Edisi 12-06-2016
Menanti Peran Humas Bangun Reputasi BUMN


JAKARTA – Menghadapi persaingan bisnis yang kian ketat, perusahaan tidak lagi bisa bersikap pasif dalam menyambut setiap peluang. Mereka harus melakukan berbagai upaya untuk menarik minat pasar, termasuk dengan membangun reputasi perusahaan.

Hal ini berlaku untuk badan usaha milik negara (BUMN). Apalagi perusahaan pelat merah kini juga ditarget menunjukkan kinerja positif di antaranya mendatangkan keuntungan. Untuk membangun citra positif perusahaan, tentu membutuhkan divisi hubungan masyarakat (humas) yangkuat.

Pandangan demikian disampaikan Ketua Umum Forum Humas (FH) BUMN Ahmad Reza, pendirisekaligusDirekturLondon School of Public Relations (LSPR) Prita Kemal Gani, dan pakar marketing Yuswohady. Adapun Brand Consultant and Ethnographer Amalia E Maulana lebih jauh melihat perlunya revitalisasi peran humas dalam lingkungan yangberubah. “Pada saat ini masih ada anggapan BUMN merupakan institusi yang menggunakan pendekatan kuno dalam berbisnis.

Nah, peran humas sangat penting untuk menepis anggapan tersebut,” ujar Ahmad Reza. Dia menandaskan, citra positif perusahaan merupakan suatuhalyangharusterusdijaga. Namun, untuk menjaganya tidaklah mudah dan membutuhkan kerja keras yang berkesinambungan, terutama divisi humas atau corporate communication. “Untuk itu, BUMN memerlukan pejabat dan tim humas yang mumpuni,” katanya.

Menurut Reza, peran humas BUMN dituntut lebih maksimal karena saat ini masih banyak masyarakat umum yang belum terpapar pengetahuan mengenai kontribusi kolaborasi BUMN bagi negara. Padahal, BUMN memiliki kontribusi strategis dalam membangun negeri. Dalam pandangannya kondisi tersebut bisa terjadi karena belum ada standar kehumasan khusus bagi BUMN yang dapat membantu kinerja tim komunikasi setiap perusahaan.

Di sisi lain, kepercayaan publik cenderung sulit dibangun dan bersifat rapuh. Karena itu, sekali lagi dia menekankan perlunya tim humas yang berkredibilitas tinggi di masing-masing BUMN. Selain itu, dia menggariskan, dalam menjalankan aktivitas kehumasan, strategi yang mumpuni sangat diperlukan agar target yang disasar bisa sesuai dengan yang direncanakan.

Hal itu penting karena menghadapi publik tidaklah mudah, padahal perusahaan tidak bisa lepas dari pengaruh publik karena menyangkut pencitraan. Prita Kemal Gani mengatakan, aktivitas kehumasan yang berjalan maksimal bisa berkorelasi positif dengan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Sebab itu, pimpinan sebuah BUMN harus bisa memahami arti dari pentingnya sebuah aktivitas kehumasan.

“Sekitar 50 hingga 60% dari keberhasilan perusahaan pada saat inikarenaaktivitaskehumasan. Ini karena dalam mempergunakan produk barangdan jasa, konsumen cenderung melihat dari sisi seberapa dikenalnya sebuah produk. Tentunya agar sebuah produk dikenal, memerlukan aktivitas kehumasan dengan berbagai strateginya,” papar ketua umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) periode 2011- 2014 ini.

Humas perusahaan, lanjut Prita, diharapkan mampu merancang strategi komunikasi yang bisa meningkatkan motivasi kerja karyawan untuk bekerja sesuai standar yang diharapkan manajemen. Selain itu, humas pun diharapkan bisa meningkatkan komitmen manajemen pada tanggung jawab organisasi, baik publik internal maupun eksternal sehingga organisasi selalu mengeluarkan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Senada, Yuswohady menjelaskan, humas memiliki peranan yang sangat penting bagi perusahaan salah satu peranannya sebagai salah satu ujung tombak perusahaan yaitu demi menjaga dan membangun reputasi perusahaan. “Agar perusahaan tersebut nama baiknya tetap terjaga, di sanalah fungsi humas. Jika ada media yang memberitakan sesuatu yang buruk, saat itulah salah satu fungsi dari humas untuk meluruskannya,” katanya.

Meski begitu, humas harus tetap mengomunikasikan perusahaan atau produk tersebut dengan otentik. Selama ini persepsi humas hanya mengabarkan yang baik-baik dan menutupi yang tidak baik. “Menurut saya, itu yang tidak benar, humas tidak boleh sekadar lipstik dengan memoles yang tidak baik biar terlihat baik,” ungkapnya.

Selain itu, humas juga harus memiliki media relation agar dapat membina hubungan baik, baik dengan media ataupun publik. Hal ini harus dilakukan secara terus menerus agar pemberitaan tetap berimbang. “Jadi tidak hanya ada masalah baru berhubungan baik dengan media karena media harus kita berikan informasi yang terus menerus agar ter-update terus menerus sehingga media bisa menjadi partner bagi perusahaan,” jelasnya.

Sedangkan Amalia E Maulana menjelaskan, divisi humas atau hubungan masyarakat di perusahaan yang sudah lama berdiri seperti BUMN itu perlu didefinisi ulang dan direvitalisasi. Menurut dia, ketika masyarakat masih bersifat pasif dan menerima informasi secara oneway dari perusahaan-perusahaan termasuk BUMN, divisi humas model lama masih bisa berjalan baik. Namun, hal tersebut sekarang ini tidak selamanya relevan.

“Saat ini yang harus dibuat humas model baru karena gaya lama sudah banyak yang tidak relevan lagi. Tidak berarti semua cara komunikasi harus diubah, tetapi menghadapi masyarakat yang sudah berubah alamnya, perlu komunikasi model baru,” kata pendiri dan Managing Director Etnomark Consulting ini.

Di alam baru, di mana masyarakat bahkan menjadi salah satu penyebar informasi, tugas humas model baru menjadi lebih kompleks. Tugas humas tidak didominasi dengan diseminasi informasi, tetapi juga perlu memastikan bahwa informasi yang beredar di media-media milik masyarakat (terutama media sosial) tidak terlalu jauh keluar dari koridor pesan yang ingin disampaikan perusahaan.

Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Arindita Pusponegoro mengatakan, sebagai humas, dirinya harus mampu mengomunikasikan kepada seluruh stakeholder Pertamina tentang pencapaianpencapaian kinerja perusahaan. Ini menjadi hal penting mengingat tuntutan stakeholder kepada Pertamina sangat tinggi.

Apalagi dalam dua tahun terakhir, lanjut dia, bisnis migas dalam kondisi yang tidak menggembirakan. Namun, Pertamina masih tetap bisa bertahan dengan langkah-langkah 5 Prioritas Strategisnya. Meliputi pengembangan di sektor hulu, efisiensi di semua lini, peningkatan kapasitas kilang, pengembangan infrastruktur pemasaran, serta perbaikan struktur keuangan yang dilakukan.

“Itulah sebabnya, humas yang mumpuni menjadi sebuah keharusan. Bukan sekadar menguasai bidang komunikasi, tetapi juga harus bisa menjalin relasi baik dengan semua pihak sehingga bisa menjaga citra perusahaan. Tak kalah pentingnyamemahamisituasidiluardan apa yang menjadi strategi besar BUMN dan mendukung kebijakan pemerintah,” papar dia.

Senior Manager Public Relation PLN Agung Murdifi mengaku tidak mudah memerankan humas yang baik. Menurut dia, tantangan yang kerap dihadapi adalah beredarnya isu tidak benar mengenai kebijakan perusahaan di masyarakat. “Kalau sudah begitu, berbagai pendekatan dilakukan agar masyarakat bisa mendapatkan informasi yang sebenarnya.

Tentunya hal itu harus dikemas dengan bahasa komunikasi yang baik dan mudah dipahami masyarakat. Harus mempergunakan bahasa komunikasi agar bisa ditangkap apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan perusahaan BUMN,” ungkap dia.

robi ardianto/ hermansah