Edisi 27-04-2016
Prancis Rebut Tender Kapal Selam Australia


SYDNEY– Prancis mengalahkan Jerman dan Jepang dalam tender 12 kapal selam Angkatan Laut (AL) Australia senilai USD40 miliar (Rp536,31 triliun).

Tender kapal selam itu menjadi salah satu proyek militer paling prestisius di dunia yang diperebutkan perusahaan pertahanan dari negara maju. Kemenangan perusahaan milik Pemerintah Prancis, DCNS, diumumkan langsung Perdana Menteri (PM) Malcolm Turnbull. Kemenangan Prancis menjadi tekanan kuat bagi PM Jepang Shinzo Abe yang berusaha meningkatkan kemampuan ekspor sebagai bagian agenda keamanan global.

”Rekomendasi dari proses evaluasi kita menunjukkan tawaran Prancis mewakili kemampuan terbaik yang sesuai dengan kebutuhan unik Australia,” kata Turnbull kemarin di Adelaide, Australia Selatan, di mana kapal selam Shortfin Barracuda akan diproduksi.

Dia mengatakan, produksi 12 kapal selam oleh DCNS itu menjadi kontrak pertahanan terbesar Australia yang akan menghasilkan kekuatan laut yang paling hebat di dunia. ”Ini akan menjadi momen perjuangan nasional,” imbuhnya, dikutip AFP .

Australia meningkatkan belanja pertahanan untuk melindungi kepentingan strategis dan perdagangan di Asia Pasifik. Apalagi, Negeri Kanguru merupakan aliansi Amerika Serikat (AS) yang sangat khawatir dengan pertumbuhan militer China. Pengamat industri sebelumnya memprediksi pengumuman tender akan dilaksanakan setelah pemilu yang dipercepat pada 2 Juli mendatang.

Pengumuman kontrak jelang pemilu itu beraroma politik. Pasalnya, kontrak itu berdampak langsung dengan ribuan pekerjaan di industri perkapalan di Australia Selatan. Itu juga berkaitan dengan upaya pemerintahan PM Turnbull untuk menarik dukungan dari pemilih di wilayah itu.

Pasalnya, posisi partai Liberal terancam kalah dengan Partai Buruh pada pemilu mendatang. ”Proyek kapal selama ini, kita akan melihat para pekerja Australia akan memproduksi kapal selam Australia dengan baja dari Australia,” kata Turnbull. Keputusan Turnbull itu disambut gembira Presiden Prancis Francois Hollande sebagai suatu hal yang bersejarah.

”Itu menandangi kemitraan strategis yang maju antara dua negara yang telah bekerja sama selama 50 tahun,” demikian keterangan Kantor Kepresidenan Prancis. Sedangkan, Menteri Pertahanan Jepang Jenderal Nakarani menggambarkan, keputusan Australia sebagai hal yang sangat mengecewakan.

”Kita akan bertanya kepada Australia untuk menjelaskan kenapa mereka tidak memilih desain kita,” katanya. Kemudian, Direktur Pertahanan dan Anggaran dari IHS Jane’s Paul Burton mengaku terkejut karena dari sisi strategis Jepang justru tidak menang. ”Jepang sangat berkeinginan untuk mendapatkan bisnis di luar negeri yang signifikan menyusul pelonggaran legislasi ekspornya,” katanya.

Burton mengungkapkan, Tokyo ingin menjadikan proyek kapal selam Australia sebagai suatu terobosan besar dan spektakuler. Adapun, ThyssenKrupp mengajukan kapal selam kelas Tipe 214. Mereka juga mengaku kecewa dengan keputusan Australia, tetapi mereka tetap berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama bisnis.

”Thyssenkrupp akan selalu berkontribusi terhadap kemampuan angkatan laut Australia,” kata Hans Atzpodien, pimpinan Thyssenkrupp Marine Systems. Sedangkan, David Brewster dari ANU Strategic and Defence Studies Centre di Canberra mengatakan bahwa pilihan terhadap Prancis berkaitan dengan kemampuan, biaya, risiko, dan strategi yang lebih menguntungkan dibandingkan tawaran Jepang.

”Shortfin Barracuda akan menjadi kapal selam terbaik Australia,” katanya. Tapi, Australia juga harus tetap meningkatkan kerja sama dengan Jepang sebagai mitra keamanan regional di Asia Pasifik.

andika hendra m

Berita Lainnya...