Edisi 31-05-2016
Mitos Dan Fakta Pil Kontrasepsi Hormonal


Banyak perempuan menghindari penggunaan kontrasepsi hormonal untuk mencegah kehamilan. Penyebabnya, beragam mitos yang beredar di masyarakat.

Padahal, berkat kemajuan ilmu dan teknologi, alat kontrasepsi hormonal, khusus-nya pil, justru menawarkan sejumlah keunggulan sekaligus mematahkan mitos yang berkembang selama ini. Saat ini tercatat sembilan dari sepuluh perempuan di dunia menggunakan alat kontrasepsi modern.

Dari beragam jenis metode kontrasepsi yang ada, pil menempati urutan ketiga sebagai metode kontrasepsi yang paling umum dipakai di dunia. Namun, khusus di Indonesia, hanya 13,6% wanita yang menggunakan pil kontrasepsi. Spesialis obstetri & ginekologi Dr Boy Abidin SpOG menyinyalir, faktor utama penyebab masih rendahnya penggunaan pil ini adalah keberadaan mitos terkait kontrasepsi hormonal.

Menurut dia, masih banyak perempuan enggan menggunakan pil kontrasepsi hormonal lantaran takut bakal sulit hamil, gemuk, atau bahkan terkena kanker. Padahal, hal tersebut tidaklah benar. Menurut penelitian, sambung Boy, penggunaan pil kontrasepsi yang mengandung hormon kombinasi estrogen dan progestin tidak akan menyebabkan efek negatif pada tingkat kesuburan.

Tidak pula benar bahwa semua pil kontrasepsi bisa membuat berat badan bertambah. Penelitian ilmiah telah menunjukkan, penambahan berat badan bukan disebabkan oleh pemakaian pil kontrasepsi, melainkan karena faktor usia yang bisa membuat bobot tubuh sulit turun, pola diet salah, serta kurangnya aktivitas fisik.

“Dulu pada 1960-an, dosis estrogen dan progestin yang digunakan masih tinggi sehingga menimbulkan efek mual, muntah, dan peningkatan berat badan. Namun, seiring kemajuan teknologi, dosis ini dikurangi hingga tinggal berkadar mikrogram saja. Pengurangan ini dilakukan untuk meminimalkan efek samping.

Semakin rendah kadar hormon, maka akan semakin berkurang efeknya. Namun, tetap efektif untuk mencegah kehamilan,” beber Boy dalam diskusi media bertajuk “Bicara Kontrasepsi” yang digagas PT Bayer Indonesia di Jakarta, pekan lalu. Boy menambahkan, di balik anggapan yang berkembang mengenai risiko kanker akibat penggunaan pil kontrasepsi, yang terjadi justru sebaliknya.

Pil kontrasepsi yang di dalamnya mengandung hormon kombinasi estrogen dan progestin dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan endometrial. “Data menunjukkan, risiko kanker ovarium pada perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi untuk jangka panjang justru menurun.

Penelitian juga menunjukkan adanya penurunan risiko kanker endometrial hingga 50% pada perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi,” ungkap dokter yang berpraktik di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, itu. Mitos lain yang berkembang juga menyebutkan, pil kontrasepsi bisa menyebabkan wanita tidak mengalami menstruasi atau menstruasi tapi darah yang keluar sangat sedikit.

Hal ini, lanjut Boy, kerap dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Pasalnya, para wanita berpendapat bahwa darah menstruasi yang banyak adalah yang paling baik. “Itu mitos. Darah menstruasi banyak justru mengakibatkan ketidaknyamanan. Dengan pil kontrasepsi kombinasi, siklus menstruasi yang teratur dapat dipertahankan,” ujar Boy, seraya menyebut kontrasepsi oral ini juga berguna untuk membuat kulit halus sehingga mematahkan mitos bahwa pil bisa menyebabkan wajah berjerawat.

“Pil kontrasepsi kombinasi merupakan metode kontrasepsi yang bisa diandalkan untuk menghindari kehamilan bila diminum secara konsisten, dengan jadwal yang tetap dan benar. Tingkat kegagalannya kurang dari 1 per 100 perempuan,” sebut Boy.

CARA KERJANYA

Siklus menstruasi yang terjadi tiap 28 hari dikendalikan oleh salah satu bagian dari otak, yaitu hipotalamus. Hipotalamus mengirimkan pesan ke kelenjar hipofisis di otak untuk merangsang ovarium memproduksi hormon seks wanita, yaitu estrogen dan progesteron. Nah, kontrasepsi hormonal bekerja dengan mengubah fluktuasi hormonal dalam siklus menstruasi wanita.

Efek dari penggunaan kontrasepsi hormonal, yaitu tubuh berpikir dalam keadaan hamil, meskipun tingkat hormon perempuan lebih rendah ketika mengonsumsi pil dibandingkan selama kehamilan. Komponen estrogen dalam kontrasepsi oral kombinasi menghentikan proses kematangan telur dalam ovarium, sedangkan progestin menghambat ovulasi dan menyebabkan lendir serviks menebal sehingga sperma sulit mencapai sel telur. Efek gabungan dari kedua hormon tersebut, yaitu mencegah lapisan rahim mengalami penebalan.

titi s apridawaty