Edisi 12-06-2016
Tarawih Kilat Abaikan Esensi Salat


JAKARTA – Saat orang mendirikan salat, termasuk tarawih di bulan Ramadan, seyogianya tidak menghilangkan unsur ketenangan atau tumakninah di setiap gerakannya.

Praktik salat yang dikerjakan dengan cepat dikhawatirkan menghilangkan esensi salat sehingga tujuan ibadah bisa tidak tercapai. Sangat penting bagi muslim untukmemperhatikanrukundan bacaan salat yang dikerjakan. Jika rukun dan bacaan diabaikan, ibadah yang dikerjakan bisa jadi tidak khusyuk dan akan mengurangi kualitas ibadah.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin dan Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Ahyar secara terpisah kemarin. Keduanya menyampaikan pesan tersebut berkaitan dengan munculnya praktik salat tarawih kilat oleh jemaah sebuah pondok pesantren di Blitar, Jawa Timur.

Praktik salat tarawih di pesantren ini menjadi bahan perbincangan, termasuk di media sosial, karena dinilai berbeda dengan apa yang dikerjakan umat Islam pada umumnya. Di tempat tersebut, salat tarawih 20 rakaat plus salat witir 3 rakaat bisa selesai didirikan hanya dalam waktu 10 menit. ”Salat yang baik itu seharusnya tidak menghilangkan tumakninah dalam setiap gerakannya.

Tidak tergesa-gesa, apalagi dilakukan dengan gerakan yang superkilat,” ujar KH Miftahul Ahyar. Dia lalu mencontohkan sebuah hadis yang diriwayatkan At- Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Al- Fadl bin Abbas yang menyatakan, ”Salat itu haruslah engkau (dalam keadaan) tenang, merendahkan diri, mendekatkan diri, meratap, menyesali dosa-dosa, dan engkau letakkan kedua tanganmu lalu kau ucapkan, wahai Allah, wahai Allah.

Barang siapa yang tidak melakukan (hal itu), maka salatnya kurang.” Dalam sebuah hadis lain (muttafaq alaih ) juga diriwayatkan, ”Jika salat akan didirikan, janganlah kalian berdiri hingga melihatku. Dan hendaklah kalian melaksanakan salat dengan tenang.” ”Nah , jika kita lihat rekaman video tarawih superkilat yang beredar, tampak bahwa tidak ada ketenangan (tumakninah ) sama sekali.

Itu jauh dari tarawih secara definisi. Mereka salah memahami kitab rujukannya,” ujar Ahyar. Dia menambahkan, tumakninah dalam iktidal dan duduk di antara dua sujud memang terdapat perbedaan pendapat di dalam mazhab Syafii. Tapi untuk tumakninah dalam ruku dan sujud, ulama Syafiiah sepakat bahwa itu merupakan rukun yang bersifat wajib, baik dalam salat fardu maupun salat sunah.

Adapun pengertian kata tarawih menurut dia adalah bentuk plural (jamak) dari kata ”tarwihah”, artinya ”istirahat”. Dalam praktik yang dicontohkan oleh generasi umat Islam terdahulu, para jamaah mengambil jeda atau istirahat setiap empat rakaat (dua kali salam). Mengisi istirahat bisa dengan membaca Alquran. ”Jadi, menurut fikih Syafiiah, hal itu (salat dengan cepat) tidak dibenarkan karena tak disertai tumakninah dan menghilangkan makna tarawih,” urainya.

Karena itu, dia meminta PWNU Jawa Timur untuk melakukan pendekatan kepada pengasuh pondok pesantren tersebut berhubung praktik yang dilaksanakan sudah menjadi perbincangan umat dan dinilainya cukup mengganggu. ”Banyak jamaah yang salat memang bagus. Namun, jika sampai merusak nilai salat, jadinya ya tidak bagus,” katanya menandaskan.

Sementara itu Maruf Amin berpendapat bahwa salat dengan terburu-buru berpotensi mengurangi kekhusyukan dan bacaan bisa jadi tidak tepat. Dia juga mengingatkan umat Islam untuk mementingkan konteks tumakninah dalam beribadah. Selain kualitas ibadah, dampak lain dari salat yang dilakukan dengan cepat adalah secara sosial berpotensi menyulitkan jamaah untuk mengikutinya, khususnya bagi para lanjut usia yang secara fisik tidak lagi mampu bergerak dengan cepat.

Menurut Maruf, jumlah rakaat salat tarawih yang lebih banyak tidak boleh menjadi alasan untuk mempercepat gerakan salat. ”Jadi sedang-sedang saja dikerjakannya, tidak usah terlalu cepat karena pasti memengaruhi kualitas salat,” sebutnya. Dia menambahkan, pada dasarnya jumlah rakaat pada salat tarawih di masyarakat memang bervariasi, ada yang 8 ditambah witir 3 rakaat dan ada 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.

Keduanya menurut dia baik walaupun dalam agama semakin banyak ibadah yang dilakukan akan makin baik pula. ”Tentukalauberkacapada ibadah tarawih di Mekkah dan Madinahitu20rakaat. Tapiadayanghanya 8 juga tidak apa. Asal (keduanya) dengan cara yang baik, tidak terlalu terburu-buru,” katanya. Lebih lanjut Maruf menjelaskan bahwa esensi dari tarawih adalah mengisi waktu malam di bulan Ramadan untuk memperbanyak ibadah. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

ihya ulumuddin/ dian ramdhani