Edisi 27-04-2016
Limbah Tulang Ikan Disulap Menjadi Baterai


Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya (UB) Malang mengembangkan sumber energi listrik alternatif dengan memanfaatkan sampah organik.

Langkah ini dilakukan bekerja sama dengan masyarakat sebagai pemanfaat sumber energi listrik alternatif tersebut. Salah satu bentuk sumber energi listrik alternatif tersebut adalah pembuatan baterai berbahan limbah tulang ikan. Baterai tersebut mulai dikenalkan ke masyarakat penghasil limbah tulang ikan di Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Dosen Jurusan Teknik Elektro, UB Malang, Eka Maulana mengaku, limbah tulang ikan yang banyak didapatkan di wilayah desa-desa pesisir pantai selama ini kurang dimanfaatkan masyarakat dan dibuang begitu saja. Berdasarkan hasil penelitian dan uji coba yang dilakukan, ternyata limbah tulang ikan memiliki kemampuan menjadi elektrolit dan penyimpan tenaga listrik dalam bentuk ion. “Berdasarkan uji coba yang sudah kami lakukan, baterai berbahan limbah tulang ikan ini mampu menghasilkan tegangan sebesar 1,4 volt,” ujar Eka, kemarin.

Saat ini, dia mengaku terus melakukan penelitian dan pengembangan terhadap baterai berbahan dasar limbah tulang ikan tersebut sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. “Kami masih akan terus melakukan penelitian. Termasuk, mencoba mencampurkan dengan bahan-bahan lainnya untuk meningkatkan tegangan listrik yang dihasilkan,” imbuhnya.

Saat ini, di kawasan pesisir pantai selatan Kabupaten Malang, menurutnya juga dikembangkan sumber listrik dengan memanfaatkan tenaga matahari yang berlimpah. Di wilayah pesisir tersebut, selalu disinari matahari rata-rata 11 jam dalam sehari. Kondisi ini sangat berpotensi untuk memanfaatkan solar cell sebagai sumber energi listrik alternatif. Khusus untuk solar cell, Eka mengaku, selama ini di jurusannya juga dikembangkan bio solar cell. Alat yang dikembangkan diberi nama Dye Sensitized Solar Cell (DSSC).

“Selama ini solar cell banyak dikenal berbahan dasar silikon. Untuk pengembangan dan aplikasinya dibutuhkan biaya besar karena semua bahan dasarnya diproduksi oleh pabrik,” ungkapnya. Bio solar cell yang dihasilkan jurusan teknik elektro ini, dikembangkan dengan memanfaatkan ekstrak daun jarak, daun pepaya, dan ekstrak buah-buahan.

Harganya diakuinya jauh lebih murah dan ramah lingkungan. Perbandingannya, untuk membuat satu modul panel solar cell dari bahan silikon yang berukuran 40 cm x 70 cm, dibutuhkan biaya sebesar Rp2 juta. Sedangkan apabila menggunakan bio solar cell, hanya dibutuhkan biaya sebesar Rp500.000. Proses pembuatannya diakuinya sangat mudah. Ekstrak daun atau buah disimpan di dalam lapisan panel surya. Fungsinya untuk menangkap energi sinar matahari. Sinar matahari ditangkap elektronya, kemudian diubah menjadi energi listrik.

“Sistemnya sama dengan proses fotosintesis yang ada pada daun tumbuhan,” ujarnya. Pengembangan bio solar cell ini sudah dilakukan beberapa tahun terakhir. Saat ini, masih dikembangkanprototype proyek ini. Satu sel dengan ukuran 1,7 cm, dari hasil uji coba mampu menghasilkan listrik berkekuatan 500-600 milivolt. Sesuai perhitungan, untuk kebutuhan listrik minimal satu rumah tangga, mencapai sekitar 300 watt. Hal ini bisa dipenuhi dengan penggunaan tiga modul bio solar cell yang setiap modulnya berukuran 40 cm x 70 cm.

Petra Prasojo, warga Dusun Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, mengaku, pengembangan sumber energi listrik alternatif ini sangat dibutuhkan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Selain ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah yang ada di lingkungan sekitar, harga sumber energi listrik alternatif ini juga terjangkau.

“Kami sangat membutuhkan adanya transfer teknologi tepat guna agar kebutuhan sumber energi listrik di lingkungan kami dapat terpenuhi. Selain itu, lingkungan pesisir juga menjadi semakin lestari,” ungkapnya.

Yuswantoro
Malang

Berita Lainnya...