Edisi 17-04-2016
Ketika Hidup Didominasi Dunia Maya


Dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia merupakan salah satu pasar yang paling menggiurkan bagi bisnis digital di Asia Tenggara. Jumlah penduduknya terbesar di Asia Tenggara dan terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat. Pengguna internet, gadget, dan media sosialnya pun masuk jajaran Top 5 terbesar di dunia dan terus meningkat.

Berdasarkan statistik digital dunia, Indonesia kini memiliki 88.100.000 pengguna internet aktif, naik 15% selama 12 bulan terakhir. Pelanggan kartu SIM di Indonesia 326.300.000, jauh lebih besar dari jumlah penduduk. Ini berarti setiap pengguna ponsel memiliki rata-rata dua kartu SIM. 85% dari total populasi memiliki ponsel, sementara 43% adalah pengguna smartphone.

Menurut periset dan dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Nuning Kurniasih, ketergantungan masyarakat terhadap media sosial saat ini adalah ketergantungan yang massif. Kita terus memantau media sosial mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi. Hal yang dilakukan oleh banyak orang saat ini adalah mengecek media sosial.

Telinga kita sangat sensitif mendengar notifikasi di gadget. Sebagian dari kita melakukan interaksi secara aktif di media sosial, sebagian hanya menjadi pengamat, melihat apa yang di-posting oleh orang lain, tanpa berinteraksi langsung tetapi selalu tahu dan ingin tahu apa yang terjadi di media sosial. Ada yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi, sedang dan rendah.

Menurut dia, ada beberapa alasan yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Pertama, perasaan takut kehilangan (fear of missing out) apa yang menurutnya penting. Bisa jadi takut kehilangan teman, event, momen dan aktualisasi diri. Kedua, ada rasa percaya diri yang tinggi ketika berada di media sosial sehingga bisa berekspresi berbeda dengan dunia nyata.

Misalnya ada orang yang didunia nyata pendiam, di media sosial benyak bicara. Media sosial dijadikan sarana untuk mengeskpresikan dirinya. Dampak ketergantungan masyarakat terhadap media sosial bisa dilihat dari dua sisi. Dari sisi positif, masyarakat menjadi memiliki akses yang tinggi terhadap informasi sehingga memiliki rasa kepedulian yang tinggi dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan dunia.

Orang yang selalu aktif di media sosial biasanya menjadi orang yang paling tahu lebih dulu tentang apa yang terjadi. Dia bisa membagikan informasi tersebut dengan cepat kepada orang lain. Sebagai contoh, kata Nuning, ketika ada berita gempa, banjir, macet, masyarakat dunia maya (netizen) membagikan berita tersebut secara real time kepada orang lain hingga mengkritisinya melalui media sosialnya.

Penyebaran informasi yang cepat, menyebabkan netizen bereaksi secara cepat juga terhadap sebuah fenomena. Tidak jarang reaksi netizen menjadi trending topic atau viral sehingga bisa sampai mempengaruhi kebijakan pemerintah. Dari sisi negatif, ketergantungan masyarakat terhadap media sosial bisa jadi dianggap mengurangi waktu produktif, sehingga pekerjaan menjadi terganggu.

Menyebabkan masalah fisik seperti kurang tidur dan mata terus menatap gadget mengakibatkan kesehatan fisik terganggu. ”Orang dengan tingkat ketergantungan yang tinggi bisa dianggap memiliki masalah mental. Terganggunya real life (dunia nyata) sehingga kehidupan nyata menjadi kacau,” terang Nuning.

Sulitnya seseorang membedakan kehidupan nyata dan dunia maya akibat media sosial menimbulkan berbagai dampak negatif. Penggunaan media sosial yang semakin berkembang di China dituding menjadi salah satu penyebab meningkatnya perceraian. Laporan kantor hukum Shuangli di Beijing -yang antara lain menangani kasus perceraian- menyebut 9 dari 10 perceraian mencakup pertengkaran yang dipicu oleh media sosial.

Sementara itu, menurut survei yang dilakukan terhadap 2.000 pasangan suami-istri di Inggris, media sosial ternyata bisa memicu perceraian. Seperti dikutip dari Digital Trends, dalam survei yang dilakukan biro hukum Slater and Gordon tersebut ditemukan bahwa satu dari tujuh orang yang menikah menyatakan mereka mempertimbangkan untuk bercerai karena pasangannya mulai bertingkah di media sosial ataupun aplikasinya.

Media sosial yang digunakan beragamdari Facebook, Snapchat, Skype, Whatsapp, serta Twitter. Sementara itu satu dari empat pasangan yang menikah terlibat pertengkaran rutin setiap minggu yang terkait dengan aktivitas di media sosial. Temuan lainnya adalah 17% menyatakan bahwa mereka bertengkar dengan pasangannya setiap hari karena aktivitas di media sosial.

Dalam survei ini juga ditemukan bahwa 58% responden mengakui kalau mereka mengetahui kata sandi pasangannya di media sosial, tanpa sepengetahuan pasangan mereka. Ini merupakan indikasi bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk mengintai gerak-gerik pasangannya di media sosial. Sementara itu di Amerika Sosial, media sosial juga sangat terkait dengan kasus perceraian.

Pada 2010, sekitar 81% pengacara perceraian mengakui bahwa media sosial terbukti berperan dalam peningkatan kasus perceraian sejak 2005. Bagaimana di Indonesia? Berdasarkan data Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama 2015, dari 25.310perceraiandengan kasus gangguan pihak ketiga, sekitar 35% dipicu pengaruh media sosial dan gaya hidup.Ada sekitar 9.000-an kasus cemburu.

Tidak sedikit bermula dari kemajuan teknologi, yakni jalinan melalui media sosial. Sementara itu, berdasarkan data Pengadilan Agama Kota Batam, hingga 10 Maret 2016 sudah terdaftar 416 perkara. Sedangkan Maret tahun lalu hanya 118 perkara cerai gugat. Perselingkuhan yang diawali dengan perkenalan di media sosial juga menjadi pemicu gugatan cerai dari salah satu pasangan suami istri di Batam.

Kejahatan juga banyak terjadi difasilitasi pertemanan di media sosial. Kejahatan pemerkosaan dengan tipu daya terhadap remaja putri oleh kenalannya di media sosial jumlahnya bertambah setiap tahun. Kecanduan media sosial pun membuat angka kecelakaan meningkat. Di Jakarta, misalnya. setiap hari sekitar 3 orang meninggal dunia akibat kecelakaan dan selama setahun sekitar 1.000 orang.

Angka pada 2010 ini disebutkan sudah melebihi korban perang. Lebih dari 30% kecelakaan lalu lintas di Jakarta disebabkan menggunakan telepon genggam. Konsentrasi pengemudi terpecah. Lalu apa yang harus dilakukan ketika menyadari bahwa telah memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap media sosial? Nuning menyebutkan, ada baiknya berani mengakui telah memiliki masalah berupa ketergantungan yang tinggi terhadap media sosial.

Mencoba menguraikan mengapa kita begitu tergantung pada media sosial, apa yang menyebabkannya. Mencoba mencari solusi atas penyebab ketergantungan pada media sosial. Sebagai terapi, kita bisa menonaktifkan notifikasi media sosial. Apabila notifikasi off tidak juga berhasil mengurangi akses terhadap media sosial, coba untuk menghapus aplikasi tersebut dari gadget.

Dia juga menyarakan agar membuat jadwal untuk mengakses media sosial, mencari aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatian dari media sosial. Pilihan terakhir yang dapat dilakukan adalah memblok aplikasi media sosial dan berhenti mengakses media sosial untuk beberapa waktu.

Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo Ismail Cawidu mengatakan, berangkat dari fenomena social media addictini, Kominfo melancarkan program InternetSehat. Didalamnya disampaikan pesan agar bijak menggunakan media sosial, baik untuk alasaan efesiensi maupun agar terhindar dari perbuatan yang dilarang sebagaimana diatur dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

”Disamping program Internet sehat, Kominfo juga memiliki program media literasi, yang mengajarkan masyarakat berkomunikasi di ruang publik dan bagaimana menyikapi setiap pemberitaan media agar mereka lebih cerdas,” kata Ismail. Dalam program tersebut terkandung pesan-pesan bagaimana menggunakan media sosial secara efektif.

hermansah