Edisi 10-05-2016
Tampilan Menarik & Bernilai Edukatif


BB-8 bergerak lincah, berputar ke kiri dan kanan, seolah- olah memiliki kemauannya sendiri. Miniatur droid yang menjadi bintang Star Wars: The Force Awakens itu terlihat begitu menggemaskan. Yang membuat BB-8 mini tersebut menarik adalah cara pengendaliannya yang menggunakan smartphone dan memanfaatkan koneksi bluetooth.

Pembuatnya adalah Sphero, perusahaan robotik yang mendapat lisensi resmi dari Disney untuk membuat mainan pintar tersebut. ”Robot pintar yang kami ciptakan tidak hanya sebagai mainan, tetapi nantinya dapat dibenamkan teknologi tambahan sesuai perkembangan,” ungkap Direktur Sphero Asia-Pasifik Aurelien Joly di Jakarta, belum lama ini. Dalam demo yang diberikan, robot ini dapat melaju ke berbagai arah dengan kecepatan hingga 7,2 km per jam selama 1 jam.

“Selain dikendalikan manual, Anda juga dapat mengatur pergerakannya sehingga dapat bergerak otomatis,” ungkap Joly. Caranya dengan mengunduh aplikasi pengendalinya di ponsel, lantas menyusun rangkaian perintah secara detail. “Misalnya berputar ke arah mana dan berapa derajat,” ujar Joly. Ia mengklaim mainan serupa remote control tersebut terbuat dari material yang kuat dan tahan air, sehingga diklaim tangguh.

Soal penambahan teknologi, BB-8 sudah mendukung voice command dan dapat memainkan permainan yang mendukung augmented reality atau AR. ”Jadi kami menyatukan hardware dan software,” bebernya. BB-8 Sphero dibanderol Rp2,1 jutaan. Sphero BB-8 adalah bagian dari gelombang permainan pintar yang memungkinkan anak-anak untuk memprogram dan mengon trol-nya sendiri. Salah satu tujuannya untuk mempelajari dan menyukasi STEM, yakni sains, teknologi, ilmu teknik, dan matematika.

”Mainan seperti ini membuat anak-anak aktif jadi produser atau programmer. Teorinya, anak yang aktif belajar lebih banyak di banding yang pasif,” tegas Warren Bucklietner, editor di Children’s Technology Review. Pendiri dan CEO Wonder Workshop Vikas Gupta menilai, connected toys akan mengenalkan anak-anak kepada komputer, coding, serta robotik dalam usia yang sangat muda. ”Anak-anak harus di dorong untuk belajar sains komputer dan coding,” kata Gupta.

Mainan canggih ini juga direspons secara positif oleh orang tua. Menurut survei BSM Media dan Digital Kids Media, 65 persen orang tua rela membayar lebih mahal untuk mainan pintar, utamanya yang mendorong adopsi STEM kepada anak-anak. Adapun Juniper Research memerkirakan pasar connected toy sudah menembus USD2,8 miliar pada 2015 dan terus meningkat. Permainan seperti Nancy Drew: Codes & Clues yang diciptakan oleh HER Interactive, misalnya, bertujuan untuk mendorong lebih banyak anak perempuan belajar coding.

”Anak perempuan di usia 5 tahun hingga 8 tahun sangat tertarik belajar dasar-dasar coding, jika ada misi atau tujuan,” ungkap CEO HER Interactive Penny Milliken. “Seharusnya nanti coding sama pentingnya dengan menulis, membaca, dan berhitung. Hanya, coding adalah kemampuan yang penting di abad 21,” tambahnya. Meski permainan dan aplikasi ini memberikan nilai-nilai edukasi, namun orang tua tetap harus waspada terhadap banyaknya jam yang dihabiskan anakanak di layar dan gadget.

Yang terpenting adalah agar anak-anak menghabiskan waktu dengan seimbang. ”Kita bisa memperkaya dunia anak-anak de - ngan teknologi. Tapi, sebaliknya, kita juga merusak dunia mereka juga dengan teknologi. Itu pilihan kita,” ungkap Bucklietner.

Cahyandaru Kuncorojati