Edisi 10-04-2016
Jalur Pedestrian di Indonesia Tak Layak


JAKARTA – Konsep pembangunan daerah dan kota di Indonesia belum memedulikan fasilitas bagi pejalan kaki (pedestrian).

Pemerintah masih terpaku bahwa mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan sehingga lebih banyak membangun jalan raya. Akibatnya, pembangunan dan pemeliharaan jalur pedestrian atau trotoar kurang mendapat perhatian. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, banyak sekali dilihat jalur pedestrianbukan hanya digunakan pejalan kaki, tapi juga oleh pedagang kaki lima (PKL) atau menjadi tempat parkir.

Parahnya, jalur pedestrian seolah menjadi jalur alternatif pengendara sepeda motor untuk menembus kemacetan. Perhatikan juga ketika masyarakat turun dari angkutan umum, terkadang bukan trotoar yang mereka jumpai, melainkan pinggir jalan raya. Di banyak kota besar di Indonesia, bukan saja tidak aman dan nyaman, bahkan jalur pedestrian tidak ada sama sekali. Ketua Koalisi Pejalan Kaki Ahmad Syafrudin menjelaskan, fasilitas bagi pedestrian dilindungiolehUUNo 38Tahun2004 tentang Jalan.

Ahmad juga menjelaskan bahwa Jakarta memilikiruasjalansepanjang7.000kilometer, sedangkanyangdilengkapi trotoar baru 400 kilometer. ”Hanya 6% dari panjang ruas Jakarta yang telah dilengkapi trotoar, bayangkan jika dibandingkan dengan Bangkok yang hampir 100% sudah dilengkapi trotoar,” sebut Ahmad. Dia melanjutkan, dari 6% tersebut, 80%-nya diserobot oleh tukang parkir, PKL, pos polisi, hotel, dan perkantoran yang membuat trotoar jadi tempat parkir.

Ahmad mengatakan hanya di jalan-jalan seperti Sudirman, Thamrin, Menteng, Rasuna Said, Casablanca, Kebayoran Baru yang memiliki trotoar. Saat ini di DKI Jakarta, trotoar hanya tersisa sekitar 80 km yang aman dan nyaman di DKI Jakarta. Jadi tak heran jika berdasarkan WalkAbility Index (indeks kelayakan pejalan kaki) yang dilakukan oleh Koalisi Pejalan Kaki pada 2010, disebutkanbahwafasilitas pejalan kaki di Jakarta hanya43/ 100, masihjauhdari ratarata negara Asia yang mencapai 58/100.

Hong Kong memiliki indeks yang cukup tinggi yaitu 80/100, sedangkan Singapura 75/100. Sementara di negaranegara Eropa dan Amerika, indeks rata-ratamencapai90/ 100. Adapun di beberapa kota seperti Berlin, indeksnya 96/100. Meskipun begitu, Indonesia memiliki jalur pedestrian yang baik terutama di daerah-daerah kecil seperti Magetan, Ngawi, dan Malang yang merupakan peninggalan zaman Belanda hingga saat ini, dan itu masih terjaga.

Selain itu, Kota Bogor yangsecara strukturkotanya sudah bagus, dan saat ini trotoarnya sudah banyak perbaikan. Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Nirwono Yoga, mengatakan bahwa UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas telah membuat panduan bagaimana membuat sebuah trotoar yang ramah. Di antaranya ketentuan luas sebuah trotoar disesuaikan dengan hierarki jalan. Sebuah trotoar juga tidak boleh terputus dan memiliki ketinggian sekitar 20 cm.

Dilengkapi dengan sebuah fasilitas yang memungkinkan disabilitas dan pengguna tongkat bisa menggunakan trotoar. Hal itu penting karena masyarakat disabilitas juga memiliki hak berjalan di tempat umum, sehingga perlu difasilitasi dengan menyediakan sarana dan prasarana yang layak. Agar pejalan kaki semakin nyaman, ada baiknya trotoar ditata dengan baik. Beberapa unsur pemanis perlu dihadirkan di trotoar, misalkan saja kursi taman serta beberapa pohon berdaun rindang. ”Kehadiran pohon rindang membuat pejalan kaki semakin nyaman,” kata Nirwono.

Ketua Umum Road Safety IvanVirnanda mengaku, masyarakat sangat menanti respons pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas trotoar. Berdasarkan data yang dimiliki Road Safety, baru 10% jalan di Indonesia yang telah dilengkapi trotoar. Tetapidari 10% tersebut dibagi lagi, dan ternyata hanya 10% trotoar di Indonesia yang masuk dalam kategori bagus.

Ada baiknya pemerintah mulai mengubah mindset-nya. Jika selama ini lebih berorientasi pada peningkatan jalan, sekarang juga harus ditambahkan dengan meningkatkan kualitas trotoar pada jalan yang dibangun. Pemerintah tidak boleh lupa kalau jumlah masyarakat Indonesia yang berjalan kaki masih sangat besar. DiSurabaya, jalurpedestrian menjadi bagian ruang publik selain ruang terbuka hijau (RTH) semacam taman kota. Jalur pedestriandiSurabayamulaimendapat sentuhan perbaikan saat wali kota masih dijabat Bambang Dwi Hartono.

Pembangunan jalur pedestrian diawali pengerukan dan pelebaran saluran air tepi jalan (trotoar) yang semula kecil. Singkatnya, box culvert. Setelah pusat kota, pembangunan jalur pedestrian meluas ke pinggiran, dan sempat diteruskan pemerintahan Wali Kota Tri Rismaharini pada periode pertama. Beberapa jalur pedestrian di jalan protokol Surabaya telah digarap cukup baik bahkan beberapa nyaman buat penyandang disabilitas. Pun beberapa ruas jalan protokol di Surabaya, jalur pedestrian dianggap ”surga” bagi pejalan kaki.

Namun, Direktur Surabaya Heritage Freddy H Istanto menyebut jalur pedestrian di Surabaya yang menjadi hak pejalan kaki tidak jarang dirampas pengguna jalan layaknya di Jakarta. ”Saya pernah live di salah satu stasiun televisi. Saya sampaikan bahwa jalur pedestrian di Surabaya benar-benar ramah bagi pejalan kaki.

Saat menyampaikan ini saya berdiri di jalur pedestrian, tiba-tiba di belakang saya ada motor melintas,” kata Freddy, yang juga pengajar di Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Pantau KORAN SINDO beberapa hari lalu di Jalan Raya Gubeng, menjelang traffic light masuk Jalan Pemuda, masih banyak pengendara motor yang menggunakan jalur pedestrian. Kejadian semacam ini tidak jarang membuat lantai teraso jalur pedestrian rusak, termasuk keramik atau granit yang menjadi perpaduan.

Di Bandung, jalur pedestrian juga masih memprihatinkan dan tengah dalam upaya revitalisasi. Titik-titik jalur pedestrian yang rencananya dibangun di antaranya Jalan Dago, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Cibadak, Jalan Kopo, Jalan Kiaracondong, Jalan Riau, dan Jalan Ahmad Yani. Kepala Bidang Pembangunan dan Pemeliharaan Kebinamargaan (DBMP) Kota Bandung Agoes Sjafroedin mengatakan, anggaran pembangunan jalur pedestrian mencapai Rp165 miliar.

Dana tersebut akan dipergunakan untuk pengerjaan trotoar, saluran drainase, fasilitas utilitas bawah tanah, pengadaan kursi antik, tempat sampah, PJU klasik, bola pelindung, dan meja. Sementara di kota Medan, Sumatera Utara, penataan jalur pedestrianyangdilakukanPemkot Medan melalui Dinas Bina Marga Kota Medan hanya sebatas inti kota.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan Zulkarnain mengatakan, penataan jalur pedestrian juga dilengkapi dengan berbagai sarana-prasarana sehingga menambah keindahandankenyamananbagi pejalan kaki. ”Daripada tidak sama sekali. Untukkawasanlainnanti akan dibenahi sekadar saja,” ungkap Zulkarnain kepada KORAN SINDO.

Hermansah/ soeprayitno/heru muthahari/reza shahab/dicky irawan/ yan yusuf/bima setiyadi