Edisi 19-04-2016
Ruang Berkarya dalam Berbagai Bentuk


HADIR layaknya sebuah media sosial, Sinekdok mengkhususkan dirinya sebagai media untuk berbagi kreativitas dan menuangkan ekspresi lewat karya tulis maupun audio.

“Sinekdok adalah media sosial tempat menuangkan ekspresi dan kreativitas dalam bentuk teks dan suara. Dapat berbentuk cerita fiksi, perjalanan, biografi, essay, kata motivasi, puisi, sejarah, budaya, catatan harian, dan lainlain,” ungkap Shofa, pendiri Sinekdok. Ada dua hal yang melatarbelakangi Shofa menciptakan Sinekdok. Pertama, karena keprihatinan terhadap menurunnya minat baca tulis di tanah air dan komunitasnya.

“Minat baca tulis masyarakat Indonesia di bidang sastra terus menurun,” ungkapnya. Alasan kedua lebih kepada kurangnya komunitas menulis yang mencakup daerah-daerah di Indonesia. Begitu pun adanya jarak antara penulis dengan penerbit. Sinekdok sendiri dibuat sebagai jawaban dua hal tadi. Shofa mengaku sudah mengembangkan Sinekdok sejak 2014 dan terus melakukan brainstroming untuk dapat merangkul pihak penerbit di Indonesia supaya ikut mendukung solusi atau layanan yang dihadirkan Sinekdok.

Pada awal 2016, Sinekdok resmi dirilis dan dapat di akses via web dengan tampilan yang seperti memadukan Facebook dan Tumblr. Walau seperti media sosial, Sinekdok tidak memiliki fitur pertemanan layaknya media sosial. Maksudnya, siapa pun pengguna Sinekdok dapat melihat langsung karya tulis maupun audio yang diunggah oleh siapa pun di lini masa. Justru disediakan fitur “subscribe” sehingga seorang pengguna dapat terus update terhadap karya-karya yang diunggah oleh pengguna lain.

Untuk mengapresiasi pengguna, selain tersedia fitur subscribe juga ada fitur “love” dan “read/listen” dimana karya yang kita sukai dapat kemudian disimpan untuk dibaca atau didengar di lain waktu. “Mereka yang mendapatkan banyak apresiasi ‘love’ akan kami rekomendasikan karyanya ke pihak penerbit yang telah bekerja sama dengan kami. Salah satunya Elex Media Komputindo. Selain itu juga akan tersedia Sinestore di mana karya dapat dicetak ke beragam media atau produk. Nanti mereka kita beri royalti dari setiap penjualan,” beber Shofa.

Shofa menyebutkan bahwa mayoritas pengguna Sinekdok adalah anak muda berusia 17 tahun-30 tahun. Untuk saat ini, page view Sinekdok sendiri berkisar antara 10 ribu bulan dengan sekitar 1.200 karya yang terdiri dari tulisan dan suara. Untuk model bisnis, nantinya mereka menggunakan iklan dan Sinestore. Meski, saat ini Shofa mengaku masih akan fokus kepada merangkul pengguna sebanyak-banyaknya terlebih dahulu.

”Kami optimistis market Sinekdok terus berkembang. Hal ini dilihat dari bertambahnya perhatian pemerintah dalam meningkatkan minat baca tulis serta pertumbuhan pengguna internet Indonesia yang mencapai 88 juta. Belum lagi perilaku netizen Indonesia yang menyukai media sosial ketika berselancar di dunia maya. Seringnya mereka ingin mengekspresikan perasaan maupun kreativitas lewat beragam bentuk,” ungkap Shofa.

Ke depannya Shofa berencana membawa Sinekdok ke dalam bentuk aplikasi di smartphone dan melakukan kopi darat dengan pengguna Sinekdok di berbagai daerah sebagai langkah edukasi dan mendorong pengguna terus berkreasi.

Cahyandaru kuncorojati