Edisi 15-05-2016
Persaingan Bank Ketat, BPR Terus Berbenah


MEDAN – Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Sumatera Utara (Sumut) terus berbenah agar bisa bertahan di tengah persaingan bank yang semakin ketat saat ini dan kondisi perekonomian yang masih lemah.

Sekretaris Perbarindo Sumut Bumaman Teodeki Tarigan mengatakan, persaingan antar bank semakin tinggi terlebih lagi sejak ada program bunga murah yang bisa “melahap” segmen pasar BPR sebelumnya. Namun, Perbarindo tetap optimistis bisa bersaing dengan meningkatkan pelayanan dan perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM). Selain terus berinovasi dari sisi pelayanan dan kualitas SDM, BPR juga masih melayani pinjaman senilai Rp10 juta ke bawah yang tidak digarap bank umum. Bahkan, sekarang BPR juga melayani kredit (pembiayaan) dengan SK Camat sebagai agunannya.

“BPR harus terus berusaha jika tidak ingin tutup,” ucapnya di Medan, Sabtu (14/5). Berdasarkan data Perbarindo Sumut hingga April 2016, penyaluran kredit BPR di Sumut mencapai Rp930 miliar dan hanya tumbuh 10% dibandingkan periode yang sama pada 2015. Sementara itu, himpunan DPK BPR senilai Rp930 miliar. Kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) BPR di Sumut berada di level 8,7%, atau naik dibandingkan posisi Desember 2015 sebesar 7,8%. Angka ini di atas NPL BPR nasional sebesar 6,2%.

“BPR kesulitan menyalurkan kredit sudah terlihat sejak triwulan IV 2015 saat bunga kredit usaha rakyat (KUR) masih 12%,” paparnya. Ekonom Sumut Gunawan Benjamin mengatakan kondisi yang sedang terjadi saat ini jelas menjadi beban bagi BPR. Bank tersebut memiliki sumber DPK yang terbilang mahal sehingga marginnya kian tergerus. Di sisi lain, perbankan besar memiliki akses ke daerah, otomatis menjadi pesaing bagi BPR yang memiliki basis nasabah hingga di pedalaman.

“BPR tentu akan kewalahan dalam menghadapi persaingan terbuka seperti itu. Karena itu, BPR harus terus berupaya dalam menggenjot kinerjanya maupun kualitasnya agar berdaya saing tinggi,” tandasnya. Terlebih, dengan NPL BPR yang masih buruk saat ini akan membuat ruang gerak BPR menjadi kian sempit. Kemampuan BPR dalam melakukan mediasi tertekan dari banyak sisi sehingga akan menimbulkan penurunan daya saing.

“Pasalnya, perbankan Indonesia saat ini tengah berupaya untuk melakukan konsolidasi dalam mempersiapkan industri yang kuat seacara permodalan,” pungkasnya.

Jelia amelida


Berita Lainnya...