Edisi 12-06-2016
Membangun Kepercayaan Masyarakat


Peran humas BUMN yang utama adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan. Untuk bisa mencapai hal tersebut, humas perlu program kerja yang harus disesuaikan dengan ekspektasi dari manajemen perusahaan.

Ketua Umum BPP Perhimpunan Humas (Perhumas) Indonesia Agung Laksamana menjelaskan, secara fundamental peran kehumasan adalah internal dan eksternal dan membangun reputasi organisasinya. Artinya, secara internal organisasi, seorang humas harus mampu memahami visi-misi dari CEO dan arah tujuan dari organisasi tersebut sehingga mampu mengartikulasikan dalam bentuk program kerja yang impactful.

”Jadi fungsi tugasnya adalah memahami apa KPI dari CEO dan manajemen organisasinya sehingga program kerja humas selaras dengan ekspektasi CEO perusahaan,” kata Director of Corporate Affairs Citibank Indonesia ini. Sedangkan secara eksternal, lanjut dia, humas harus membangun kepercayaan dengan key stakeholder-nya baik media, asosiasi, LSM, perbankan, dan lain-lain. Sehingga, wujud akhirnya adalah image dan reputasi perusahaan yang positif dan trusted di mata publik.

Menurut Agung, jika hal tersebut tidak diperhatikan, akan berdampak pada brand dari organisasi dan pada bottom line perusahaan. Seperti kata Warren Buffet akan pentingnya reputasi: It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that you’ll do things differently. ”Di sinilah peran humas menjadi strategis. Dan, Indonesia butuh humas yang mempunyai pemikiran strategis,” katanya.

Penulis buku What CEO Wants from PRini menekankan, humas harus seorang yang sangat meyakinkan, sangat komit, dan setiap saat menyosialisasikan semua ihwal positif dan achievements dari organisasinya. Tidak peduli seberapa besar atau kecil peran itu, humas perusahaan harus berkontribusi terhadap the big picture dalam bisnis organisasi dan bahkan brand perusahaan.

Brand Consultant dan Ethnographer Amalia E Maulana mengatakan, masyarakat kini semakin kritis, butuh didengarkan, direspons, dan diberikan feedback. Pada saat mereka memberikan suaranya tentang perusahaan misalnya BUMN, content itu harus ditanggapi dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

”Jika dulu karakteristik personal humas disebut harus sociable dan luwes dalam berteman dengan personal media konvensional, hal yang sama pun berlaku untuk personal humas masa kini. Ia juga perlu menjadikan dirinya sebagai seseorang yang sociable dan berteman dengan ‘khalayak’ masyarakat modern di dunia media sosial. Berteman dengan netizen misalnya,” papar Amelia.

Menurut dia, masih banyak humas di BUMN yang masih gamang menghadapi netizen. Banyak kekhawatiran untuk ikut masukkealambarukarenadianggapmediainisangat tidakterkontrol. ”Dianggapnya bahwa menjauh dari media ini menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan berada di dalamnya,” paparnya.

Padahal, lanjut dia, seorang humas apalagi di BUMN punya tanggung jawab yang sangat besar untuk bisa berkomunikasi baik dengan publik. Merekrut generasi muda untuk ikut dalam jajaran humas di BUMN menjadi salah satu solusi. Corporate Communication Manager PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Dody Agoeng mengatakan, bagian humas mempunyai peran yang sangat strategis dalam membangun citra perusahaan atau BUMN.

Dengan perannya yang strategis tersebut, sudah seharusnya jika humas tidak ditaruh hanya sebagai pelengkap dalam struktur organisasi. ”Posisi humas sesungguhnya sangat vital karena sebagai penghubung antara perusahaan dan masyarakat atau stakeholder,” tegasnya.

Menurut Dody, ada beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain secara berkala memberikan pernyataan terkait informasi tentang perusahaan dan isu yang ada di luar yang perlu diberikan pemahaman. Ini perlu dilakukan agar semua pegawai dalam perusahaan mempunyai satu pemahaman yang sama.

”Secara standar itu yang dilakukanuntukmembangunkomunikasididalam. Sementarauntuk kebutuhan eksternal diperlukan pembentukan opini publik. Bagaimana output-nya adalah public melihat atau menilai perusahaan kita positif,” papar dia.

hermansah/ robi ardianto