Edisi 30-05-2016
Deteksi Dini Penyakit Jantung


Menurut WHO, 60% penyebab kematian tertinggi akibat penyakit jantung disebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK). Prevalensi PJK terus meningkat setiap tahun dengan dominasi pria. Deteksi dini amat diperlukan bagi mereka yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit ini.

Pasien dengan diabetes ataupun hipertensi memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit jantung koroner (PJK). Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2012 menunjukkan, hipertensi menyumbang 51% kematian akibat stroke dan 45% kematian akibat jantung koroner.

Hipertensi yang tidak diobati dapat menyebabkan kebutaan, irama jantung tidak beraturan, dan gagal jantung. Cardiologist RS Jantung Diagram (Siloam Hospitals Group) Dr Sri Diniharini SpJP menegaskan, hipertensi berpotensi menyebabkan berbagai gangguan jantung, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, hingga gangguan irama jantung.

“Tekanan darah yang terus meningkat dalam jangka panjang akan menyebabkan terbentuknya kerak (plak) yang dapat mempersempit pembuluh darah koroner. Padahal, pembuluh darah koroner merupakan jalur oksigen dan nutrisi (energi) bagi jantung. Akibatnya, pasokan zat-zat penting atau esensial bagi kehidupan sel-sel jantung jadi terganggu,” kata Dini di RS Jantung Diagram dalam acara RS Jantung Diagram Penyedia Fasilitas Center of Excellence Kardiologi, belum lama ini.

Dengan demikian, penderita tekanan darah tinggi berisiko dua kali lipat menderita PJK. Bahkan risiko ini berlipat ganda apabila penderita hipertensi juga menderita diabetes melitus, kadar kolesterol dalam darahnya tinggi (hiperkolesterol), obesitas, dan merokok. Tidak hanya pembuluh darah koroner jantung yang terkena dampak hipertensi, juga otot jantung.

Fungsi jantung yang lemah akibat hipertensi adalah suatu kondisi yang tak bisa dipulihkan. Obatobatan hanya mampu mencegah penurunan fungsi jantung. “Itulah pentingnya deteksi dini, terutama bagi mereka yang sudah mempunyai faktor risiko yang tinggi. Caranya, bisa dengan pemeriksaan echocardiografi atau USG jantung,” tutur Dini.

Alat ini digunakan untuk menilai fungsi dan anatomi jantung. Pemeriksaan tersebut menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi yang dicitrakan ke dalam layar monitor untuk dinilai. “Alat echocardiografi dapat mendeteksi secara lengkap anatomi jantung, tekanan di dalam jantung, dan volume darah secara terperinci,” ujar Dr Jeffrey Wirianta SpJP, Chief of Staff RS Jantung Diagram Cinere.

Menurut Direktur RS Jantung Diagram Cinere Dr Winahyo Hardjoprakoso SpOG, echocardiografi merupakan salah satu layanan yang ada di RS yang dikelolanya itu. RS tersebut memang dibangun melalui kerja sama dengan Heart Centre Isala Klinieken- Zwolle Belanda yang tersohor.

Rumah Sakit Jantung Diagram selalu berusaha menyediakan layanan pengobatan jantung terbaik di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara dengan perlengkapan teknologi yang mutakhir. RS Jantung Diagram Cinere juga telah berhasil menjadi rumah sakit pilihan berstandar internasional yang aktif dalam pendidikan, pelatihan, serta penelitian penyakit jantung.

Didukung oleh tim dokter spesialis jantung dan konsultan internasional yang berpengalaman, rumah sakit jantung di Kota Depok, Jawa Barat, ini menerapkan standar tinggi dalam pengobatan penyakit jantung bagi masyarakat Indonesia. Lalu, kapan pasien membutuhkan echocardiografi?

Yakni jika pasien dicurigai mengalami gangguan fungsi pompa jantung atau anatomi jantung berdasarkan keluhan pasien, seperti sesak napas, berdebar, atau nyeri dada. Echocardiografi juga dibutuhkan jika berdasarkan pemeriksaan fisik oleh dokter didapat adanya kelainan jantung dan bising jantung. Pada bayi hingga remaja dengan kelainan jantung bawaan, maka pemeriksaan ini sangat penting dilakukan untuk mencari kelainan anatomi jantung tersebut.

Pemeriksaan USG jantung ini hampir tidak berisiko dengan biaya yang juga relatif terjangkau. Menurut Jeffrey, USG jantung juga bisa digunakan untuk mengevaluasi pengobatan dan melihat perbaikan kondisi pasien.

Data-data yang diketahui dari pemeriksaan ini mempunyai nilai yang dapat memprediksi kondisi jantung sebelum timbul keluhan yang dirasa oleh pasien. Dengan demikian, dokter dapat memberi terapi lebih akurat, khususnya untuk pasien yang sudah terdiagnosis penyakit jantung.

sri noviarni