Edisi 12-06-2016
Mengolah Sampah untuk Pendidikan


Lulus dari jurusan pendidikan Bahasa Inggris tak lantas membuat Eulis Utami tertarik menjadi guru formal yang mengajar di sekolah. Ia justru lebih bersemangat mengabdikan diri dalam bidang sosial, terutama membantu pendidikan masyarakat kurang mampu lewat pengolahan sampah.

Hal tersebut yang menjadi alasan wanita kelahiran Tasikmalaya, 4 Februari 1992, ini mendirikan WABE Project. Melalui wadah ini, ia melakukan pemberdayaan masyarakat agar bisa membantu biaya pendidikan anak-anak di Kampung Ceger, Kota Bogor, Jawa Barat. Bagaimana kisah Eulis mengembangkan WABE Project? Berikut kutipan wawancaranya dengan KORAN SINDO.

Bagaimana ide untuk mendirikan WABE muncul?

Awalnya saya merupakan relawan yang mengajar di salah satu komunitas sosial. Saya mengajar anak-anak marginal. Setelah lama mengajar, saya berpikir, ada sesuatu yang kurang, karena meskipun telah mengajar dan memberikan motivasi kepada anak-anak, anak tersebut tetap saja malas seolah. Perkembangannya tetap saja seperti itu.

Saat bersekolah pun, mereka ogahogahan karena setelah saya mencari tahu, ternyata orangtua kurang mendukung dengan berbagai alasan. Bahkan, sempat ada adik yang belajar di komunitas, ternyata di sekolahnya drop out karena kesulitan biaya dan lain-lain. Selain itu, warga di kampung tersebut dalam satu keluarga bisa memiliki 11 anak, sehingga orangtua di sana tidak terlalu memikirkan pendidikan anak.

Mereka hanya memikirkan bagaimana bisa mengisi perut. Hingga akhirnya saya dan beberapa teman menggali permasalahan-permasalahan yang ada pada masyarakat tadi, dan ternyata cukup kompleks. Saat itulah saya dan teman-teman membuat WABE Project di akhir 2014. Tujuannya untuk membantu biaya pendidikan masyarakat dan menumbuhkan kesadaran masyarakat. Itu yang menjadi pekerjaan rumah terberat kami.

Kenapa Anda memberi nama program ini WABE Project ?

Nama WABE Project didapat dari hasil voting yang panjang di antara anggota komunitas. Awalnya kami ingin memberi nama Sebersy Life. Sebersy adalah nama komunitas yang pernah saya ikuti. Hanya, nama tersebut samarsamar terdengar seperti perusahaan asuransi. Berhubung kegiatan kami bukan sebagai asuransi sampah, melainkan bank sampah, akhirnya kami voting dan terpilihlah nama WABE, karena terdengar lebih simpel. Kependekan dari Waste Bank for Education, atau bisa juga ”membawa berkah”.

Kenapa Anda memilih masuk melalui jalur daur ulang sampah?

Saya terinspirasi oleh Dokter Gamal Albinsaid yang memiliki klinik asuransi premi sampah. Dari sampah, beliau bisa menolong warga dengan memberikan asuransi kesehatan. Pada saat mengikuti seminar beliau, tiba-tiba saya nyeletuk kepada teman-teman, bagaimana kalau kita membuat asuransi sampah juga, tetapi untuk pendidikan?

Kemudian, saat di backstage, saya bertemu Dokter Gamal. Kami banyak ngobrol mengenai program asuransi yang dimilikinya. Setelah mendengar cerita dan penjelasan dari beliau, saya berpikir, ternyata tidak mudah menjalankannya. Beliau menjelaskan, intinya pertukaran antara sampah dengan biaya pendidikan untuk mereka.

Program yang dijalankan WABE apa saja?

Ada beberapa program yang dijalankan. Pertama daur ulang sampah. Selain dilakukan oleh sukarelawan, program ini juga memberikan pelatihan kepada warga, terutama ibu PKK, untuk membuat barang yang bisa berguna seperti tas, dompet, dan lainlain. Selain itu, tabungan sampah warga, terutama anak-anak, bisa meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya anak-anak, agar peduli terhadap lingkungan mereka. Kemudian, sampah tersebut dihitung 1 poin untuk 1 kilogram (kg). Jika diasumsikan, 1 kg sampah Rp2,000. Dan jika satu kaus kaki harganya Rp10.000, maka anak tersebut membutuhkan 5 poin. Poin yang ditukarkan merupakan produk untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

Apa saja produk yang dihasilkan?

Ada berbagai macam produk yang dihasilkan dari limbah-limbah rumah tangga, mulai dompet dari kotak susu bekas, tas dari limbah plastik, tempat jarum, hingga sofa dari botol plastik bekas. Biasanya kami menemukan inovasi produk dari media sosial seperti Youtube, Instagram, Twitter, dan lainlain.

Ada juga dari sukarelawan yang memang sudah mampu membuat produk. Sedangkan produk yang dijual, karena yang disasar adalah anak muda, harganya terbilang cukup murah jika dibandingkan dengan produk handmade lain yang harganya cukup mahal, mulai Rp5.000 hingga Rp100.000.

Bagaimana perkembangannya?

WABE saat ini sudah memiliki produk bervariasi. Kemudian ibu-ibu yang diajarkan juga semakin banyak dan rajin mengikuti pelatihan. Sementara untuk sampah, meskipun agak sulit menumbuhkan kesadaran warga, mereka sudah terlihat bersemangat. Apalagi kalau sudah dekat dengan tahun ajaran baru seperti sekarang, karena warga di sini butuh contoh terlebih dulu, baru bisa menarik yang lain. Selain itu, WABE Project juga telah diadopsi di Bali.

Apa saja tantangan dan hambatannya?

Banyak sekali tantangan yang harus kami hadapi di WABE Project. Pertama, sumber daya manusia dengan sistem sukarela dan tanpa ikatan. Keluar-masuk relawan menjadi salah satu tantangan yang harus kami hadapi. Meskipun telah diikat dengan program-program menarik dan team building , tetap saja masalah relawan ini menjadi pekerjaan rumah.

Maka itu, kami menyikapinya dengan sering-sering melakukan open recruitment dan tiap tiga bulan sekali melakukan gathering volunteer. Kedua, yang juga menjadi tantangan terberat adalah mengubah pola pikir masyarakat. Apalagi ini masih dalam wilayah perkotaan, Kota Bogor. Dengan pemikiran yang masih tradisional, tapi mereka telah mendapat gempuran modernisasi dari televisi dan lain-lain.

Jadi, meskipun warga memiliki gadget yang bagus, mereka tidak bisa membaca SMS. Antara modernisasi dan tingkat pendidikan rendah, sehingga yang terjadi adalah ketidakseimbangan. Itulah yang menjadi tantangan paling berat bagi kami. Yaitu mengubah pola pikir mereka, sehingga pendekatan secara personal menjadi sangat penting.

robi ardianto