Edisi 14-05-2016
Karyawati Dibunuh Seusai Diperkosa


TANGERANG – Aksi kekerasan seksual yang disertai dengan pembunuhan marak di sejumlah daerah dan semakin memprihatinkan.

Kali ini nasib tragis menimpa Enno Fariha,18, karwayati PT Polyta Global Mandiri, Pergudangan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, yang diduga menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan sadis, kemarin. Gadis asal Kampung Bangkir, Kelurahan Pegandikan, Lebak Wangi, Kabupaten Serang, ini ditemukan tewas di mes pabrik tempatnya bekerja dengan kondisi bersimbah darah dan sebatang gagang pacul menancap di kemaluannya.

Kapolsek Teluk Naga AKP Teluk Naga AKP Supriyanto mengatakan, korban diketahui tewas sekitar pukul 08.00 WIB oleh rekannya. Ketika itu temannya menyusulnya ke mes lantaran korban tidak masuk bekerja. ”Ternyata ditemukan sudah tewas, badannya luka-luka,” tutur nya. Enno kemudian dibawa ke RSUD Kabupaten Tangerang untuk diautopsi. Polisi sendiri belum memastikan penyebab kematian Enno. ”Kita sudah olah TKP dan memeriksa sekitar lima saksi di sekitar kamar mes korban,” katanya.

Mahpudoh, ibu korban, menuturkan bahwa sebelum peristiwa tragis tersebut Enno sempat pulang ke rumah di Kampung Bangkir, saat libur panjang pada 5-7 Mei lalu. ”Dia pulang dan sempat tanya, ibu mau apa? Saya bilang nggak mau apaapa, duitnya buat kamu beli baju bagus aja,” katanya ketika ditemui di RDUD Kabupaten Tangerang, kemarin.

Enno yang merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara ini, memang kerap membawa buah tangan untuk keluarganya setiap pulang ke rumah. ”Dia pulang seminggu sekali. Suka bawa makanan, kue, permen buat adiknya. Padahal, gajinya kecil, jadi suka saya suruh tabung saja,” katanya sambil menangis.

Mah pudoh menceritakan, gadis yang memiliki tinggi 170 cm itu memang ingin bekerja setelah lulus SMK. Enno yang dikenal sebagai anak pendiam mengaku tidak betah jika menganggur di rumah. Karena itulah, dirinya mengizinkan anaknya bekerja di Polyta Global Mandiri karena di sana banyak teman-teman dari rumah. ”Sebenarnya dia disuruh kuliah, tapi inginnya kerja. Karena di sini banyak barengan temantemannya, saya izinin . Dia baru kerja 6 bulan di sana,” ujarnya.

Mahpudoh tidak menyangka putrinya tewas dengan cara yang mengenaskan. Kabar meninggal anaknya baru diketahui sekitar pukul 09.00 WIB dari teman anaknya. ”Saya kira kecelakaan. Ternyata dibunuh. Rasanya kaya kiamat, sedih sekali. Tega banget pelaku melakukan itu sama anak saya,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Emin, 22, warga Kampung Gandoang, RT 002/004, Desa Gandoang, Cileungsi, Kabupaten Bogor, dibekuk petugas Polsek Cileungsi karena melakukan pencabulan terhadap SM,14, keponakannya sendiri yang masih duduk di bangku kelas I SMP, Kamis (12/05).

Informasi dihimpun menyebutkan, pelaku dibekuk setelah petugas menerima laporan dari Neman,40, dan Mumun, 38, orang tua korban, kePolsek Cileungsi bahwa anaknya telah dicabuli pamannya sendiri. ”Sebelum lapor, kedua orangtua k o r b a n sempat menanyakan langsung ke pelaku, hingga akhirnya pelaku mengakui, saat itulah kita langsung melakukan penjemputan terhadap pelaku,” ujar Kapolsek Cileungsi Kompol Eko Munirianto kemarin.

Sementara itu, empat pemuda ditangkap karena diduga kuat mencabuli bocah perempuan berusia 12 tahun. Para pemuda itu mencabuli seorang bocah perempuan di kuburan di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, setelah dicekoki minuman keras. Keempat pelaku yakni, Ikhsan Pratama,38, Muhammad Robi,22, Alam Ibrahim,19, dan Angga Samjaya,28. Para pelaku adalah warga Tegal Parang, Jakarta Selatan.

Kapolsek Pancoran Kompol Aswin mengatakan, keempat pemuda tersebut ditangkap dirumahnya masing-masing setelah adanya laporan dari korban. Pelaku mencabuli korban di Kuburan Ciborong, Jalan Pancoran Barat II, Kelurahan Pancoran, Jakarta selatan, pada Kamis (12/5) dini hari lalu. ”Korban diduga ditemukan warga dalam kondisi tidak sadarkan diri dikuburan tersebut, diduga dicekoki minuman keras,” katanya.

Psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta menilai kasus pemerkosaan dipicu banyak hal. Namun yang mendasar adalah karena keinginan pelaku untuk menguasai korban secara seksual. Seringkali setelah selesai memerkosa, pelaku tersadar bahwa korban akan melaporkan perbuatannya. ”Maka itu mendorong pelaku untuk melakukan tindakan pembunuhan,” kata Shinta.

Namun kalau korban sampai diperlakukan sadis dengan menancapkan pacul ke kemaluan, perlu lebih didalami motifnya. Hal itu bisa terjadi diduga karena adanya dendam atau rasa tidak suka kepada korban. Belakangan ini, kasus kekerasan marak. Hal itu menunjukkan masyarakat semakin mudah reaktif terhadap masalah sehingga jika ada masalah sedikit saja bisa menjadi pemicu kekerasan.

denny irawan/ haryudi/ helmi syarif/ r ratna purnama