Edisi 15-05-2016
Tiga Lembaga Lakukan Pendampingan


KLATEN – Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Klaten melakukan pendampingan kepada korban dugaan pemerkosaan Kecamatan Jatinom.

Pendampingan menggandeng Peradi dan Tenaga Kerja Sosial Kecamatan (TKSK). Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kantor PPKB Klaten Hari Suroso mengemukakan, pendampingan bersama Peradi dilakukan selama proses hukum yang ditangani Polres Klaten. “Sedangkan, psikologis korban kami lakukan pendampingan kerja sama dengan Dinsosnakertrans melalui TKSK karena korban ini masih di bawah umur. Dia harus didampingi supaya tidak mengalami diskriminasi oleh lingkungan masyarakat,” ungkapnya kemarin.

Hari mengaku, pihaknya telah mendapat laporan kasus dugaan pemerkosaan tersebut pada Kamis siang (12/5). PPKB langsung koordinasi dengan Dinsosnakertrans karena korban di bawah umur dan baru akan mengikuti ujian nasional (UN) SD pekan depan. Pendampingan psikologis dilakukan agar korban tidak mengalami trauma berkepanjangan dan dapat mengikuti UN dengan lancar. KetuaLembagaPerlindungan Anak (LPA) Klaten Ahmad Syakur menambahkan, kekerasan pada anak kebanyakan adalah tindak asusila, baik anak sebagai korban maupun pelaku.

Hanya, Syakur menegaskan, tindak asusila tidak melulu dipicu oleh perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, peran keluarga sebagai lingkungan terdekat anak adalah kunci utama dalam tumbuh kembang anak. “Pengawasan oleh orang tua, hubungan dengan orang tua tentu itu yang lebih utama. Karena anak ini sebagian besar menghabiskan waktunya dengan keluarga,” kata dia.

Sementara itu, Kapolres Klaten AKP Faizal membenarkan, peran keluarga dan lingkungan sekitar adalah benteng untuk melindungi anak dari pengaruh negatif. Pengawasan dan pembinaan terhadap anak-anak membutuhkan koordinasi stakeholder lintas sektoral. Pencegahan melalui pendekatan keluarga dianggap sebagai langkah paling efektif menekan kasus kekerasan pada anak. Faizal mengatakan, penanganan kekerasan pada anak tidak dapat dilakukan hanya melalui penindakan hukum.

“Kalau kami melakukan penindakan hukum berarti sudah terjadi, ada korban. Kita semua tentu tidak mau kasus serupa terulang dan melibatkan anakanak. Maka sejak awal harus dicegah, melalui keluarga, lingkungan, termasuk pemkab atau instansi terkait,” tuturnya. Sebelumnya diberitakan, seorang bocah kelas IV salah satu SD di Kecamatan Jatinom diduga menjadi korban pemerkosaan oleh tujuh pemuda pada Rabu (11/5).

Korban yang baru berusia 12 tahun dipaksa melayani nafsu para pemuda tersebut di rumah kosong milik kakek salah satu pelaku di Dukuh Sribitan Desa Puluhan Kecamatan Jatinom. Aksi tersebut diketahui oleh warga dan dilakukan penggerebekan. Hingga saat ini penyidikan masih ditangani Satreskrim Polres Klaten.

Endah budi karyati

Berita Lainnya...