Edisi 27-04-2016
Dana Desa Bisa Sejahterakan Petani


JAKARTA - Indonesia sedang mengampanyekan kedaulatan pangan, namun di sisi lain hakhak mendasar petani masih saja dilanggar. Seperti saat panen, harga gabah malah jatuh.

Tapi jika tidak panen, harganya justru melambung tinggi. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Marwan Jafar mengatakan, petani banyak yang mengalami pelanggaran hak-haknya. Selain persoalan harga gabah, akses atas air maupun benih juga sulit dijangkau hanya karena petani selalu dianggap bodoh.

”Akses dan pengawasan atas tanah dan air dan harga belum ada perlindungan. Belum lagi masalah kekeringan, kebakaran hutan adalah masalah yang menerpa petani Indonesia selama bertahun-tahun. Nasib petani pun semakin terpinggirkan,” katanya pada Regional Consultation Training and Meeting of La Via Campesina Collectives-Right of Peasant and Other People Working in Rural Areas di Wisma PKBI Jakarta kemarin.

Agar kehidupan petani semakin sejahtera, Marwan mendorong, asosiasi petani untuk memperluas jaringan, baik di sektor domestik maupun dengan jaringan negaranegara sahabat. Selain itu, memperluas konsolidasi sosial karena petani banyak mengalami konflik horizontal antara masyarakat dengan korporasi.

”Saya juga mendorong adanya gerakan perekonomian yang bisa menyejahterakan dan memajukan petani di era peradaban modern seperti saat ini,” bebernya. Menurut dia, program dana desa dapat dimanfaatkan meningkatkan kesejahteraan kaum petani. Dukungan sarana, seperti irigasi air yang layak, kondisi jalan yang baik, diharapkan mampu menjadi solusi bagi kaum petani dalam melakukan proses produksi dan distribusi secara mandiri.

Selain itu, ada nilai tambah komoditas hasil pertanian melalui pendirian badan usaha milik desa (BUMDes) yang akan meningkatkan posisi tawar ekonomi masyarakat desa secara keseluruhan. ”Kita juga mendukung untuk pengembangan produk unggulan di 3.500 Desa Mandiri.

Mengingat sebagian besar potensi ekonomi desa berbasis di bidang pertanian, produkproduk pertanian berpeluang dipromosikan sebagai produk unggulan desa,” tandasnya. Selain itu, Kemendes menurut Marwan, juga mempunyai program untuk penyaluran modal bagi koperasi atau UMKM di 5.000 desa. Selama ini, kendala yang dihadapi petani adalah keterbatasan akses finansial.

Sementara itu, Kepala Dinas KehutananKepulauanMeranti, Riau Mamun Murod menjelaskan, Indonesiamemilikiwilayah pesisir yang identik dengan rawa, gambut dan kandungan air asin seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap sagu yang bersifat adaptif dan membutuhkan sedikit perawatan dalam budi dayanya.

Kepulauan Meranti yang terletak di pesisir timur Pulau Sumatera adalah salah satu Kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan Nasional. Saat ini perkembangan konsesi sagu rakyat di kepulauan ini mencapai kurang lebih 42.000 hektare (ha) pada 2016.

neneng zubaidah

Berita Lainnya...