Edisi 15-05-2016
Tim Belanda Petakan Cagar Budaya


SURABAYA – Keberadaan bangunan cagar budaya (BCB) di Surabaya menarik perhatian komunitas pencinta heritage asal Belanda yang tergabung dalam tim iDiscoveryCity.

Keberadaan BCB di data, diolah, dan menjadi peta wisata kota tua. Peta yang bakal menjadi panduan wisatawan ini dibuat aplikasinya sehingga bisa dilihat melalui gadget , bahkan dicetak dalam bentuk hard copy . Direktur Sjarikat Poesaka Soerabaia Fredy H Istanto mengatakan, pihaknya diminta mendampingi tim iDiscoveryCity dalam melakukan survei, sekaligus pendataan. “Mereka ini orangorang Belanda yang memiliki kecintaan pada BCB. Selain Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Bali juga didatangi untuk keperluan yang sama, pendataan,” kata Fredy kemarin.

Semua data yang masuk akan diolah. Ada foto serta penjelasan. Jadi, aplikasi yang ada akan memudahkan wisatawan. “Di Surabaya yang didatangi adalah BCB sekitaran Jalan Rajawali dan Kalisosok. Museum House of Sampoerna juga didatangi. Dari House of Sampoerna yang ikut menerima Inna Silas,” kata Fredy. Keberadaan kota tua China atau Pecinan di Surabaya, kata Fredy, tidak luput didata. “Sebenarnya program aplikasi ini bisa dibuat Pemkot Surabaya untuk mengawasi BCB melalui sistem. Ada semacam alat pendeteksi di BCB. Sekiranya BCB dibongkar atau proses bongkar, alat pendeteksi akan terdampak dan bisa diketahui dari sistem,” ucap Fredy. Nick Bosman, salah seorang dari tim iDiscoveryCity Belanda, menyebut, Surabaya banyak sekali memiliki BCB.

“Jakarta kotanya lebih besar, tapi bangunan heritage hanya ada di kota tua. Kalau heritage di Surabaya tersebar, jumlahnya lebih banyak,” tutur Nick. Nick mengaku, data yang ada akan secepatnya diolah dan dijadikan aplikasi wisata untuk Surabaya. Aplikasi ini menjadi satu dengan kota-kota lain di Indonesia, bahkan dunia.

Ongkos Operasional BCB Mahal

Terpisah, setelah dibongkarnya Rumah Radio Perjuangan Bung Tomo yang berstatus BCB, keluarga Aminhadi, pemilik Rumah Radio Perjuangan Bung Tomo di Jalan Mawar 10, Kecamatan Tegalsari, angkat bicara. Penjualan bangunan dilakukan dengan alasan keberatan menanggung biaya operasional rumah.

Adalah Narindrani, 68, dan Tjintariani, 66, dua anak Aminhadi, yang memberikan penjelasan terkait BCB. “Bapak kami atas nama Aminhadi bersama ibu dan kami kedua putrinya pindah ke Jalan Mawar No 10 dan 12 sejak 1973,” kata Narindrani kemarin. Ditemui di kawasan Gayung Sari Barat, Surabaya, Narindrani didampingi saudaranya, Tjintariani (Rin), mengatakan, rumah itu, sebelumnya adalah rumah dinas PNP, perusahaan pergulaan peninggalan zaman Belanda yang sekarang telah berubah menjadi PT Perkebunan Nusantara (PTPN).

“Pada tahun itu bapak kami membeli dan mengurus surat kepemilikan langsung ke Belanda, di pusatnya di kantor PNP. Kemudian setelah mendapat keterangan PNP, kami daftarkan di Badan Pertanahan Nasional (BPN). Rin, saksi hidup yang mengantar bapak saya mengurus ke Belanda,” papar Narindrani. Soal polemik pembongkaran rumah Jalan Mawar No 10 sekarang ini, bahkan ditangani pihak kepolisian, membuat dua bersaudara ini merasa sedih. Ketika informasi awal, bila rumah BCB itu disebut sebagai rumah Bung Tomo, keduanya mengaku menangis.

“Pertama, kami tahu itu rumah bapak kami. Kedua, kami kebingungan dan ketakutan mau memberi penjelasan ke mana,” lanjut Rin, yang merupakan pensiunan dosen seni di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu. Sejak tinggal pada 1973, tahun 1975, Aminhadi mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) ke Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR), disebutkan bila rumah No 10 dan 12 itu sudah ber-IMB sejak 1975. Selanjutnya, Aminhadi dan istrinya, Nini Anila, hanya tinggal berdua di rumah itu.

Kedua putrinya sudah menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing. Hanya karena rumah yang besar, keduanya membuka kos-kosan untuk tujuh kamar yang ada di rumah tersebut. “Hingga bapak pensiun dan meninggal pada 1985, rumah itu masih dipakai kos-kosan. Kemudian ibu tinggal sendirian, juga masih dipakai kos-kosan hingga ibu tiada tahun 2006,” tutur Rin. Selama tinggal di rumah itu, keduanya mengaku bila sang ayah sering melakukan renovasi, mulai kamar kos yang dilengkapi kamar mandi dalam dan AC. dinding juga banyak ambrol karena dulunya belum memakai semen.

Plafon juga banyak yang rusak, kuda-kuda rumah juga banyak yang lapuk dimakan rayap. Sebenarnya IMB tahun 1975 itu juga IMB untuk pengajuan renovasi, dari jendela yang berterali besi diubah menjadi jendela berkaca. Tahun 1996, saat penetapan rumah sebagai BCB, keduanya mengaku tidak tahu. Hanya ibunya yang tahu, kemudian ada pemasangan plakat. Ada dua plakat yang dipasang, yaitu di dinding dan di halamandekatpagar.

“ Saatditetapkan sebagai BCB itu kami sempat GR. Pasti akan ada bantuan untuk operasional, tapi ternyata tidak,” celetuk anak Rin. Dia mengakui, setiap bulan untuk biaya utilitas, seperti listrik dan air, rumah di Jalan Mawar 10 dan 12 itu mencapai antara Rp4 juta-Rp6 juta. Sementara pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) mencapai Rp20 juta per tahun. “Tidak ada bantuan apa pun, termasuk yang katanya diskon 50%, itu pun tidak ada,” tandas keduanya.

Dihadapkan beban berat operasional, tahun 2012, rumah No 12 dijual untuk menutupi tunggakan PBB, hingga akhirnya mereka sepakat untuk menjual. Sebagai pembelinya adalah tetangga mereka sendiri, yaitu Beng Jayanata, pemilik Plaza Jayanata. “Pak Beng adalah tetangga yang baik. Duludulu dia juga membeli rumah di tetangganya untuk dibangun seperti sekarang ini. Giliran rumah orang tua kami, proses jual belinya sudah sejak awal 2015,” jelas Rin.

Proses jual beli rumah itu dilakukan sepanjang 2015, karena harus melalui perizinan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya. Menurut Rin, mereka menempuh komunikasi selama satu tahun dengan Disbudar. “Penjualan itu kami mendapat izin dari Disbudpar dan Tim Cagar Budaya. Jadi, Desember 2015 itulah, rumah orang tua kami dibeli Pak Beng,” tambah Narindrani.

Soal IMB Desember 2015, Narindrani dan Rin mengaku yang mengurus bukan lagi mereka, melainkan pihak pembeli. Begitu juga tentang pengajuan renovasi di Disbudpar pada Februari 2016 kemudian rekomendasinya keluar pada Maret 2016 juga sudah dilakukan pemilik baru. Tentang polemik ini, diakui keduanya, mereka merasa tidak nyaman. Tapi keduanya merasa ikhlas untuk menjalani. Karena pada Jumat (13/5) lalu, sudah mendapat panggilan dan men-jalani pemeriksaan di Satpol PP Kota Surabaya.

“Senin (16/5), kami akan memenuhi panggilan Polrestabes Surabaya. Kami siap memberi keterangan yang sebenarnya tanpa dikurangi maupun ditambah,” pungkas Rin.

Soeprayitno



Berita Lainnya...