Edisi 10-04-2016
Intimasi Dua Wajah Berkarakter Perempuan


Seniman Jabbar Muhammad memajang karyakaryanya dalam pameran tunggal, hasil dari sebuah pergulatan membebaskan diri dari kejenuhan proses akademik yang selalu mengungkungnya.

Ada sebuah ekspresi yang lebih subtil tentang pengenalan diri dalam setiap wajah wanita yang ia lukis. Goresan kuasnya menyingkap keceriaan, perjumpaan, kecanggungan, pendekatan yang intens dalam sebuah percakapan, dan monolog diri. Semua itu ia curahkan dalam sebuah lukisan di atas kanvas dan kertas yang ia pamerkan di dua tempat sekaligus, yaitu di Salian Art, Jalan Sersan Bajuri No 86, dan di Omnispace (Omni Building Lt. 3) jalan Ciumbuleuit No 151B, Bandung, Jawa Barat.

Pameran ini berlangsung dari 26 Maret hingga 15 April 2016. Seniman muda ini memilih Salian Art dan Omnispace sebagai dua tempat memamerkan karya-karya lukisnya. Ini merupakan yang pertama kali bagi Jabar memamerkan dua karya lukis dengan teknik yang berbeda di dua tempat yang berbeda pula. Namun, keakrabanyangintim dalam sebuah karya menjadi penghubung kedua tempat tersebut. Dua tempat ini dipilih bukan tanpa alasan.

Tentu saja alasan teknis menjadi pertimbangan penting bagi Jabbar dalam pameran tunggalnya itu. “Pertimbangan dua tempat menjadi sangat seksi buat saya,” kata Jabbar beberapa waktu lalu. Karya Jabbar ini dilukis pada dua media yang berbeda, yakni di atas kertas dan kanvas. Tentu materi yang digunakan pun menjadi pertimbangan, mengingat kondisi cuaca dan ruangan di dua tempat itu juga berbeda. Lokasi pameran Salian Art, misalnya, memiliki ruang galeri yang terbuka dengan kondisi cuaca yang lebih dingin dan lembab.

Hal tersebut dinilai cocok bagi penempatan karya lukis yang dia toreh di atas kanvas. Mengapa karya lukis yang di atas kertas tak ia tempatkan bersama di Salian? Alasannya, karena udara lembab tak bersahabat bagi kertas. Udara lembab, katanya, akan membuat kertas berkeriput dan akan mengganggu karya itu sendiri. Tentu potensi ruangan di masing- masing galeri ini menjadi pertimbangan bagi Jabbar untuk mencapai apa yang diinginkannya dalam pameran tunggal tersebut.

“Saya lihat Salian dengan temboknya yang putih dan panjangmembuatsaya berpikirbahwa saya harus membuat karya yang masif dan megah. Sementara di Omnispace, saya lebih dulu intim dengan karya cat air. Saya lihat ruangan ini bisa menjadi sangat senyap dan intimasi tersendiri untuk menampilkan karya saya di sini,” jelasnya. Proses berkarya dari mula hingga akhirnya menemukan seri karya lukis, melewati proses kontemplasi yang cukup panjang.

Jabbar mengaku harus memutar otak lebih keras hingga akhirnya menemukan karya yang pas jatuh pada kata ‘anima’ di tahun 2012. Dalam tulisan kurator Riffandi Priatna yang terpajang dalam pameran ini disebutkan bahwa anima sendiri mengacu pada istilah yang digunakan Carl Jung pada bidang psikologi untuk menjelaskan sisi feminin pada kepribadian pria. Anima (kata latin= pikiran atau jiwa) bekerja pada sisi bawah sadar manusia dan ditujukan ke dalam diri manusia tersebut.

“Penamaan ‘Anima’ muncul dari tengah perbincangan. Tadinya saya mau namain‘Eve’ itu tingkat tinggi dari pengenalan perempuan. Tapi, saya tidak ingin mengilustrasikan sesuatu ,” Jelas Jabbar.

Agie permadi