Edisi 30-05-2016
Penanganan Tepat Atasi Demam Berdarah


Menurut data Kemenkes RI 2014, terdapat 71.688 kasus demam berdarah dengan 641 kasus kematian. Ini berdasarkan data sampai dengan pertengahan Desember 2014.

Penelitian yang dilakukan oleh GSK Consumer Healthcare Indonesia menemukan, 97% orang Indonesia mengetahui demam berdarah, tapi hanya bisa menyebutkan tiga gejalanya, yakni umumnya panas dan ruam-ruam. Selain itu, hanya 10% orang Indonesia yang mengetahui bahwa obat-obatan anti-inflamasi nonsteroid (AINS) harus dihindari dalam pengobatan demam berdarah.

Menurut Dr Mulya Rahma Karyanti MScSpA (K), perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam acara Train The Trainers Bersama Melawan Demam Berdarah di Gedung PKK Melati Kebagusan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, Mei ini kasus DBD di Indonesia tercatat paling tinggi. “Deteksi gejala dan penanganan yang tepat untuk pasien demam berdarah dengue sangat dibutuhkan untuk menekan angka kematian. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya proaktif dari berbagai kalangan masyarakat dan pemerintah,” katanya.

Ketika anak demam, orang tua harus memantau input, yaitu asupan minuman. Bisa diberikan susu atau aneka jus maupun minuman elektrolit. Pantau pula aktivitas anak, apakah anak aktif atau hanya tidur. Ketahui pula bagaimana output anak, apakah dia buang air kecil setiap 3-4 jam sekali. Terakhir, ukur suhu tubuhnya. Jika suhu tubuh turun jangan langsung senang, perhatikan input , aktivitas, dan output -nya.

“Kalau suhu turun tapi anak tidur, lemas, harus diwaspadai. Sebab, anak sedang masuk fase kritis dan ini yang paling rawan dan orang tua suka kecolongan,” kata Mulya. Rekomendasi WHO untuk penanganan pasien DBD adalah dengan pemberian cairan yang cukup dan penanganan tepat. Parasetamol adalah obat yang tepat untuk mengurangi nyeri dan demam.

Sementara asam asetilsalisilat dan AINS seperti ibuprofen justru akan meningkatkan risiko gangguan lambung serta pendarahan yang akan sangat berbahaya bagi pasien DBD. Pemberian aspirin juga tidak disarankan. Untuk diketahui, ada beberapa gejala DBD, yakni panas tinggi dengan gejala sakit kepala berat, nyeri pada belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, serta ruam-ruam.

Gejala tersebut biasanya muncul pada 2-7 hari setelah masa inkubasi 4-10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Menyadari masih kurangnya pemahaman akan DBD, GSK Consumer Healthcare meluncurkan gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah dengan menggandeng IDAI pada beberapa bulan lalu.

“Kemitraan dengan IDAI dan Kemenkes adalah bentuk komitmen GSK terhadap kesehatan di Indonesia. Gerakan ini ditindaklanjuti dengan kegiatan Train The Trainers kepada organisasi tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga di tiga kota besar di Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta,” kata Dr Ferawati Lie, Medical Advisor GSK Consumer Healthcare Indonesia.

Mulya melanjutkan, gejala demam berdarah yang berat biasanya muncul setelah hari ketiga timbulnya demam. Tanda bahaya demam berdarah, di antaranya sakit perut yang hebat, muntah terus-menerus, hidang dan gusi berdarah, susah bernapas, mengantuk, kebingungan, kejang, pucat, tangan atau kaki dingin/berkeringat. Jika anak menderita gejala tersebut, segeralah mencari pertolongan medis.

sri noviarni