Edisi 17-04-2016
Gempa Susulan Tewaskan Puluhan Orang


MASHIKI – Gempa susulan berkekuatan 7,3 Skala Richter kembali mengguncang Prefektur Kumamoto, Pulau Kyushu, Jepang, kemarin. Sedikitnya 32 orang tewas dan puluhan lainnya ditengarai tertimbun reruntuhan.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengungkapkan, setidaknya 80 orang diyakini terperangkap di puingpuing bangunan yang hancur. Jumlah itu dapat bertambah karena kerusakan terus didata. Media Jepang NHK melaporkan sejumlah orang menjadi korban karena terjebak bangunan panti jompo di Mashiki yang ambruk. Puluhan orang juga diyakini tertimpa reruntuhan Asrama Tokai University di Kota Minamo-Aso.

Hingga kini tim pencari berhasil mengevakuasi dua korban tewas dari bangunan tersebut. ”Kami sudah diberi tahu ada beberapa titik di mana terdapat sejumlah orang terperangkap reruntuhan,” kata Suga seperti dikutip AFP kemarin. ”Polisi, petugas pemadam kebakaran, dan pasukan Self Defence Force Jepang melakukan semua upaya untuk menyelamatkan para korban,” tambah Suga.

Jepang selatan dinyatakan dalam kondisi darurat bencana level tinggi menyusul gempa 7,3 SR sekitar pukul 01.25 waktu setempat kemarin. Badan Meteorologi Jepang merevisi kekuatan guncangan gempa itu dari sebelumnya 7,1 SR. Gempa tidak hanya menghancurkan bangunan permukiman dan infrastruktur, tetapi juga diikuti erupsi Gunung Aso.

Gumpalan asap setinggi 100 meter terlihat muncul dari gunung berapi tersebut berdasarkan video yang diambil saksi. Badan Meteorologi Jepang menyatakan letusan tersebut masuk dalam kategori skala kecil. Meski begitu, mereka memutuskan untuk mempertahankan tingkat siaga pada level 2. Jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 32 orang dan ribuan lain terluka.

Guncangan gempa yang terjadi pada dini hari itu mengakibatkan banyak orang terlempar dari tempat tidurnya, jalanan menjadi gelap gulita karena aliran listrik langsung terputus. Banyak bangunan runtuh, termasuk sebuah bangunan asrama universitas. ”Awalnya saya merasakan guncangan yang cukup kuat, kemudian saya terlempar, rasanya saya seperti berada di dalam mesin cuci,” ucap seorang mahasiswa Universitas Tokai kepada NHK seperti dilansir Reuters.

Gempa kali ini juga menghancurkan kantor pemerintahan Kota Uto dan bangunan lainnya. ”Jumlah korban tewas mencapai 32 orang,” tutur Yumika Kami, juru bicara Pemerintah Prefektur Kumamoto, kepada AFP . Pemerintah Jepang dalam pernyataannya mengatakan, sekitar 422.000 rumah tangga tidak mendapat air bersih dan sekitar 100.000 lainnya tanpa aliran listrik.

Tentara mendirikan banyak tenda darurat untuk menampung para korban dan truk berisi pasokan air bersih segera didatangkan ke lokasi sekitar gempa. ”Diprediksi akan datang angin kencang disertai dengan hujan lebat. Operasi penyelamatan pada malam hari akan semakin berat,” ujar Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. ”Namun banyak orang yang menunggu pertolongan.

Sementara prioritas utama pada keselamatan manusia,” sambung Abe dalam rapat darurat kabinet. Tim SAR Jepang menyatakan sekitar 70.000 orang telah dievakuasi, termasuk 300 orang yang tinggal dekat bendungan karena dikhawatirkan dapat runtuh seketika. Sebelumnya terjadi gempa di Jepang pada Kamis (14/4) dengan kekuatan 6,2 SR menewaskan sembilan orang.

Sementara itu, sesuai informasi dari KBRI Tokyo, terdapat dua mahasiswa Indonesia yang terluka. Keduanya telah mendapatkan perawatan medis dan kondisinya berangsur pulih.

arvin