Edisi 17-04-2016
Perlu Intervensi Sosial dari Pemerintah


Perkembangnya teknologi informasi saat ini, membuat masyarakat semakin bergantung dengan akses data, internet dan telepon pintar.

Pengamat sosial dan budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengungkapkan, filosofi awal teknologi informasi adalah mempermudah aktivitas demi peningkatan produktivitas masyarakat. Namun, pemanfatan teknologi informasi yang berlebihan bahkan disalahgunakan justru membuat kehidupan nyata menjadi kacau. Konflik dan kriminalitas meningkat.

Mulai dari cek cok rumah tangga, perceraian, hingga bentrokan massa. Mulai dari penculikan hingga pemerkosaan dan pembunuhan bisa dipicu oleh penyalahgunaan media sosial. ”Ini semua disebabkan kecanduan penggunaan gadget dan media sosial. Padahal perangkat TI ini sebenarnya bermanfaat sangat positif bila digunakan proporsional,” terang Devie.

Dia menambahkan, kecanduan terhadap media sosial dan games online masuk dalam salah satu poin penyimpangan penyalahgunaan internet. Penggunaan internet pribadi yang mencapai lebih dari 18 jam sehari atau 42 jam seminggu, bisa di kategorikan sebagai tindak kecanduan atau penyimpangan. Ada dua aspek yang akan timbul dari kecanduan terhadap gadget, media sosial, ataupun game online.

Pertama, aspek kesehatan seperti sakit mata, nyeri punggung, dan berbagai penyakit lainnya lantaran mata iritasi selalu berhadapan dengan layar dan terlalu banyak duduk. Kedua, aspek sosial. Kecanduan terhadap internet bisa menghilangkan kemampuan komunikasi sosial dalam kehidupan nyata, mengurangi produktivitas kerja, sekolah, dan lainnya.

”Gejala kecanduan media sosial bisa dirasakan apabila seseorang merasa gelisah belum update status atau belum mengganti foto profilnya dalam sehari,” ungkap Devie. Dia mengakui, di Indonesia belum ada penelitian oleh institusi pemerintah untuk mengetahui kecenderungan masyarakat dalam menggunakan gadget, media sosial, games online, ataupun dalam mengakses internet. Ini berbeda jauh dengan di Korea Selatan.

Pemerintah Negeri Ginseng itu telah melakukan intervensi atas penggunaan internet karena muncul gejala kecanduan games online. ”Di sana, ada aturan jam di mana anak-anak dilarang mengakses internet. Ini bentuk intervensi sosial dari otoritas,” tutur Devie. Dia mengatakan, di Indonesia, pengawasan orang tua terhadap anak dalam pemakaian gadget sangat diperlukan agar penyimpangan penyalahgunaan media sosial, games online dan lainnya bisa dihindari.

Durasi mengakses internet untuk anak-anak jangan sampai lebih dari dua jam dalam sehari. Lebih dari itu berbahaya karena bisa mengakibatkan kecanduan. Karena menjadi contoh, orang tua diharapkan tidak banyak menggunakan gadget di depan anak-anak mereka. Sebisa mungkin, minimalisasi menggunakan ponsel di rumah.

Sementara itu, sosiolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Ganjar Kurnia memperkirakan, kecanduan media sosial lebih disebabkan kekurangpahaman masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah tingkat pendidikan serta kurangnya sosialisasi berinternet yang sehat dari pemerintah.

Padahal, jika penggunaannya bisa lebih diarahkan kepada hal positif, dampaknya akan sangat baik bagi perkembangan masyarakat. ”Dalam beberapa hal, penggunaan jejaring sosial harus melihat substansinya,” kata mantan rektor Unpad ini.

Aplikasi Parental Control

Salah satu upaya antisipasi dari dampak negatif berinternet/media sosial adalah memasang aplikasi yang bisa mengontrol penggunaan baik dari sisi konten maupun waktu oleh orang tua. Salah satunya adalah aplikasi Kakatu. Co Founder dan CEO Kakatu, Muhammad Nur Awaludin, menjelaskan, Kakatu menjadi satu-satunya aplikasi parental control dari Indonesia. Ini berawal dari pengalaman pribadi pendirinya yang melihat keponakan bermain games terus menerus.

Aplikasi ini memiliki misi agar bisa membantu menghindarkan anak dari kecanduan games dan konten pornografi di internet. Akhirnya muncullah Kakatu sebagai salah satu aplikasi di Android untuk memproteksi smartphone atau tab anak agar aman digunakan. Ada tiga manfaat yang dimiliki Kakatu, yakni memilih aplikasi yang bisa digunakan anak. Aplikasi yang tidak dipilih otomatis diblok.

Kemudian membatasi waktu. Ketika waktu habis, maka ponsel akan terkunci otomatis. Selanjutnya adalah memantau aktivitas anak di gadgetnya dari riwayat penggunaan. ”Aplikasi Kakatu dapat diunduh secara gratis di Android Play Store. Hingga saat ini, sekitar 200.000 orang tua sudah menggunakan Kakatu,” sebut Nur. Selain Kakatu, ada juga aplikasi Kids Palace.

Aplikasi yang berbentuk launcher ini memberikan keleluasaan penuh kepada orang tua dalam mengatur gadget anak. Aplikasi parental control ini juga bisa membatasi anak agar tidak mengunduh aplikasi lainnya yang tidak sesuai dengan pengaturan. Aplikasi ini tersedia gratis di Playstore.

robi ardianto