Edisi 12-06-2016
Paradoks Tembang Sunyi


Sejatinya, dalam sebuah tembang , yang timbul seharusnya bunyi, bukan sunyi . Itulah kesan yang muncul jika mencermati karya RB Ali dalam pameran Tembang Sunyi. Sebuah paradoks.

Namun, ia berkilah, kesunyian pada hakikatnya tidak pernah benarbenar sunyi dan diam. ”Dalam diam, selalu ada suara dan pergerakan,” katanya. Hal tersebut memang sangat santer terlihat dalam karya-karya RB Ali yang dipamerkan. Salah satunya adalah karya bersama yang berjudul Bisu .

Karya ini menggambarkan tentang suara-suara yang berteriak, namun pada akhirnya tidak pernah terdengar. Suara-suara tersebut digambarkan hadir dari bawah yang menurut RB Ali merupakan suara yang berasal dari rakyat. Tapi sayangnya, suarasuara tersebut seolah tidak terdengar ke atas. Suara-suara yang seolah tidak terdengar ke atas tersebut disimbolkan dengan gambar tokoh Pak Raden yang memegang megafon terlilit. Yang mana artinya, menurut RB Ali, hal itu sebuah hal pilu dan siasia.

”Berteriak sekencang apa pun tetap saja tidak akan terdengar,” katanya. Meskipun Indonesia sudah merasakan reformasi dan kebebasan pers, hakikat kebebasan itu sendiri nyatanya belum bisa membawa suara-suara dan gundah gulana kepada pemangku jabatan. Menurutnya, kegaduhan politik tidak juga mampu mengakomodir segala suara. Entah suara dari warga ke warga, maupun suara dari warga ke pemerintah.

Maka tak pelak, dalam sunyi sesungguhnya ada pergerakan. Namun, pergerakan tersebut tetap kembali pada kesunyian, yang mana memang suara dan kebenaran kembali pada zona sunyi. Secara konsep dan gagasan, karya Bisu digarap oleh RB Ali. Namun secara teknis, karya tersebut dikerjakan secara bersamaan oleh para seniman. Antara lain Yayat Lesmana, Edi, Rohadi Juni, Dani Segara, Marya Tiwi, dan Ahmad Busoni.

Dalam pameran yang digelar di Galeri Nasional Indonesia dari 3-20 Juni itu, RB Ali melukis sejumlah tokoh yang kesemuanya berkaitan dengan hukum dan pemerintahan. Mereka adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Tokoh Pejuang HAM Munir Said Talib, Mantan Ketua KPK Abraham Samad, Mantan Ketua KPK Bambang Widjojanto, Mantan Ketua KPK Antasari Azhar, dan Mantan Penyidik KPK Novel Baswedan. Melukis ketujuh tokoh tersebut menurut RB Ali bukanlah sebuah perayaan terhadap politik praktis.

Tetapi, merupakan wujud respons terhadap kebudayaan atas berbagai gejala perubahan dalam masyarakat yang tersimpul pada kiprah para tokoh tersebut. Kebudayaan membawa perubahan yang cukup besar dan mendasar. Baik perubahan fisik maupun perubahan yang tak kasatmata. ”Melukis ketujuh tokoh ini bukan maksud untuk merayakan politik praktis, sama sekali bukan,” katanya.

Ketujuh tokoh tersebut merupakan tokoh-tokoh yang populer dan sering disebut dalam berbagai kesempatan di media. Pemilihan tujuh tokoh tersebut bagi RB Ali adalah simbol akan kesunyian yang sesungguhnya bergerak dan bersuara. Meneriakkan kebenaran yang entah mengapa justru menjadi sunyi. ”Sekali lagi, ini merupakan kacamata saya dalam memandang ketujuh tokoh tadi,” katanya.

Selain melukis tokoh-tokoh tadi, RB Ali juga memamerkan karya-karyanya yang sangat mencirikan kekhasannya. Sosok- sosok perempuan banyak dilukiskan RB Ali seperti bagaimana dirinya dikenal. Baginya, perempuan adalah hal yang sangat menarik dan menjadi sumber inspirasi yang tidak akan pernah habis untuk digali. Sosok tersebut menurutnya kini seolah kehilangan penghormatan.

Saat ini, baginya, perempuan tidak lagi dipandang sebagai sebuah sosok yang berjasa dalam berbagai aspek. Hasilnya, banyak terjadi penyimpangan dan penyelewengan terhadap perempuan. ”Cara kita kali ini telah mengesampingkan perempuan,” katanya. Sementara itu, kurator Efix Mulyadi menilai karya-karya RB Ali menjajaki suasana baru yang sebelumnya belum pernah terbayangkan.

Karya dan konsep baru tersebut tertuang dalam beberapa lukisan yang tak hanya berfokus pada sosok perempuan. ”Terdapat konsep baru yang coba ditawarkan RB Ali,” kata-nya. Menurutnya, lukisan potret perjalanan RB Ali dapat dilihat sebagai semacam penyimpangan dari apa yang publik tahu mengenai karyanya.

Karena sebelumnya, karya-karya RB Ali bergerak dengan aspek-aspek formal perupaan. Namun, secara keseluruhan, menurutnya, RB Ali merupakan seniman yang mampu membunyikan lukisannya. Medium seni yang digunakan RB Ali sangatlah bersuara. Seperti pada sosok perempuan yang sering dimasukkan sebagai sumber inspirasinya. Sosok perempuan yang dilukiskan RB Ali bukanlah sebuah tokoh, melainkan perempuan tak bernama.

”RB Ali merupakan seniman yang dapat membunyikan karyanya,” katanya. Namun, asal-usul mereka sama, yaitu dari rahim idealisasi atas sosok perempuan perkotaan, penghuni apartemen mahal, atau pengunjung mal kota besar. Kesan itu menurutnya muncul dari wujud dan gestur yang diperlihatkan. Mereka semua langsing dengan kulit mulus pualam dan beberapa tampil sensual.

imas damayanti