Edisi 12-06-2016
Membantu dan Membangun Kesadaran Masyarakat


Lantaran memiliki latar belakang ilmu pendidikan, Eulis Utami jadi termotivasi untuk menyebarkan ilmu yang dimilikinya itu. Meskipun tidak terlalu berminat menjadi seorang guru yang mengajar secara formal, ia sangat tertarik pada kegiatan sosial.

Pernah menjadi relawan di komunitas Sekolah Bersama Yuk (Sebersy) dan melihat kondisi anak-anak di Kampung Ceger yang ternyata tidak bersekolah, membuat hati wanita berdarah Sunda ini tergerak untuk tidak hanya menjadi relawan pengajar, tetapi sekaligus ingin membantu mengadakan biaya pendidikan agar mereka tetap bisa menimba ilmu di sekolah.

Menurut Eulis, saat melihat keadaan dan kondisi anak-anak di Kampung Ceger yang tidak bersekolah, ia langsung terpikir untuk bisa membantu biaya pendidikan mereka. ”Saat itu saya berpikir, bagaimana caranya bisa membuat pendanaan untuk fasilitas pendidikan bagi anakanak tersebut. Akhirnya saya dibantu teman-teman mencari sesuatu dan kegiatan yang produktif,” kata Founder Komunitas WABE Project ini.

Meskipun tidak terlalu mengenal isu lingkungan dan tak mendalami bidang tersebut, Eulis mau belajar secara perlahan bersama teman-temannya dan menjadikan sampah sebagai tabungan agar membantu pendidikan anak-anak di Kampung Ceger. Eulis menjelaskan, dirinya tidak memberikan uang secara tunai kepada anak-anak.

Hal tersebut dilakukan agar mereka tidak selalu menengadahkan tangan mengharap bantuan orang lain. Selain itu, cara ini diyakini bisa membuat anak-anak peduli terhadap lingkungan di sekitar mereka. ”Untuk menabung sampah, kami memang lebih tekankan kepada anakanak agar mereka belajar dari kecil untuk mencintai lingkungan.

Minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, sampah yang mereka anggap tidak berharga, ternyata bisa membantu pendidikan,” beber Eulis. Tidak mudah bagi Eulis untuk menyadarkan masyarakat agar mau mengumpulkan sampah yang berasal rumah mereka seperti kardus, botol bekas, dan lain-lain.

”Mereka terbiasa membuang sampah sembarangan ke kali, atau ke kebun di belakang rumah,” jelasnya. Maka itu, perlu ada contoh terlebih dulu untuk menunjukkan bahwa sampah yang mereka miliki dapat ditukar supaya bisa membantu pendidikan anak-anak. ”Kalau sudah ada yang bisa menukarkan sampah dengan produk seperti seragam sekolah, tas, dan sepatu, baru bisa merembet ke warga yang lain,” katanya.

Eulis menambahkan, sampahsampah yang ditukar sebelumnya sudah dibersihkan oleh warga dan dipisahkan berdasarkan jenis ataupun warnanya. ”Tapi, terkadang ada saja warga yang malas untuk memilah-milah,” imbuhnya. Untuk pengolahan sampah tersebut, Eulis bekerja sama dengan Komunitas Ciliwung yang bisa melakukan penggilingan sampah.

Ia juga berencana ingin membuat balai warga sebagai pusat kegiatan yang bisa dilakukan secara rutin. Eulis berharap dapat memiliki tempat dan mesin pengolahan sampah, sehingga bisa lebih memaksimalkan sampah-sampah botol plastik. ”Kalau sudah punya mesin penggilingan sendiri kan bisa lebih maksimal membantu biaya pendidikan untuk adik-adik,” pungkasnya.

robi ardianto