Edisi 15-05-2016
Mengetuk Berkah Ilahi


Lantunan puji-pujian dalam bahasa Jawa dan doa dirapalkan lirih oleh penghulu upacara. Pagi masih menyisakan semburat jingga di ufuk timur.

Sejumlah orang dengan pakaian Jawa lengkap dan bertelanjang kaki sudah menapaki jengkal demi jengkal lereng Gunung Merapi mengikuti prosesi Labuhan Merapi di kawasan Sri Manganti, lereng selatan Gunung Merapi, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Senin (9/5) lalu. Ratusan peziarah dan wisatawan yang hendak menyaksikan prosesi upacara Labuhan Merapi berduyunduyun menuju kawasan Sri Manganti yang berjarak satu jam perjalanan dari Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Juru kunci Gunung Merapi Kliwon Suraksohargo memimpin arak-arakan ubo rampe (seserahan) menuju kawasan Sri Manganti. Upacara ini digelar masih dalam rangkaian prosesi Jumenengan Sri Sultan Hamengku bawono X. Bermacam ubo rampe yang akan dilabuh seperti Sinjang Cangkring, Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadung Melati, Destar Doromuluk, Peningset, ses/rokok, minyak wangi, uang dan bunga setaman dikeluarkan dari dalam kotak kayu yang dibawa para abdi dalem.

Setelah prosesi sakral ini selesai, para abdi dalem mulai membungkus nasi, suwir ayam dan juga serundeng yang dibawa dan dibagikan kepada pengunjung. Konon, nasi suwir ayam ini menurut kepercayaan mampu mendatangkan berkah dan keselamatan hidup bagi yang mendapatkannya. Upacara Labuhan Merapi pertama digelar tahun 1755 pascapengangkatan Sultan Hamengku Buwono I.

Hingga sekarang, agenda tersebut rutin digelar setahun sekali sebagai agenda budaya bagi Dinas Pariwisata Sleman untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara berkunjung ke Gunung Merapi dengan pengalaman yang berbeda.

Teks dan Foto: Koran Sindo/Bima Adityawan

Berita Lainnya...