Edisi 15-05-2016
Aneh Dengar Bahasa Jawa


ZAMANberubah, transformasi budaya antarnegara tidak bisa dibendung. Hal ini diperparah dengan kemajuan teknologi yang begitu cepat. Kemajuan yang bisa membawa dampak positif maupun negatif bagi bangsa, tinggal bagaimana mengarahkan teknologi untuk kemajuan yang positif.

Pada era teknologi ini, sedikit orang tua yang bisa memanfaatkan kecanggihan ini ke arah yang positif. Anak dibiarkan mengetahui informasi tanpa pantauan. Imbasnya, anak akan mencerna informasi dari kemajuan yang diterima. Meski begitu, kemarin (Sabtu, 14/5) masih terdengar sayup-sayup suara yang sangat jarang bergema di telinga.

Suara anak kecil melantunkan ayatayat suci Alquran disertai pemaknaan secara Jawa. Aneh kedengarannya, ayat yang sulit dipahami dicampur dengan pemaknaan Jawa yang juga sulit dipahami serta lenggak-lenggok alunan khas suara Jawa menambah sulit untuk dicerna. Tingkat kesulitan tersebut disebabkan anak zaman sekarang yang enggan mendalami agama (ayat-ayat suci) serta bahasa Jawa secara benar.

Padahal, bahasa Jawa merupakan alat komunikasi nenek moyang. Jika ini dibiarkan, keinginan untuk memakai bahasa Jawa akan luntur begitu saja tanpa bekas. Meski terdengar sulit untuk dicerna, anak yang diketahui bernama Faros Muntaqimul Ala ini masih sangat semangat untuk membacakan lafaz suci dengan memaknainya menggunakan bahasa Jawa yang khas. Sejenak peserta ngaji yang mendengarkan terdiam.

Mereka mencoba mencerna apa isi muatan-muatan ayat Ilahi ini. Namun, keinginan untuk paham tidak kunjung bisa. Mereka hanya terdiam dan seolah-olah asing dengan bahasanya sendiri. Fakta di atas membuktikan betapa lemahnya pemahaman kebudayaan yang dimiliki masyarakat, baik generasi muda maupun tua. Padahal, mengaji merupakan salah satu budaya keagamaan untuk membentuk karakter anak. Karakter ini akan terbentuk jika dalam keluarga terjadi keselarasan dalam mendidik anak. Mantan Menteri Agama Suryadharma Ali juga pernah menekankan, salah satu bentuk menanamkan pendidikan karakter anak adalah dengan mengaji. Saat itu disebut sebagai gerakan Masyarakat Magrib Mengaji.

“Banyak ahli mencari-cari teori pendidikan karakter yang bisa ditanamkan pada anak-anak. Mereka kebingungan, padahal dengan menganji menjadi solusi yang tepat,” katanya. Suryadharma Ali menegaskan, di Al Quran sudah terkandung petunjuk, penuntun tentang nilainilai kehidupan, dan tata cara berperilaku sehingga kitab suci tersebut bisa dijadikan dasar untuk mendukung pendidikan karakter pada anak. Mengaji yang dilakukan selepas salat magrib memiliki banyak keuntungan, seperti meningkatkan jalinan komunikasi antara orang tua dan anak, serta transfer ilmu pengetahuan.

Gerakan ini muncul karena adanya penurunan nilai-nilai kehidupan di masyarakat, seperti maraknya tawuran, penggunaan narkoba, pornoaksi, dan pornografi. Permasalahan yang ada saat ini menjadi sorotan. Banyak kekhawatiran, terutama para pendidik di Indonesia, mengenai karakter yang dimiliki seseorang. Banyak masalah yang muncul baik itu dari faktor diri sendiri, keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar.

Berbagai berita mengenai karakter yang muncul di permukaan, baik lewat media cetak, televisi, dialog, maupun wawancara. Persoalan yang muncul di masyarakat saat ini adalah korupsi, kekerasan seksual, perkelahian, pembunuhan, perusakan, perilaku konsumtif, dan berbagai hal negatif yang semakin marak. Permasalahan tersebut haruslah diperhatikan dan harus dicari solusi terbaik untuk menyelesaikannya. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi, atau paling tidak bisa mengurangi atau mencegah adanya permasalahan tersebut adalah dengan memberikan pendidikan karakter.

“Ngaji itu solusi membentuk karakter. Anak akan terbiasa untuk bertanggung jawab,”kata Ustaz Ali Mahfud, salah satu ustaz pendamping mengaji Alquran Faros. Dia menuturkan, mengaji merupakan salah satu pendidikan yang bisa ditempuh untuk mencegah adanya perbuatan atau tindakan yang tidak terpuji. Lewat pendidikan diharapkan dapat membantu mengembangkan kualitas diri anak bangsa menuju kehidupan yang lebih baik. Pendidikan mempunyai serangkaian kegiatan yang bisa memberikan arahan kepada siswanya dalam melakukan suatu tindakan.

Pendidikan mempunyai sebuah kurikulum yang bisa memberikan batasan, baik kepada guru maupun siswa, dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Kurikulum yang ada saat ini diharapkan bisa memberikan sebuah pencerahan dan porsi lebih terhadap pembentukan karakter anak bangsa. Tidak hanya mengunggulkan keilmuannya, tetapi juga terkait masalah pembentukan karakter anak bangsa yang mencerminkan sikap positif di segala bidang kehidupan. Kepedulian masyarakat mengenai pendidikan karakter juga direspons positif pemerintah.

Berbagai upaya pengembangan pendidikan karakter telah dilakukan di berbagai direktorat dan di berbagai lembaga pemerintah, terutama di berbagai unit Kementerian Pendidikan. Upaya pengembangan itu diterapkan di berbagai jenjang jalur pendidikan meski banyak yang belum menyeluruh. Keinginan masyarakat dan kepedulian pemerintah mengenai pendidikan karakter akhirnya menjadi kebijakan pemerintah mengenai pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Undang-Undang Republik Indonesia No 20/2003 menyebutkan tentang sistem pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Budaya diartikan sebagai kese-luruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan tersebut adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem tersebut juga digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni dan sebagainya.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi atau penghayatan berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan itu terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Karena itu, pengembangan karakter seseorang hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu masing-masing. Proses tersebut dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didiknya melalui lingkungan sosial, budaya, masyarakat, dan budaya bangsa.

Pendidikan karakter bangsa tentu harus mempunyai suatu landasan, yaitu berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Karena itu, mendidik karakter bangsa adalah dengan mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui hati, otak, dan fisik. Berdasarkan pengertian budaya dan karakter bangsa tersebut di atas, maka pendidikan budaya dan karakter anak bangsa dimaknai sebagai suatu pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik.

Dengan demikian, mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif. “Saya hanya ingin ada karakter kuat dalam diri anak saya,” papar Saiful Triyana, orang tua Faros, di selasela mengajinya. Dengan pendidikan yang diperoleh, ke depan anak yang dibanggakan ini bisa mengambil sisi positif dalam kehidupan. Terjangan arus globalisasi yang tidak mengenal budaya lokal maupun budaya asing bisa terantisipasi dengan baik.

Meski dengan cara ngaji yang dilantunkan anaknya belum tentu menjadi pijakan, ada upaya untuk menjadikan kehidupan ke depan anaknya lebih baik. Semoga semua orang tua di Indonesia memiliki pemikiran sama untuk membekali anaknya dalam menghadapi arus modern yang diwarnai arus informasi tanpa batas.

Arief ardliyanto


Berita Lainnya...