornamen bata. ”Gebyok dan bata tua tersebut saya beli di Kudus. Saat itu ada bongkaran rumah,” ungkap perempuan yang piawai bermain piano ini. Di samping kanan ruang keluarga terdapat pintu akses ke bangunan tambahan lainnya. Di lantai satu bangunan ini terdapat tiga ruangan yaitu perpustakaan, kamar tamu, dan kamar anak kedua (Irman).

Perpustakaan dan kamar Irman memiliki pintu akses langsung menuju taman. ”Irman mengonsep bahkan mendanai sendiri pembuatan kamarnya. Kreatif. Ya begitulah kamar anak muda,” kata Sapta. Kamar utama plus ruang kerja, kamar anak sulung (Ridarrahim), dan kamar si bungsu (Rissa) ada di lantai dua. Di tengah kamarkamar itu ada space untuk bersantai. ”Waktu anak-anak masih kecil, di sini digelar karpet untuk mereka menonton televisi dari sana. Sekarang hanya jadi tempat melintas saja,” kata Kuntari.

Kamar utama dan ruang kerja Sapta dibatasi dengan pintu kaca. Inilah spot favorit Sapta dan Kuntari. Di sinilah mereka biasa melakukan berbagai aktivitas seperti membaca buku, menonton televisi, atau sekadar bersantai di sofa .Apabila penat memelototi pekerjaannya di rumah, Sapta membuka pintu ruang kerjanya dan menghirup udara segar dari balkon yang menghadap taman. Kamar utama dan ruang kerja berwarna putih.

”Kamar utama kan sakral. He he. Jadi dikasih warna putih supaya kesannya selalu bersih,” terang Sapta. Ditanya konsep keseluruhan rumah mereka, Sapta dan Kuntari hanya saling berpandangan sambil mengangkat bahu. Meski begitu, sentuhan gaya Eropa klasik terlihat dari pemilihan lampu-lampu kristal yang menghiasi beberapa ruang.

Robi ardianto