Edisi 17-04-2016
Proporsional, Taat Norma dan Etika


Psikolog klinis dan forensik, Kasandra Putranto, mengungkapkan, kebutuhan masyarakat terhadap internet dan gadget saat ini sangat tinggi, salah satu penyebabnya adalah bergantungnya masyarakat terhadap media sosial.

Meskipun memiliki banyak manfaat, penggunaan berlebihan media sosial tentu menimbulkan dampak negatif. ”Interaksi langsung antarmanusia berkurang sehingga kualitas hubungan sosial bermasyarakat menurun,” katanya. Hal ini diperparah maraknya pelanggaran nilai dan norma lewat media sosial. Pihak-pihak tidak bertanggungjawab pun banyak yang berupaya menggiring opini masyarakat melalui media sosial.

”Sifat dasar dari gadget dan internet yaitu menghubungkan dunia tanpa batas. Kita bisa mengakses segala sesuatu dengan mudah dan tanpa hambatan. Lalu apa penyaringnya? Yang paling pertama adalah kesadaran dari individu itu sendiri,” tegas Kasandra. Menurutdia, normanormatifbisa membatasi diri untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu, termasuk di media sosial.

Kontrol diri. Kasandra juga menggambarkan bahwa gejala ketergantungan masyarakat terhadap gadget karena mengakses media sosial sudah mengkhawatirkan. ”Sebenarnya fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di banyak negara. Di mana-mana orang selalu menunduk memainkan gadget. Itu karena semua aplikasi bisa berada dalam satu genggaman,” katanya.

Dia menekankan, dengan berbagai kemudahan ini, kita perlu terus mengingatkan diri dan orang-orang di sekitar kita agar segala hal yang dilakukan dengan gadget perlu dikerjakan secara proporsional. Seimbangkan porsi. Mengenai penanganan terhadap orang yang kecanduan media sosial, Kasandra menjelaskan bahwa hal itu harus sesuai dengan psikodinamika dan diagnostiknya.

Proses pendampingan sangat penting dilakukan oleh ahli yang kompeten dalam bidangnya. Bagi mereka yang telah mencapai tahap ketergantungan tinggi terkadang perlu penanganan psikofarmakologi, selain penanganan dari psikolog. ”Teknik aktivasi perilaku baru tampaknya cukup berhasil menurunkan kecanduan media sosial dan memperbaiki pola kehidupan seseorang. Meskipun begitu tetap lebih baik mencegah daripada memperbaiki,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, pemikir sosial yang juga pakar semiotika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yasraf Amir Piliang mengungkapkan, norma dalam berinteraksi di media sosial tak jauh berbeda dengan dunia nyata. Bahkan setiap pengguna bisa memilih untuk membuka dan menutup akses informasi yang diberikan. Meski begitu dia tak menampik potensi buruk yang bisa terjadi dengan layanan tersebut.

”Di sinilah perlunya kebijakan para pengguna media sosial karena tanpa kehati-hatian bisa saja informasi atau hal-hal privasi bisa tersebar dengan mudah,” tuturnya. Disinggung tentang penelitian terbaru yang menyoroti perilaku kecanduan terhadap media sosial, Yasraf mengatakan pihaknya belum melakukan dan menemukan penelitian lebih lanjut tentang hal tersebut.

Namun dia menegaskan penggunaan media sosial di Indonesia belum diiringi dengan kesiapan budaya hukum dan etika. ”Kajian kami lebih ke kualitatif, jadi kami tak melakukan pendekatan data statistik dalam perilaku kecanduan terhadap media sosial,” tandasnya.

robi ardianto/