Edisi 12-06-2016
Lompat Kodok ala CEO Defora


Pola permainan pasar kini berubah, new games . Maka dibutuhkan new response. Sebuah respons yang benar-benar bersifat leap frog ; ada terobosan yang menghasilkan lompatan besar ke depan.

Revolusi bidang teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah segalanya. Negara sebagai teritori kini tak lagi mengenal tapal batas. Dunia menjadi kampung besar. Kejadian atau tren di satu sudut kampung akan diketahui dan ditiru di pojok lain. Perubahan begitu cepat terjadi di semua lini kehidupan; sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Perubahan sosial semisal cara pandang, perilaku, dan gaya hidup merupakan keniscayaan.

Dalam dunia bisnis, perubahan- perubahan itu serentak menjadi peluang dan tantangan. Hanya perusahaan yang cermat melihat peluang bisa bertahan hidup dan bahkan meraup keuntungan berlipat ganda. Buku New Games New Respons karya Hendrik Lim MBA memapar ihwal bagaimana perusahaan merespons situasi yang dihadapi saat ini.

Agar perusahaan bertahan hidup dan bahkan bisa mencapai hasil yang spektakuler, strategi yang digunakan tidak lagi bersifat konvensional. Strategi yang menjadi pakem sebelumnya, kini tidak berlaku lagi. Mengapa demikian? Sebab, telah terjadi perubahan fundamental yang mau tak mau perusahaan harus meresponsnya secara nonkonvensional.

Pada sisi konsumen, papar CEO Defora Anugrah Perkasa, kini telah terjadi perubahan selera yang begitu cepat. Inovasi teknologi yang membuat semua hal terhubung menyebabkan preferensi konsumen bergerak amat cepat. Konsumen menginginkan sesuatu yang secara substansial berbeda, sesuatu yang orisinal dan otentik pada values creation. Pada sisi perusahaan, pemicu utama kinerja kini telah bergeser.

Rumus untuk menghasilkan terobosan kinerja juga telah berubah. Selain itu, seiring perubahan selera konsumen, strategi yang diterapkan perusahaan kerapkali cepat usang alias out of date . Setidaknya tantangan itu harus direspons secara tepat apabila sebuah perusahaan ingin hidup dan bertumbuh.

Tiga Kata Kunci

Ada tiga masterkey jika perusahaan ingin bertahan, bertumbuh, dan meraup keuntungan, yaitu values creation, strategy, dan engagement . Dalam hal values creation yang menjadi fokus mengidentifikasi apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen. Dengan berorientasi pada apa peluang baru yang muncul dari dinamika tersebut, perusahaan akan memiliki kemampuan menjaring arus pendapatan (top line ).

Hanya dengan fokus pada peluang-peluang tersebut, berbagai analisis tentang tantangan yang dihadapi perusahaan akan memiliki arti dan relevansi terhadap value creation maupun strategi (h 204). Kalau values creation berkaitan dengan produk atau jasa apa yang bakal dijual ke konsumen, strategi berkaitan dengan bagaimana mendaratkan values creation itu secara distingtif dan deferent.

Strategi berarti menyangkut siasat dan teknik mendaratkan sebuah pesan tentang vales creation yang dihasilkan perusahaan kepada para konsumen. Karena itu, strategi harus dirancang secara jitu. Formulasi dan eksekusi strategi yang cermat dan tajam akan menentukan keberhasilan. Strategi yang hebat harus didukung oleh value creation yang solid dan inovatif. Dengan itu, perusahaan bisa memenangkan persaingan.

Namun, tidak hanya strategi dan values creation, tapi juga engagement. Kemampuan mengengagement dalam sebuah perusahaan atau korporasi sangat penting. Apa itu engagement? Engagement merupakan sikap atau rasa keterikatan yang menimbulkan komitmen bersama sehingga setiap individu melakukan pekerjaan secara luar biasa.

Mendorong seseorang agar merasa memiliki adalah hal utama guna meraih kinerja yang baik. Sebab, ketika setiap individu menyatu dan senang dengan apa yang mereka kerjakan, mereka akan haus mencari tambahan pekerjaan ketika pekerjaan telah selesai. ”Anda tidak bisa menyetopnya. Mereka yang menyatu dengan pekerjaannya, akan larut dalam keasyikan kerja. Mereka ini sering disebut in the flow dalam pekerjaan” (h 269).

Lalu, bagaimana mencapai itu? Pertama, yang perlu dilakukan adalah menawan minat dan pikiran para warga perusahaan. Dari sisi konten bisnis, ini menyangkut aspek perumusan konten alias esensi produk yang dijual. Perumusan menyangkut keuntungan produk atau jasa harus tajam; seberapa berharga apa yang akan ditawarkan.

Dalam kaitan dengan engagement, perumusan itu harus memberikan pesona magis kuat, sehingga setiap individu ingin menjadi bagian darinya. Perumusan itu sanggup menawan pikiran dan minat warga perusahaan. Mengapa rumusan bisnis harus jelas? Sebab, untuk menawan minat pikiran insane perusahaan deskripsi harus masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan (h 345).

Kedua , tangkap motif dan menangkan hati. Formulasi motif bisnis perlu dirancang dengan tepat dan mudah dimengerti. Ini akan menggerak perilaku kolektif insan perusahaan. Kekuatan motivasional ini jauh lebih hebat dari yang dihasilkan cognitive intelligence. Untuk meng-engagement the heart, perlu sosialisasi mengapa perseroan harus ada dan apa kontribusi di balik produk dan jasa yang diciptakan. Buku ini disambut gegap gempita oleh para pemimpin perusahaan.

Donatus Nador
Wartawan KORAN SINDO