Edisi 27-04-2016
Menyulap Sampah Jadi Barang Bernilai Seni


Limbah laut hingga kini menjadi permasalahan utama dari industri pariwisata yang mengandalkan pantai sebagai destinasi mereka.

Bagaimana tidak, karena hampir setiap saat terutama ketika air laut sedang pasang, sampah-sampah berbagai jenis banyak menumpuk di pinggiran pantai. Bau busuk serta lalat membumbung tinggi mengemas lengkap pemandangan yang menjemukan tersebut. Bahkan, terkadang membuat pengunjung enggan untuk berlama-lama di kawasan tersebut.

Sejumlah upaya telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata setempat untuk menghilangkan sampahsampah berserakan di tepi pantai. Persoalan sampah yang tak ada ujungnya inilah yang menjadi keprihatinan dari Nur Arifin, warga Dusun Pandes, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Suatu ketika, dia mengajak anakanaknya untuk berwisata di Pantai Depok, Desa Parangtritis. Saat itu, dia melihat sampah-sampah terutama kayu-kayu bekas berserakan dan ada sebagian yang menumpuk begitu saja di pinggir pantai, tak ada yang memanfaatkan.

Sejak saat itu, dia mulai berpikir bagaimana cara memanfaatkan limbah-limbah laut tersebut untuk menjadi sesuatu yang berguna bahkan memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Melalui tangan kreatifnya yang sudah terasah sejak jaman kuliah di Institut Seni Indonesia, dia berusaha mengutak-atik limbah-limbah kayu dari pantai tersebut.

”Pertama saya coba membuat kursi dari ranting-ranting bekas yang saya temukan di laut,” tutur pria 40 tahun ini. Melalui sentuhan kreasi dan daya imajinasinya, satu per satu bahan limbah-limbah kayu tersebut dia susun menjadi meja dan kursi antik. Tak hanya itu, dia juga membuat beberapa furnitur dari kayu limbah di laut tersebut.

Dia juga menyusun pigura atau bingkai foto serta bingkai cermin yang biasa digantung di tembok. Perlahan tapi pasti, permintaan barang kerajinannya pun terus meningkat. Dengan harga mulai dari Rp250.000 hingga puluhan juta rupiah untuk partisi dinding telah dia hasilkan.

Berbagai konsumen telah dilayani mulai dari personal hingga kalangan pengusaha hotel banyak menggunakan produk dari hasil kreasi ia bersama beberapa orang pekerjanya. Karena order terus meningkat, kini dia mulai berburu limbah-limbah kayu hingga ke Kulonprogo dan pantai Gunungkidul.

Bahkan, dia kini bisa mempekerjakan setidaknya tiga orang tetangganya untuk membantu dirinya menyelesaikan pesanan dari para konsumen. ”Barang hasil kerajinan saya sebetulnya sudah tembus ke luar negeri,” paparnya.

ERFANTO LINANGKUNG
Bantul

Berita Lainnya...