Edisi 15-05-2016
Nabi Adam 2


Allah SWT memiliki al- Asma’ al-Husna atau nama-nama yang indah yang terdiri dari 99 poin. Nama-nama yang disandang- Nya itu sama sekali tidaklah arbitrer atau semena-mena sebagaimana yang banyak terjadi pada penamaan makhlukmakhluk- Nya.

Daun, misalnya, sungguh tidak ada argumentasi ilmiah mengapa ia ditempeli dengan sebutan daun. Demikian pula awan, mendung, hujan, sungai, lautan dan sebagainya. Nama-nama-Nya yang indah itu tidak saja memiliki makna yang korelatif dengan kemahaan-Nya, tapi juga memiliki garapan yang sesuai dengan kecenderungan masingmasing. Bukan hanya beraneka ragam, di antara nama-nama yang sangat sakral itu juga ada yang bertentangan antara yang satu dengan yang lain.

Al-Muntaqim (Yang Maha Menuntut Balas) jelas berseberangan dengan al-Ghaffar (Yang Maha Pengampun), al- Lathif (Yang Maha Lembut) jelas berlawanan dengan al-Mutakabbir (Yang Maha Sombong) dan sebagainya. Dari sini kita kemudian bisa memahami mengapa yang berlangsung dalam kehidupan ini tidak saja harmoni dan keserasian, tetapi juga pergesekan, friksi, pertikaian dan peperangan yang tidak kunjung usai. Dengarkan dengan saksama, kita akan menyimak gemuruh kehidupan ini sebagai melodi kolosal yang begitu rancak, menghentak-hentak, me - ngiris-iris hati, melenakan, memberikan pengharapan, sekaligus menenteramkan.

Atau pandanglah kehidupan ini secara utuh dan jeli, kita akan menyaksikan karnaval paling raksasa dengan warna-warni tidak terhingga yang senantiasa gemerincing dan berdentam-dentam de - ngan lakon demi lakon yang tidak ada putusnya. Itulah realisasi penggarapan-penggarapan yang dimotori namanama- Nya yang sangat indah tersebut. Nah , ketika Allah SWT berkehendak untuk menyaksikan realisasi dari namanama- Nya sendiri pada suatu ciptaan yang sanggup menampung bersemayamnya substansi al-Asma’ al-Husna itu, diciptakanlah Adam oleh hadirat-Nya dengan “kedua tangan-Nya” sebagaimana termaktub dalam QS Shad ayat 75.

Menurut Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165- 1240) dalam kitab tafsirnya, yang dimaksud dengan kedua tangan Allah SWT itu tak lain adalah sifat jamal dan sifat jalal yang disandang-Nya, yakni keindahan dan keagunganNya, keperkasaan dan kelembutan-Nya. Kedua sifat itu juga mencakup namanama hadirat-Nya yang berhadap-hadapan atau berlawanan. Hal itu dimaksudkan agar kedua sifat yang pokok bagi Allah SWT juga tertanam dalam diri Adam dan siapa pun dari kalangan keturunannya yang sanggup menjaga warisan-warisan spiritual leluhur umat manusia itu. Andaikan Adam hanya diciptakan dengan tangan ke - agung an-Nya semata, tentu beliau tidak akan sanggup untuk melepas seutas senyum pun sebagaimana yang dialami Malaikat Malik, si penjaga neraka.

Begitu pun seandainya beliau diciptakan hanya dengan tangan kein - dahan-Nya belaka, tentu beliau tidak akan mampu untuk marah walau hanya sekali sebagaimana yang dirasakan Malaikat Ridwan, si penjaga surga. Dengan melibatkan kedua tangan-Nya dalam penciptaan Adam, maka si Abul Basyar itu tidak saja berarti dianugerahi kemampuan dalam menampung nama-nama-Nya yang lain. Akan tetapi, beliau juga dijadikan layak untuk mengejawantahkan kehadiran-Nya dengan mengimplementasikan nama-nama itu secara keseluruhan dalam sikap dan sepak terjang kehidupannya.

Adam dengan demikian bisa disebut sebagai realisasi dari gumpalan nama-nama- Nya atau bahkan malah sebagai miniatur dari dimensi lahiriah-Nya sendiri. Cermin semesta bagi Ilahi menjadi terang-benderang karenanya. Itulah tafsir Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani (wafat pada 1166 M) terhadap sebuah hadis Nabi Muhammad Saw: “Almu’minu mir’atul mu’min .” Yakni, orang yang beriman adalah cermin bagi Allah yang memberikan rasa aman.

Dengan dimunculkannya Adam, nama-nama Allah SWT yang semula menggigil di dalam kegaiban zat-Nya kemudian menjadi sedemikian gamblang terhadap hadirat-Nya sendiri. Penglihatan Allah SWT terhadap realitas namanamaNya sendiri sama sekali tidaklah sama dengan pengetahuan- Nya terhadap namanama tersebut. Karena pengetahuan- Nya benar-benar azali sekaligus abadi yang tidak memerlukan adanya pengejawantahan dan kehendak terlebih dahulu terhadap obyekobyek yang diketahui-Nya.

Alam semesta itu kini, de - ngan Adam yang merupakan fokus kejernihan cermin-Nya, tampil sebagai salah satu nama-Nya, yaitu azh-Zhahir sebagaimana yang diisya ratkan oleh hadiratNya sendiri da lam Quran surat al-Hadid ayat 3: “Huwal awwalu wal akhi - ru wazh-zhahiru wal-bathin. “ Lantaran itulah, dengan ketegasan dan kecermatan spiritual dapat dipastikan bahwa perbuatan-perbuatan Allah SWT dan sifat-sifatNya itu akan senantiasa begitu gamblang mengejawantah pada seluruh partikel dari alam ciptaanNya, terutama pada kehidupan orang-orang beriman.

Maka suatu hal berikutnya menjadi pasti: seluruh isi semesta ini merupakan seabrek jalan ruhani yang bisa dipakai oleh setiap salik (penempuh lorong spiritual) untuk menyusuri “alamat-Nya.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta.



Berita Lainnya...