Edisi 12-06-2016
Marhaban Bulan Training Kejujuran


Ramadan 1437 Hijriah kembali menghampiri kita. Setiap pribadi muslim pun menyambut bulan penuh rahmat seraya mengucapkan, ”Marhaban ya Ramadan” . Akar kata marhaban , yakni rahb, berarti tempat yang luas atau lapang.

Dengan begitu, ungkapan Marhaban ya Ramadan berarti bahwa Ramadan merupakan tamu agung yang harus disambut dengan lapang dada dan penuh kegembiraan. Kita harus menyambut Ramadan dengan hati yang tulus disertai niat yang kuat untuk memerangi hawa nafsu serta menghiasi siang dan malam hanya untuk beribadah. Kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan merupakan nikmat yang tiada tara.

Karena itulah, kita harus berkomitmen untuk menjadikan Ramadan sebagai media mengasah dan mengasuh jiwa. Ramadan merupakan momentum untuk membersihkan jiwa dari segala kotoran yang terlintas dalam pikiran, terucap dari lisan, dan terlaksana dalam tindakan. Jika mampu membersihkan jiwa dan memperbanyak ibadah, kita akan keluar dari bulan Ramadan sebagai pribadi yang bersih dan suci.

Banyak pengalaman rohani yang bisa diperoleh selama beribadah pada bulan Ramadan. Salah satunya pelatihan (training ) kejujuran. Dapat dikatakan bahwa Ramadan telah mengajarkan orang yang berpuasa berperilaku jujur. Pelajaran kejujuran dapat diamati tatkala melihat keteguhan orang berpuasa.

Dia mampu menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan yang membatalkan ibadah puasa meski sedang sendirian, tidak ada yang tahu. Substansi puasa memang terletak pada kemampuan seseorang untuk menahan diri (imsak ) dari segala godaan. Sikap menahan diri merupakan buah dari keyakinan bahwa Allah Maha Hadir (omnipresent) dalam kehidupan. Orang yang berpuasa merasa begitu dekat dengan Allah.

Pengalaman rohaniah inilah yang disebut bertakwa dalam pengertian selalu merasa diawasi Allah. Bukankah tujuan akhir berpuasa adalah agar pelakunya bertakwa (QS Al-Baqarah: 183). Inilah hebatnya Ramadan. Meski tanpa pengawasan manusia, Ramadan mampu menanamkan nilai-nilai kejujuran pada orang yang berpuasa. Ramadan bisa memaksa setiap pribadi berperilaku jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain, dan jujur pada Allah.

Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Ramadan adalah bulan training kejujuran. Pertanyaannya, bagaimana hasil training kejujuran pada bulan Ramadan? Terasa sekali bahwa training kejujuran ini terlaksana secara efektif sehingga menghasilkan pribadi jujur dan berintegritas.

Sifat kejujuran inilah yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Jika budaya jujur seperti saat berpuasa bisa diterapkan, sendi-sendi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, danberbangsaakan tampak religius. Tetapi, realitas seringkali menunjukkan absennya nilai-nilai kejujuran. Yang terjadi justru sebaliknya. Tampak ada banyak kebohongan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Berkaitan dengan praktik ketidakjujuran yang telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan, kita tidak boleh berpangku tangan. Marilah kita dengungkan spirit untuk melawan ketidakjujuran. Tidak usah menyalahkan kondisi di luar yang sudah bobrok. Kita mulai dari diri sendiri untuk berperilaku jujur.

Jika budaya jujur dimulai dari setiap pribadi, kita akan menyaksikan keadaan masyarakat dan bangsa yang jujur. Semoga training Ramadan bisa menjadikan kita sebagai pribadi yang jujur dan berintegritas.

BIYANTO
Dosen IAIN Sunan Ampel dan
Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur