Edisi 17-04-2016
Social Enterprise demi Remaja Mandiri


Kepedulian sosialnya yang tinggi terutama terhadap anak remaja dan kaum marginal membuat Veronica Colondam mendirikan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Terus menyebarkan kebaikan menjadi prinsip dalam hidupnya. Bagi Veronica, ini juga merupakan perjalanan spiritualnya dalam mencari jati diri dan memaknai hidup.

YCAB bersama unit bisnis yang dimilikinya berevolusi secara natural menjadi social enterprise sehingga bisa menghidupi setiap aktivitas sosialnya secara mandiri. Bagaimana kiprah Veronica dalam mengembangkan program kemandirian bagi remaja dan masyarakat prasejahtera? Berikut ini wawancaranya.

Bagaimana ide awal hingga Anda mendirikan YCAB?

YCAB ini ya jadi media pencarian jati diri saya dalam memaknai hidup. Sebagai perjalanan spiritual saya agar bisa bermanfaat lebih banyak bagi orang lain. Selain itu sebagai evolusi dari perjalanan panjang serta bahan renungan saya sebagai seorang ibu agar bisa memberikan inspirasi kepada remaja supaya tidak terjerumus ke dalam hal-hal buruk seperti narkoba dan pergaulan bebas. Untuk melindungi anak-anak dari bahaya itu, saya mendirikan YCAB Foundation pada 2009. Kami memulai program dalam bidang kesehatan dengan memberikan edukasi dan mengampanyekan kepada remaja mengenai bahaya narkoba, yang salah satunya risikonya adalah HIV/AIDS. Setelah itu, kami kemudian masuk ke ranah pendidikan hingga pemberdayaan ekonomi sehingga remaja tersebut bisa mengambil dengan tepat berbagai keputusan dalam menjalani hidup. Hal yang penting pula, bagaimana supaya mereka pun bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Apa saja program yang dijalankan?

Ada tiga pilar yang dijalankan YCAB. Pertama, pada 1999 Healthy Lifestyle Promotion (HeLP) yang merupakan program pertama kami. Kami mempromosikan gaya hidup sehat kepada remaja di sekolah. Ada kampanye antinarkoba dan semakin berkembang dengan membuat beragam program kepemimpinan bagi remaja agar bisa memberikan dampak yang lebih positif dalam kehidupannya. Hingga Desember 2015, sudah lebih dari 2,6 juta remaja yang menerima manfaat program ini. Kedua, House of Learning anda Development (HoLD) atau program rumah belajar yang pertama kali dilaksanakan pada 2003. Ini sebuah aksi penyikapan atas banyaknya remaja yang putus sekolah dan prasejahtera. Ada beberapa program dalam HoLD seperti Kejar Paket A, B dan C, program kursus komputer dan bahasa Inggris, juga program vokasi peningkatan skill seperti menjahit, rumah cantik, montir, dan lainnya. Hingga kini sudah hampir 35.000 remaja menerima manfaat program ini. Mereka tersebar di 76 rumah belajar, 7 negara, dan 16 provinsi. Pilar ketiga yang lahir pada 2005, Hands-on Operation for Entrepreneurship (HOpE). Ini adalah bentuk aksi pemberdayaan masyarakat, termasuk pemberian microfinance kepada ibu-ibu prasejahtera. Kami memberikan pinjaman modal usaha kepada ibu-ibu agar bisa meningkatkan kesejahteraan keluarganya sehingga agar anak-anak mereka bisa melanjutkan pendidikan. Sudah ada hampir 7.800 penerima manfaat dari program ini per Desember 2015.

Bagaimana perkembangan YCAB saat ini?

Hingga saat ini, sudah ada lebih dari tiga juta penerima manfaat dari program-program kami. Mereka tersebar di 77 kota, 26 provinsi di Indonesia, dan 6 negara lainnya. Kami telah menuntaskan program di empat negara, yaitu Afghanistan, Pakistan, Mongolia, dan Uganda. Program kami masih berlangsung di Myanmar dan Laos. Rencananya kami akan membuka program di Kamboja, Vietnam, dan Timor Leste. Sebagai social enterprise, YCAB telah memiliki empat unit bisnis, yaitu Yada Indonesia, PT Pelangi Jaya sejak 2004, Beauty Inc, dan Terra Zone. Kami pun memiliki satu koperasi. Pada 2015, YCAB berhasil menduduki peringkat ke-63 dari 500 top NGO di dunia.

Apa saja target YCAB hingga 2020?

Kami memiliki target ada 5 juta orang penerima manfaat dari YCAB. Saat ini baru berkisar 3 juta orang. Berarti masih ada 2 juta lagi target penerima manfaat. Hingga 2020 setidaknya kami beroperasi di enam negara, termasuk Indonesia.

Apa saja tantangan yang pernah atau sedang dihadapi dalam operasional YCAB?

Jika dilihat dari segi LSM, secara garis besar tantangannya adalah resources, yang pertama dana, kemudian sumber daya manusia (SDM). Yang lebih sulit adalah mendapatkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan memiliki hati tulus membantu sesama. Adapun dari sisi keuangan, kami bisa mengatasinya melalui program yang bagus di koperasi, dengan unit bisnis yang menguntungkan. Apalagi banyak bantuan dari mitra-mitra kami yang sebagian besar merupakan korporasi. Ya, SDM adalah tantangan terbesar bagi NGO.

Apa harapan Anda?

Harapannya adalah saya bisa terus melihat perubahan dari para peserta didik kami, tidak sekadar menjalankan program, tapi yang dihasilkan dari program tersebut benar-benar membuat mereka lebih baik. Perubahan manusianya yang terus membuat kita semakin semangat untuk terus berkarya. Meski bisa menjalankan program secara mandiri dan sustainable, YCAB membuka tangan bagi lembaga ataupun korporasi yang ingin bermitra sebagai perpanjangan tangan dalam kebaikan.

Bagaimana kiat mengembangkan NGO dengan baik?

LSM atau NGO itu harus mengubah mindset dan harus berkembang ke ranah social enterprise atau bisnis sosial agar tidak lagi bergantung kepada donatur. Kita harus memiliki income dari bisnis yang dijalankan dan bisa membuat mandiri. NGO harus memikirkan unit bisnis yang cocok dan tepat sehingga bisa menghidupi aktivitasnya.

Sebagai seorang ibu, bagaimana Anda membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan?

Kuncinya adalah disiplin sehingga ketika saatnya bersama keluarga, saya berusaha tidak mengambil pekerjaan apa pun. Ciptakan selalu quality time bersama keluarga.

robi ardianto