Edisi 15-05-2016
Digemari Ibu-Ibu Muda untuk Perintang Jenuh


Bagi perempuan yang tidak bekerja dan hanya mengurus rumah tangga, kadang rasa jenuh tak bisa dihindari. Kehadiran seni decoupage (seni menggunting dan menempel kertas pada sebuah objek) menjadi alternatif yang mengasyikkan.

Merintang waktu sambil berkreasi itulah yang dilakukan oleh Liana Weool. Perempuan berusia 30 tahun ini memilih belajar seni decoupage yang kini mulai tumbuh bak cendawan di musim hujan dan menjadi tren. Bertempat di Made With Love, yakni pusat kerajinan tangan yang berada di Lantai 2 Ciputra World Surabaya (CWS), tidak hanya sekadar menyediakan berbagai bahan kerajinan tangan tetapi juga menjadi tempat workshop.

Selama kurang lebih 2,5 jam Liana mengikuti workshop decoupage yang merupakan seni gunting dan tempel asal Prancis. Liana mengaku tertarik untuk belajar decoupage karena seni ini sedang tren, apalagi saat menunggu anaknya pulang sekolah ia juga memiliki banyak aktivitas sehingga ia pun memilih mengisi waktu luangnya dengan belajar decoupage.

“Aku memang suka craft meski belum menjadikannya bisnis. Aku beberapa kali juga belajar aneka craft untuk sekadar mengisi waktu luang dan sekarang tertarik mencoba seni decoupage karena belum pernah praktik langsung. Nah sekarang ini baru coba praktik langsung,” kata Liana sambil menyelesaikan media yang ia poles dengan teknik decoupage. Decoupage sebenarnya seni yang telah lama ada, hanya kemunculannya baru booming setelah beberapa tahun terakhir. Penggemarnya kebanyakan perempuan, mengingat dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran untuk menyelesaikan sebuah karya.

Biasanya dengan media berbahan kayu, decoupage akan terlihat makin cantik sepeti karya Liana berupa rak mini yang cantik bertabur motif bunga. Salah satu desainer tetap Made With Love Siane Koo mengungkapkan, decoupage sebenarnya termasuk seni yang cukup mudah dipelajari mengingat rumusnya hanya gunting dan tempel. Sangat cocok dimanfaatkan untuk aktivitas harian mengisi waktu luang bahkan jika mau dijadikan bisnis pun juga bisa. Mengingat penggemar decoupage juga masih banyak.

“Kami membuka workshop untuk belajar decoupage sebenarnya tidak setiap hari tetapi kalau ada yang mau privat untuk mengisi waktu luang dan kami memang bisa melayani tentu akan kami terima. Bisa juga mereka ngumpulinbeberapa orang kemudian mengundang kami untuk latihan bersama juga boleh,” ujar Siane. Belajar decoupage menjadi alternatif untuk mengisi waktu luang karena tidak hanya cukup mudah dalam pengerjaannya tetapi juga bahannya mudah dijumpai.

Bahan yang digunakan di antaranya lem berupa medium gel yang tidak membuat bahan cepat rusak, media berupa kayu dengan berbagai bentuk dan kertas tisu. Kertas tisu yang digunakan khusus untuk decoupage karena sudah disertai dengan aneka motif. Siane menambahkan, bagi mereka yang tidak bisa melukis pun bisa belajar decoupage karena motifnya tidak perlu digambar namun cukup ditempel dengan medium gel tersebut. Dan hasilnya cukup unik, kayu yang telah dipoles dengan bahan-bahan decoupage tampak seperti habis dilukis padahal hanya ditempel dengan kertas tisu.

“Keunggulan decoupage memang pada tekniknya, terlihat sangat halus dan cantik untuk hasil akhirnya, meski hanya dengan ditempel kertas tisu, kemudian diberi sentuhan berbagai warna dengan cat sudah membuat medianya terlihat indah. Medianya ratarata dari kayu karena bisa menempel dengan sempurna,” tutur Siane.

Mamik Wijayanti
Surabaya


Berita Lainnya...