Edisi 12-06-2016
Mereka Penjaga Nama Baik BUMN


Di balik nama besar perusahaan atau BUMN ada bagian humas yang menunjang reputasi itu bisa terjaga. Di sejumlah BUMN posisi humas kini diisi orangorang yang kredibel dan mumpuni.

PT Pertamina (Persero) memiliki Wianda Arindita Pusponegoro. Wianda memulai karier sebagai jurnalis dan presenter di salah satu stasiun televisi swasta. Hingga akhirnya memproduseri berbagai program talkshow. Pada 2008 bergabung di Pertamina sebagai media manager, Wianda disibukkan dengan program-program konversi minyak tanah ke LPG, penyesuaian harga minyak, dan lain-lain.

”Tantangan demi tantangan yang dihadapi menjadi pembelajaran penting bagi saya dan tim untuk menjadi humas yang bisa menjembatani komunikasi perusahaan dengan stakeholder kami, baik itu pemerintah, DPR, pengamat, akademisi, dan masyarakat,” papar dia. Selanjutnya Wianda dipercaya sebagai corporate secretary anak perusahaan Pertamina yakni Pertagas dan sejak 11 Maret 2015 sampai sekarang menjadi VP Corporate Communication di PT Pertamina. Di PLN ada Agung Murdifi yang menjabat sebagai senior manager public relation PLN.

Sebelum menjabat, Agung telah beberapa kali mendapatkan amanah sebagai kepala cabang. Hal itu membuatnya tidak lagi merasa canggung berhadapan dengan masyarakat maupun media. Dibandingkan dengan posisi sebelumnya, dia mengaku, menjadi humas merupakan amanah yang paling menantang.

Pasalnya, dirinya dituntut untuk mengetahui berbagai persoalan yang terkait dengan aktivitas hulu hingga hilir perusahaan. ”Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Apalagi komunikasi yang baik ada ilmunya,” ucap dia. Sementara itu, Eva Chairunisa sebelum menjadi humas di PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) pada 2012 merupakan seorang jurnalis.

Eva yang kini menjabat sebagai VP corporate communication PT KCJ mengaku saat pertama kali dipercaya menjadi humas, dia mencoba untuk belajar dengan cepat mengenai perkeretaapian dan KCJ. Dia mengaku, dunia yang dijalankannya saat ini sebetulnya tidak terlalu jauh dengan dunia yang telah ditekuninya sebelumnya.

”Hanya, kalau dulu saya yang mencari berita secara mendalam dan akurat, dan saat ini juga harus memahami permasalahannya terlebih dahulu dan memiliki data yang akurat sebelum diinformasikan kepada khalayak,” jelasnya. Manajer Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan PT Pelayaran Indonesia (Persero) (Pelni) Ahmad Sujadi mengungkapkan, humas memiliki peranan yang sangat penting bagi perusahaan karena sebagai jembatan komunikasi antara perusahaan dengan publik, masyarakat, dan stakeholder.

”Kalau tidak ada humas, wartawan akan kesulitan untuk menghubungi perusahaan,” katanya. Dia mengaku beruntung bisa menjadi humas Pelni sebab bisa banyak mengenal orang dengan berbagai karakter. Namun, tantangannya ada tekanan dari internal yang menginginkan berita selalu positif meski tidak selamanya beritanya selalu positif.

Menurut Sujadi, awal dia menjadi humas, harus terlebih dahulu mempelajari seluk beluk perusahaan, belajar mengenai perkapalan, dan bagaimana pelayanan di atas kapal. Hal ini akan memudahkannya memberikan informasi kepada publik. Di Bank Mandiri ada sosok Ahmad Reza yang menjabat sebagai corporate communication head.

Reza merupakan jebolan STIE IBII, kini Kwik Kian Gie School of Business. Pernah menempuh pendidikan di CPM Asia Pacifik pada 2001 dan memiliki certified managerial PR dari LSPR. Dia menyebutkan, secara profesional, pejabat humas harus memiliki kejelian dalam melihat potensi hubungan baik dengan para pemangku kepentingan. Humas harus fleksibel ketika berhubungan dengan setiap kalangan dan harus aktif dalam mengawal perkembangan isu di media sosial.

Apalagi saat ini semua informasi publik bisa diakses dari berbagai entitas media. April lalu Reza terpilih secara demokratis sebagai ketua umum Forum Humas Badan Usaha Milik Negara periode 2016-2019 melalui musyawarah nasional forum itu di Yogyakarta. Dalam sesi pemilihan ketua umum Forum Humas BUMN yang diikuti perwakilan humas dari 93 badan usaha milik negara (BUMN).

”Kini jaringan pertemanan lingkup profesional menjadi lebih banyak. Saya jadi punya kesempatan untuk mengenal gaya komunikasi para pemangku kepentingan di BUMN,” kata Reza. Sementara di Bank BNI ada Harriny Yulianty yang menjabat sebagai VP corporate communication. Yulianty memulai kariernya sebagai humas pada 1994. Pada saat itu dia dipercaya sebagai assistant PR manager di salah satu media televisi.

Setelah itu dia menjadi media relations manager di Bursa Efek Jakarta (sekarang bernama Bursa Efek Indonesia) pada 2003 - 2005. Pengalamannya di pasar modal menjadi modal berharga baginya untuk melangkah lebih jauh di perusahaan yang terkait pasar modal. ”Dalam melakukan program kehumasan kita kerap melakukan program edukasi dan pendampingan,” ujar ibu dua anak ini.

Sedangkan Corporate Communication Manager Bank BTN Dody Agoeng merupakan salah satu sosok humas yang akrab dengan semua kalangan. Dia memiliki ketertarikan masuk di dunia kehumasan karena melihat di bidang tersebut dapat melakukan banyak hal. ”Membuat orang percaya. Membuat orang tidak suka menjadi suka, yang mau marah menjadi tidak marah,” ungkapnya.

Dody mengaku sejak menjadi humas BTN banyak pengalaman tak terlupakan yang dialaminya. Salah satunya ketika harus menggiring opini mengenai isu akuisisi BTN yang akan dilakukan salah satu bank. ”Ya, itu kenangan yang pasti saya tidak akan lupa karena pada masa-masa itu akhirnya kita tahu siapa musuh dan siapa kawan.

Tapi, akhirnya kita menjadi berkawan semua karena ada tujuan yang sama untuk ikut melakukan perubahan Indonesia lebih baik,” ucap dia. Dody menjelaskan, komunikasi yang baik ke publik tentang perusahaan akan berimbas pada nilai positif bagi perusahaan. Public relation (PR) harus membangun opini yang kuat tentang ihwal baik yang dimiliki perusahaannya ke publik.

”Ini tugas PR karena memang PR harus bisa membuat harum nama perusahaan tempatnya bekerja,” katanya. Dia menambahkan, kolaborasi antara perusahaan, stakeholder, dan media harus terus dilakukan sesuai kebutuhan. Semua itu dikomunikasikan secara intens melalui saluran komunikasi yang dengan mudah masyarakat bisa memperolehnya seperti media massa ataupun media sosial.

hermansah/robi ardianto