Edisi 15-05-2016
Hobi Berbuah Prestasi


HIDUP di lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia olahraga membuat Utami Dewi Oktaviani memberikan tempat tersendiri terhadap aktivitas olah tubuh.

Sempat mem pelajari beberapa jenis olahraga, mojang Ban dung itu tertambat hatinya kepada olahraga taekwondo. Kecintaannya terhadap olahraga asal Korea itu pun membawanya jadi atlet taekwondo andalan Jabar bahkan Indonesia. Sejumlah prestasi sudah ditorehkannya. Terakhir dia berhasil menyabet medali emas di PON XVIII/2012 di Riau. Sejak awal, Tami -sapaan akrabnya- sudah sangat cinta dengan cabang olahraga bela diri ini. Tak peduli seberapa kerasnya mempelajari olahraga pertahanan diri ini.

Baginya taekwondo merupakan cabang olahraga yang sangat digemarinya. “Mungkin gara-garanya saya ini tomboy dan hobinya berantem. Dan kebetulan deket rumah ada yang latihan taekwondo. Disitu saya lihat taekwondo banyak tendangan, jadinya tertarik ikut taekwondo,” ujar Tami. Beberapa olahraga pernah ditekuninya, dari mulai bulu tangkis dan bola voli. Namun kedua cabang olahraga tersebut tidak membuatnya puas. Sebaliknya dia bertekad serius menekuni taekwondo. Bahkan, keinginannya menggeluti taekwondo sempat ditentang sang Ayah Eko Samudra lantaran taekwondo lebih identik sebagai olahraga kaum Adam.

Namun dengan kegigihannya, Tami bisa meluluhkan hati Ayahanda tercinta. “Awalnya gakdiizinan sama papah. Sampepernah saya didaftarkan ikut les bulu tangkis di GOR Bandung. Kebenaran saat latihan bulu tangkis ada juga yang latihan taekwondo. Akhirnya saya bolos, dan ikut taekwondo,” kenangnya. Tami akhirnya berlatih taekwondo tepat saat duduk di kelas 5 sekolah dasar. Hasilnya dia langsung menorehkan prestasi sebagai juara di Kejurda Taekwondo Jabar. “Di situ mulai kepantau oleh tim taekwondo Kota Bandung dan langsung dipanggil untuk segera bergabung,” katanya.

Bersama tim taekwondo Kota Bandung, perempuan kelahiran 8 Oktober 1984 ini masuk dalam tim Pelatcab yang dipersiapkan bertarung di Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jabar 1999. Tentu saja, itu jadi pengalaman yang manis sekaligus pahit dari hidupnya. Sebab sejak kelas 6 SD, Tami sudah harus dijauhkan dari kedua orangtua lantaran padatnya jadwal pertandingan kejuaraan yang harus dihadapinya. Namun di balik itu semua, kondisi tersebut membuatnya lebih gigih untuk memberikan hasil maksimal dalam setiap pertandingan.

Hasilnya, dia mampu menorehkan sejumlah prestasi hingga akhirnya menembus tim Pelatda Jabar yang dipersiapkan menuju ajang PON dan beberapa kejuaraan Internasional. Bersama tim Pelatda taekwondo Jabar, beberapa prestasi ditorehkan dari mulai medali emas di PON Palembang 2004, masuk delapan besar Kejuaraan Dunia Women di Geongdju, medali emas di Korea Open, medali perunggu di SEA Games 2003 Vietnam, medali perak di Kejuaraan Taekwondo se-Asia Tenggara di Vietnam, medali perunggu di Kejuaraan Taekwondo se-Asia Tenggara di Yogyakarta dan terakhir medali emas di PON XVIII/2012 di Riau.

Dari segudang prestasi yang dimilikinya, Tami mengaku, memiliki kenangan tak terlupakan terutama saat mengalahkan salah satu taekwondoin papan atas nasional di era 2000’an Rahadewi Neta. Bagi Tami, atlet taekwondo asal Jawa Timur itu merupakan musuh bebuyutannya lantaran kerap bertemu dan mengalami kekalahan di kelas fly-49 kilogram. “Tapi pas PON 2004 di Palembang, saya akhirnya bisa menang. Itu yang paling berkesan bagi saya,” ungkapnya.

Tami sempat merasakan kejenuhan dalam menjalani hobinya sebagai taekwondoin ini. Namun hal itu tak berlangsung lama hingga akhirnya ia kembali terpanggil untuk membela Jabar di PON XVIII/2012 di Riau. “Dulu saya sempat down, selain tidak diperpanjang sebagai TKK di taekwondo Kota Bandung di PON 2008 kalah karena memang saya turun bukan di kelas saya. Tapi akhirnya 2012 ikut lagi, alhamdulillah disitu dapet emas,” katanya.

Perolehan medali emas di PON XVIII/2012 di Riau itu merupakan karir terakhirnya sebagai taekwondoin Jabar. Selain usia yang sudah melewati batas, Tami juga sudah memiliki putra hasil dari pernikahan dengan Andri Kurnia yang merupakan atlet gulat asal Jabar.

Muhammad ginanjar



Berita Lainnya...