Edisi 19-04-2016
Smart City di Indonesia Tidak Merata


KONSEP smart city terus digemakan di berbagai kota dan negara di dunia, termasuk Indonesia. Tapi, gambaran kota masa depan itu masih jauh dari penerapannya yang belum merata di berbagai sektor.

Berdasarkan paparan yang diberikan oleh lembaga riset internasional IDC (International Data Corporation), ketertarikan pemerintah Indonesia untuk mendorong terciptanya smart city di berbagai kota kian terlihat meningkat dengan adanya pengembangan smart city roadmap 2025. Bahkan pemerintah Indonesia sudah mengalokasikan dana sampai lebih dari USD420 miliar pada proyek-proyek infrastruktur, misalnya telekomunikasi untuk lima tahun ke depan.

“Ada beberapa hal yang sekiranya mendesak mengapa Indonesia harus segera menerapkan smart city di kota-kotanya. Antara lain tingkat urbanisasi yang terus meningkat, sementara stok sumber daya penunjang sebuah kota terus berkurang. Disisi lain kota menjadi penyumbang GDP (produk domestik bruto) terbesar ke negara. Nah di situlah smart city harus diwujudkan,” ungkap Sudev Bangah, Country Manager IDC untuk Indonesia dan Filipina.

Teknologi Sebagai Pemecah Masalah

Kendati urbanisasi mendesak sebuah kota untuk bertumbuh besar, namun urbanisasi pula yang membawa beragam problem terhadap suatu kota. Mulai dari infrastruktur penunjang, kemacetan lalu lintas, sumber daya listrik, sumber air bersih, serta layanan publik lain seperti kesehatan serta sanitasi, keamanan publik, dan pendidikan.

“Meski pemerintah Indonesia sudah menunjukkan aksi nyata dalam mewujudkan smart city, namun problemnya adalah mereka hanya berfokus di satu sektor dan belum mencakup semua permasalahan yang ada di kota,” tandas Sudev. Menurutnya, perkembangan IT justru bukan solusi atas permasalahan perkotaan di Indonesia melainkan sebagai enabler dari terwujudnya smart city yang akan diimplementasikan.

“Jadi bukan teknologi tercanggih yang harus segera diadopsi namun bagaimana teknologi tersebut memudahkan kita menciptakan solusi atas sebuah masalah perkotaan. Intinya pemerintah dan segenap stakeholder harus turun tangan bersama,” ungkap Sudev. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh IDC, Sudev memaparkan bahwa sebagian besar proyek smart city dimulai oleh otoritas lokal atau regional yang ujungnya mengalami kendala dalam operasionalnya karena terbatasnya komunikasi antara pusat dan lokal.

“Data yang kami dapat mengenai proyek smart city dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar masih memiliki prioritas yang berbeda-beda dalam mewujudkan smart city,” ucap Sudev.

Cahyandaru kuncorojati