Edisi 03-06-2016
Indosat Tekan Utang Valas


JAKARTA– PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo) siap menekan porsi utang valasnya berbentuk dolar AS menjadi 10% di akhir 2016. HinggakuartalI/ 2016porsi valas dalam utang Indosat telah berkurang menjadi 21% dari sebelumnya 25% di akhir 2015.

President Director and CEO Indosat Alexander Rusli mengatakan, fokus perseroan dalam menekan porsi utang valas sangat penting saat ini. Mengingat, fluktuasi nilai tukar dalam utang sangat signifikan menekan perolehan laba. Di sepanjang kuartal I/2016 perseroan mencatat utang mencapai Rp22 triliun, berkurang 6,7% dari total utang tahun 2015 sebesar Rp23,7 triliun.

”Kami lakukan langkah strategis untuk menekan porsi valas dalam utang. Hal ini demi mengurangi dampak depresiasi rupiah yang berdampak pada pencapaian laba,” ujar Alexander dalam jumpa pers usai RUPS Tahunan di Jakarta kemarin. Per31Maret2016totalutang Indosatnaiksebesar4,8% dibandingkan 31 Maret 2015.

Pembayaran yang dilakukan dalam tahun tersebut adalah pembayaran cicilan pinjaman SEK Tranche A, B dan C sebesar USD45 juta, cicilan pin-jaman HSBC Coface dan sinosure sebesar USD20,1 juta, cicilan pinjaman komersial 9 tahun dari HSBC sebesar USD4,1 juta, percepatan pelunasan GN 2020 sebesar USD650 juta, pelunasan obligasi VI seri B sebesar Rp320 miliar,

pembayaran fasilitas RCF BSMI sebesar Rp250 miliar, pembayaran fasilitas kredit investasi BCA sebesar Rp100 miliar, dan pembayaran pinjaman dari kepentingan nonpengendali APE sebesar Rp15,75 miliar. Penambahan utang sepanjang 31 Maret 2015 sampai 31 Maret 2016 adalah penarikan fasilitas RCF BCA sebesar Rp1,6 triliun, penarikan fasilitas RCF BNI sebesar Rp600 miliar, penarikan fasilitas RCF BTMU sebesar Rp250,0 miliar,

penarikan fasilitas RCF BNPP sebesar Rp50,0 miliar, penerbitan Obligasi Berkelanjutan Indosat I Tahap II sebesar Rp2,68 triliun, penerbitan Sukuk Ijarah Berkelanjutan Indosat I Tahap II sebesar Rp416 miliar. Dia juga mengatakan, pihaknya mengawali tahun 2016 dengan pertumbuhan kuat yang dipicu oleh layanan data, di mana pertumbuhan traffic data sebesar 52,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Perusahaan mencatat pertumbuhan untuk pendapatan sebesar 11,8% terhadap periode yang sama tahun sebelumnya, dengan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp6,8 triliun untuk triwulan pertama 2016. ”Meskipun secara industri ada penurunan kinerja, kami tetap optimistis akan mencapai target pertumbuhan 8-9% hingga akhir tahun nanti,” ujarnya.

Alexander menyampaikan, setelah melewati tahun 2015 dengan hasil yang sangat baik, Indosat Oredoo sangat optimistis dengan pencapaian tahun 2016 yang mulai terlihat dalam triwulan pertama ini. Walaupun industri di triwulan pertama ini secara musiman memang sedikit melemah, tidak melemahkan semangat untuk tetap menjadi yangterbaik.

”Kitaakanjalankan strategi dengan segenap kekuatan untuk memenangkan pertempuran,” katanya. Khusus pendapatan data tetap (MIDI) meningkat sebesar 1,0% dibandingkan triwulan pertama 2015, utamanya disebabkan adanya peningkatan kapasitas fixed internet . Pendapatan telepon tetap (telekomunikasi tetap) turun sebesar 21,4% dibandingkan triwulan pertama 2015 yang disebabkan turunnya traffic dan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pertumbuhan pendapatan didukung oleh pendapatan seluler yang meningkat sebesar 15,8% pada triwulan pertama 2016, utamanya disebabkan peningkatan pendapatan data SMS, telepon, dan VAS yang diimbangi dengan penurunan dari pendapatan interkoneksi.

Jumlah pelanggan selular pada akhir triwulan I.2016 mencapai 69,8 juta pelanggan, meningkat 3,3 juta pelanggan dibandingkan triwulan pertama 2015 karena kampanye akuisisi yang agresif setelah persepsi kualitas jaringan meningkat. Penambahan pelanggan didominasi pengguna data.

”Kami lebih fokus untuk melayani pelanggan existing daripada mengakuisisi pelanggan baru,” ujarnya. Selain itu, EBITDA juga tumbuh 13,7% menjadi Rp2,9 triliun (TW1 2015 sebesar Rp2,6 triliun), denganmarginEBITDAsebesar 43,5%. Sebagaimana diketahui, margin EBITDA adalah pengukuran profitabilitas operasi perusahaan sebagai persentase dari total pendapatan. Beban perseroan juga mengalami peningkatan sebesar 6,7% menjadi Rp5,9 triliun dibandingkan periode sama di 2015 sebesar Rp5,6 triliun.

hafid fuad