Edisi 12-06-2016
Menciptakan Humas BUMN Modern, Dinamis, dan Aktif


Baik-buruk pandangan masyarakat terhadap sebuah perusahaan khususnya BUMN bergantung pada cara mengomunikasikannya. Diperlukan strategi yang matang agar citra positif perusahaan bisa tetap terjaga.

Pakar marketingYuswohady mengungkapkan, setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki seorang humas secara personal. Pertama, kemampuan berkomunikasi yang baik, secara verbal maupun tulisan. ”Apalagi jika telah bertemu media, ucapan seorang PR itu akan langsung dikutip oleh media sehingga harus ditata rapi dan terstruktur, tidak boleh katanya- katanya saja,” tegasnya.

Kedua, bagian humas harus supel dan memiliki social relationship yang bisa berhubungan baik dengan media, LSM, ataupun publik. Ketiga, harus mempunyai wawasan luas dan mengenal seluk beluk perusahaan karena dia merupakan wakil dari perusahaan. Menurut mantan chief executive MarkPlus Institute of Marketing (MIM) ini, meski tantangan dari perusahaan BUMN lebih berat karena memiliki unsur publiknya, kinerja humas BUMN saat ini sudah semakin baik.

”Misalkan saja PLN, yang harus berhubungan dengan berbagai pihak dan berbagai golongan sehingga tantangannya humasnya lebih tinggi dan lebih complicated,” kata penulis dari sekitar 40 buku mengenai pemasaran ini. Dia berharap personel humas saat ini semakin meningkatkan kemampuannya, terlebih sejak lima tahun terakhir perubahan platform media komunikasi dari yang awalnya one way, saat ini menjadi two way.

Jika awalnya hanya melalui media televisi, atau koran yang menggunakan satu arah. Saat ini sudah banyak dilakukan dengan dua arah, melalui media sosial seperti Twitter, Facebook, dan lainnya. Dengan komunikasi dua arah ini, sulit bagi perusahaan menutupi keburukan perusahaannya.

”Perusahaan tidak lagi bisa menyembunyikan permasalahan yang ada, di era yang terbuka informasi dan komunikasi seperti saat ini, pekerjaan PR (public relation/humas) menjadi dua arah, dan mereka tidak bisa lagi menjadi lipstik semata sehingga tugasnya menjadi berat,” kata mantan sekretaris jenderal Indonesia Marketing Association (IMA) ini.

Direktur sekaligus pendiri London School of Public Relations (LSPR) Prita Kemal Gani mengungkapkan, beberapa tahun lalu masih ada direksi BUMN yang belum menyadari betapa strategisnya peran humas. Aktivitas kehumasan masih dianggap sebagai aktivitas biasa yang perannya tidak terlalu signifikan terhadap kinerja perusahaan.

”Untungnya saat ini sudah terjadi pergeseran. Peran kehumasan sudah semakin dipahami. Sebagian besar BUMN bahkan telah memiliki standardisasi dalam penunjukan seseorang untuk menduduki posisi sebagai humas,” tegasnya. Menurut Prita, dalam suatu perusahaan, humas memegang kendali agar perusahaan dapat berjalan dengan baik.

Tidak heran jika saat ini humas dipercaya dapat menjadikan sebuah perusahaan menjadi lebih baik. Dalam kinerjanya, humas harus bisa membangun citra perusahaan tersebut. Termasuk melakukan koreksi ketika ada kesalahan informasi yang beredar di masyarakat. ”Dengan begitu, penilaian orang terhadap perusahaan tetap positif,” katanya. Itulah sebabnya, humas sebuah perusahaan harus cerdik dalam menyusun strategi untuk meningkatkan citra dan reputasi perusahaan.

Apalagi sekarang persaingannya semakin kompetitif. Dunia humas pun memasuki era yang disebut era kompetisi. ”Pembentukan, pemeliharaan, dan peningkatan citra termasuk reputasi menjadi sangat penting,” ucap ketua ASEAN Public Relations Network (APRN) ini. Corporate Communication Head PT Bank Mandiri Tbk Ahmad Reza mengatakan, pada era sekarang reputasi itu memiliki kaitan yang erat dengan kinerja, baik untuk BUMN maupun swasta. Itulah yang menjadi alasan begitu strategisnya pengelolaan reputasi.

”Sebenarnya wajar saja karena reputasi itu tentang kepercayaan. Nah, yang namanya pengelolaan reputasi atau citra itu tugas beratnya humas,” tegas ketua umum FHBUMN ini. Menurut Reza, secara umum peran humas yang paling utama terletak pada aktivitas komunikasi internal dan eksternal.

Itulah sebabnya humas di setiap BUMN harus secara aktif merencanakan dan mengimplementasikan program-program komunikasi yang modern, dinamis, dan aktif. ”Modern dalam memanfaatkan berbagai lini dari teknologi digital. Dinamis dalam menyusun program yang selaras dengan strategis pemerintah.

Dan, aktif dalam mengikuti program-program kehumasan baik internal dan eksternal guna memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kinerja,” katanya. VP Corporate Communication PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Harriny Yulianty mengatakan, humas menjadi ujung tombak perusahaan untuk menyampaikan informasi perusahaan kepada publik.

Bukan sebatas kinerja bisnis, tetapi juga program strategis yang wajib diketahui seluruh stakeholders. ”Jadi humas harus bisa menciptakan value bagi BUMN,” ucapnya. Menurut dia, tugas BUMN sebagai agent of development atau perpanjangan tangan program-program pemerintah lumayan berat dan menantang.

Dengan kondisi ini, diperlukan kepiawaian humas dalam menyampaikan komunikasi yang tepat kepada stakeholder mengenai progress bisnis yang telah dicapai dalam mendukung dan merealisasikan program tersebut. ”Terlebih perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan,” ungkapnya.

hermansah/robi ardianto