Edisi 27-04-2016
Pemuda Perindo Siap Terdepan Perangi Narkoba


JAKARTA - Kondisi Indonesia yangmenyandangstatusdarurat narkotika mau tak mau harus direspons dengan langkah tegas, baik oleh penegak hukum maupun elemen masyarakat.

Kerja sama diperlukan untuk memerangi peredaran narkotika yang sudah merambah ke semua lapisan usia dan strata. Ketua Umum DPP Pemuda Perindo Effendy Syahputra mengatakan narkotika yang sudah masuk kategori kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime ) tidak bisa disikapi dengan biasa-biasa saja.

Hukuman berat diperlukan agar muncul efek jera. ”Harus tegas dan saya nyatakan Partai Perindo akan melakukan perang terhadap narkotika,” ujar Effendy saat menjadi pembicara diskusi bertema ”Ancaman Terorisme dan Narkoba terhadap Peradaban Umat Muslim di Indonesia” yang digagas Himpunan Mahasiswa Islam( HMI) diJalanSultanAgung, Guntur, Jakarta, kemarin.

Effendy juga mendukung revisi terhadap Undang-Undang (UU) Nomor 35/2009 tentang Narkotika agar menyesuaikan perkembangan zaman. Apalagi sudah banyak bermunculan jenis narkotika baru yang belum masuk dalam daftar obat-obatan terlarang yang dikonsumsi publik. ”

Harus ada perlindungan nyata terhadap generasi muda, karena yang banyak disasar oleh narkotika ini adalah pemuda,” kata Effendy. Effendy mengajak HMI yang memiliki pengurus cabang di banyak daerah agar ikut memerangi narkotika dan berperan menyadarkan masyarakat akan bahayanya obat terlarang itu.

Terkait oknum petugas penegak hukum yang akhir-akhir ini banyak terlibat kasus narkotika, Effendy menyarankan agar institusi tempat oknum bernaung melakukan reformasi yang sungguhsungguh. Bahkan vonis hukuman mati bagi para pelaku narkotika, khususnya bandar, menurut Effendy sangat diperlukan.

Pemerintah tidak boleh kalah dengan tekanan pihak mana pun dalam menjalankan vonis hukuman mati tersebut. Ketua Pemberdayaan dan Pelayanan Gerakan Nasional Antinarkotika (Granat) Brigjen Pol Purn Simson Sugiarto mengatakan banyak faktor yang menyebabkan peredaran dan penyalahgunaan narkotika di masyarakat masih masif. Salah satunya adalah penegakan hukum yang belum berjalan maksimal, ditambah UU yang memiliki sejumlah kelemahan.

”Masih ada kegamangan, di satu sisi UU ini (Pasal 4) mengatakan bahwa ada ketersediaan narkotika karena itu untuk kesehatan dan sebagainya. Tapi di sisi lain aparat juga harus melindungi warga masyarakat dari penyalahgunaan narkoba,” kata Simson.

Granat mengajak masyarakat untuk proaktif melapor apabila menemukan keganjilan di lingkungan sekitarnya yang kemungkinan berkaitan dengan narkoba. Sementara itu dosen pengajar pada Universitas Kristen Indonesia (UKI) Sidratahta Mukhtar mengatakan, perang terhadap narkoba memang hanya dapat dilakukan dengan kerja sama.

Serupa terorisme, narkoba juga memiliki jaringan untukmenyerangkelompokatau tempat tertentu sebagai tujuannya. ”Jaringan narkotika hanya dapat dilawan dengan jaringan (masyarakat) juga,” katanya. Khusus untuk pemuda, dia menyarankan menjaga pergaulan agar tidak mudah terbawa arus dan terjerumus dalam lingkar narkoba.

dian ramdhani

Berita Lainnya...