Edisi 27-04-2016
Gaya Memimpin Ahok Picu Disharmoni Birokrasi


JAKARTA – Gaya kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang cenderung menyalahkan bawahan seperti dialami mantan Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi dinilai menjadi penyebab ketidakharmonisan pemerintahan DKI Jakarta.

Banyak pejabat atau pegawai menjadi tak berani bertindak kritis dan melakukan terobosan karena khawatir justru dijadikan kambing hitam oleh Ahok. Imbasnya, situasi birokrasi menjadi tidak kondusif. Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Inggard Joshua mengungkapkan, indikasi tidak kondusifnya pemerintahan itu diperkuat dengan rendahnya penyerapan anggaran.

”Ini pasti mengganggu pembangunan,” ujar dia kemarin. Pengamat politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan, seorang pemimpin itu harus berani bertanggung jawab apabila ada anak buahnya yang salah. Keberanian memikul tanggung jawab itu penting, apalagi dalam organisasi birokrasi pemerintahan.

Untuk itu, kata Emrus, kepemimpinan Ahok yang kerap menyalahkan hingga berakibat pengunduran diri anak buahnya merupakan cerminan sikap pemimpin yang haus kekuasaan. Emrus menjelaskan, dalam teori komunikasi, orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain pasti memiliki tujuan.

Dalam birokrasi pemerintahan, kata dia, ada dua tujuan komunikasi pemimpin, yakni untuk kepentingan masyarakat atau kepentingan kekuasaan semata. Kalau tujuannya kekuasaan, lanjut Emrus, yang terjadi arogansi, merasa lebih hebat sendiri dan memandang orang lain di matanya salah.

Adapun bila bertujuan untuk masyarakat, pemimpin pasti akan berintrospeksi apabila ada masalah dalam kebijakannya. ”Teori ikan busuk itu dari kepala. Bukan dari buntut ke badan dan ke kepala. Jadi kalau ada buntut dan badannya bermasalah, pasti kepalanya yang busuk,” ungkapnya.

Dukung Rustam Mundur

Keputusan Rustam Effendi yang memilih melepaskan kursi wali kota Jakarta Utara dinilai sejumlah kalangan sudah tepat. Dukungan terhadap Rustam juga terus mengalir. Kemarin Rustam disambut baik oleh sejumlah kelompok masyarakat di kantornya. Dari pantauan KORAN SINDO, sejak pagi masyarakat dari berbagai elemen mendatangi Kantor Wali Kota Jakarta Utara.

Mereka yang kebanyakan warga gusuran dari sejumlah wilayah setia menunggu kedatangan Rustam. Sekitar pukul 09.00 WIB, dua spanduk berukuran 4 x 2 meter berisikan kecaman tentang Ahok dibentangkan, tepat saat Rustam memasuki ruang rapat yang dihadiri sejumlah pejabat, mulai dari kasudin, camat hingga lurah dan lainnya.

Kedatangan Rustam itu langsung disambut teriakan histeris oleh sejumlah warga yang langsung menyanyikan yel-yel mendukung Rustam serta menyerukan makian kepada Ahok. Rustam kemudian menggelar rapat tertutup dengan para camat dan lurah. Rapat berlangsung singkat, kurang dari 20 menit.

Tak lama kemudian, Rustam kemudian keluar dengan didampingi pejabat utama seperti wakil wali kota, sekretaris kota maupun para asistennya. Kepada wartawan, Rustam mengaku keputusannya untuk mundur dari jabatannya dilakukan secara sadar. Sebagai wali kota, kinerjanya dinilai masih kurang memuaskan di mata gubernur, karenanya dia berinisiatif untuk mundur.

”Jadi tidak ada kaitannya dengan Pak Yusril (Yusril Ihza Mahendra yang berencana maju sebagai calon gubernur). Yang jelas, saya masih PNS, tapi bukan lagi sebagai wali kota. Apa pun jabatan ke depannya, biar BKD yang menentukan,” ucapnya. Soal kegemarannya bermain golf, Rustam tak menampik akan hal itu. Menurutnya kegemaran itu juga sudah diketahui pasti oleh Gubernur dan dia mendapatkan restu untuk melakukan kegemarannya dua kali dalam sebulan.

”Kalau kemarin yang saya tulis di medsos, itu memang curhatan hati saja,” tuturnya. Dengan pengunduran dirinya kemarin, Rustam berharap kekisruhan dan kebisingan yang terjadi selama beberapa hari terakhir selesai. Ia pun menyarankan kepada pejabat yang meneruskan jabatannya nanti agar melanjutkan beberapa pekerjaan rumah yang belum selesai.

”Saya cuman butuh kenyamanan saja,” sebutnya. Menurut Ketua KAHMI Jakarta Utara Jamran, kondisi pemerintahan di DKI di bawah kepemimpinan Ahok sudah sangat buruk. Selain menciptakan iklim tidak kondusif, kekisruhan yang terjadi di Jakarta tidak lepas dari tutur kata Ahok yang dinilai arogan dan tendensius.

”Makanya, bohong kalau bilang kinerja Pak Rustam jelek, kapasitas dan kapabilitas beliau sudah sangat baik. Kinerjanya jangan ditanyakan, dia cukup bersih dan tidak bermain,” ujar Jamran yang juga merupakan Ketua KONI Jakarta Utara kemarin. Penertiban kawasan seperti kolong tol Soedatmo, Wiyoto Wiyono hingga yang terakhir Luar Batang, kata Jamran, mampu diselesaikan Rustam tanpa menimbulkan konflik.

Kalaupun molor dari jadwal , itu terjadi karena Rustam ingin memastikan warga yang dipindahkannya dapat hidup layak. Karena rusunawa yang dijadikan tempat penampungan warga belum tersedia. Melihat hal itu, Jamran dan sebagian warga mendukung sepenuhnya langkah Rustam untuk mengundurkan diri.

Lius Sungkarisma, salah seorang warga Glodok, Taman Sari, Jakarta Barat, sengaja datang jauh-jauh dari Jakarta Barat untuk mendukung langkah Rustam. Pengusaha elektronik ini bahkan rela meninggalkan tokonya untuk mendukung kebijakan Rustam. Dia juga mendesak pemerintah pusat turun karena DKI menjadi barometer pemerintahan di Indonesia. Dia sangat yakin gaya kepemimpinan Ahok yang arogan akan diikuti pemerintah daerah.

Ahok Klaim Pembangunan Lebih Cepat

Ahok membantah keras jika birokrasi di lingkungan Pemprov DKI tidak kondusif. Dia mengklaim dalam pelayanan rumah sakit misalnya kini masyarakat menjadi lebih mudah. ”Dari saya jadi wakil gubernur banyak ancaman bila memecat eselon II, semuanya akan mundur. Nyatanya nggak mundur.

Suasana kondusif,” ungkapnya. Mantan Bupati Belitung Timur itu pun menegaskan bahwa pergantian pejabat di lingkungannya selama ini untuk mengatasi permasalahan dan mempercepat pembangunan. Ketua DPD organisasi Musyawarah Kekeluargaan Gotong- Royong (MKGR) DKI Jakarta Basri Baco menyarankan agar Gubernur Ahok memperbaiki etika berkomunikasi, tata krama, dan mengendalikan emosinya.

Hal itu pun disampaikan langsung oleh dirinya ketika sejumlah pengurus MKGR menemui Gubernur Ahok di Balai Kota Selasa kemarin. Sementara itu kritikan Ahok terhadap mantan Ketua MPR Amien Rais mendapat respons keras dari sejumlah kader PAN.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP PAN Saleh Partaonan Daulay menilai pernyataan dan sikap Ahok dalam menanggapi kritik yang disampaikan Amien Rais sangat berlebihan dan melampaui batas kewajaran. Pernyataan tersebut sekaligus membenarkan pendapat yang berkembang selama ini bahwa Ahok adalah pejabat yang antikritik dan ingin benar sendiri.

”Pernyataan dan sikap itu juga sekaligus pembenaran terhadap pernyataan Amien Rais bahwa Ahok tidak pantas menjadi pemimpin,” ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Dia menilai ketidaknyamanan banyak orang terhadap sikap Ahok dan pernyataanpernyataannya tidak hanya dirasakan masyarakat awam.

Para pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI juga merasakan. Terbukti, ada banyak yang mengundurkan diri. Yang terakhir, Wali Kota Jakarta Utara mengundurkan diri konon karena tersinggung dengan ucapan Ahok. ”Ahok ini pakai jurus mabuk. Kiri kanan muka belakang salah. Yang benar hanya satu, itu adalah Ahok,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan politikus PAN lainnya Muslim Ayub. Dia menilai respons yang disampaikan Ahok atas kritik tersebut sangat tidak sopan dan tidak bermoral. Sangat tidak pantas seorang pemimpin daerah menanggapi kritikan dengan menghina pribadi orang yang mengkritik.

Ini menandakan Ahok seperti orang mabuk yang kehilangan akal sehat, menyerang membabi buta, tanpa tahu apa yang diucapkan benar atau salah. ”Sebagai seorang pemimpin, Ahok harus bisa mendengar dan menerima kritik atas kinerjanya. Jangan egois, menganggap hanya diri sendiri yang benar, sementara orang lain salah,” ujar anggota Komisi III DPR itu.

bima setiyadi / yan yusuf/kiswondari

Berita Lainnya...