Edisi 10-05-2016
Murah tapi Mewah


IT’S win or nothing. Bagi Advan, kemenangan adalah bisa mencapai 5 besar posisi ponsel di Indonesia. Dan mereka sudah mencapai hal tersebut.

“Kalau tidak bisa menembus 5 besar, lebih baik tidak bersaing sama sekali. Karena orang Indonesia tidak akan hafal banyak merek,” ujar Tjandra Lianto, Direktur Marketing Advan. Untuk mencapai 5 besar itu strategi Advan relatif sederhana. Pertama, bermain di pasar yang paling gemuk. Yakni di rentang harga Rp1 juta-Rp3 jutaan yang mengambi market share hingga 30%.

Kedua, menjadi terbaik di rentang ceruk pasar itu. Caranya, menawarkan ponsel lebih baik dengan harga lebih terjangkau. Sesuatu yang lebih mudah diucapkan daripada di lakukan. Tapi, Advan sudah bertahun-tahun memproduksi ponsel di Indonesia. Seharusnya tidak ada yang lebih mengenal market lokal selain mereka. Vendor lokal itu juga sudah sangat paham dalam mencapai kombinasi terbaik antara harga dan kualitas. Yang salah satunya disajikan lewat smartphone 4G LTE Advan Vandroid i5A seharga Rp1,85 juta.

Rentang Rp2 jutaan memang paling seksi. Banyak sekali pilihannya, dengan beda tipis antara harga dan spesifikasi. Lantas, di mana Advan Vandroid i5A berpijak? Nilai plus pertama adalah konsep desainnya yang terbilang sangat baik. Bahkan, lebih baik dibanding model global yang sudah ada di pasaran, seperti Lenovo, di rentang harga yang sama. Build quality Vandroid i5A warna black rose gold yang sedang saya ulas terasa rapi, ergonomis dan enak di genggam lewat frame logam di sekeliling bodi, secara estetika juga sedap di pandang.

Plus kedua adalah sepuhan logo ”FC Barcelona” di kover belakangnya yang terbuat dari kaca. Ini akan menarik bagi total 5 juta fans Barca di Indonesia (10 persen dari total fans Barca global). Selanjutnya, tampilan visual dan spesifikasi ponsel ini cukup prima. Layar 5 inci HD (1280 x 720) IPS (In-Plane Switching) dengan kerapatan layar mencapai 294 piksel per inci terasa nyaman di mata.

Kemudian, ada chipset MediaTek MT6735P (64 bit) dengan prosesor Quad- Core 1.0 GHz dipadu pengolah grafis Mali- T720MP2, RAM 2 GB, memori internal 16 GB (tambahan 32 GB), kamera depan 5 MP dan kamera utama 13 MP, Android Lollypop 5.1, baterai 2.200 mAh, serta dual SIM card (GSM + WCDMA). Seharusnya Vandroid i5A sudah bisa sangat bersaing di pasaran. Tapi, masih ada beberapa hal yang menyimpan ruang untuk perbaikan. Dari sisi desain, misalnya, saya terus terang kurang suka dengan tombol power (daya) yang kecil dan sedikit menonjol.

Tidak nyaman di jari ketika di tekan terus menerus. Atau, malah jadi nilai plus jika tombol tersebut juga berfungsi sebagai shutter untuk kamera. Kedua, speaker segaris di kover bagian belakang juga terkesan nanggung bentuknya, justru mengurangi estetika keseluruhan desain ponsel yang sudah bagus. Terakhir, Advan sebenarnya sudah berkontribusi terhadap aplikasi lokal melalui toko aplikasi Advan Store. Di toko digital tersebut pengguna bisa mendapat berbagai aplikasi lokal.

Tapi, menurut saya masih banyak konten yang bisa di eksplorasi oleh Advan sehingga semakin memberikan nilai tambah kepada konsumennya. Secara keseluruhan, Vandroid i5A menegaskan bahwa Advan sudah berada di jalur yang tepat dalam menghadirkan kombinasi antara produk berkualitas dan harga yang terjangkau. Tapi, tetap menyisakan ruang perbaikan untuk membuat mereka semakin kompetitif.

Danang arradian