Edisi 30-06-2016
Dyah Ayu Mengaku Diteror


SEMARANG– Terdakwa dugaan korupsi hilangnya kas daerah (kasda) Pemkot Semarang senilai Rp22,7 miliar, Dyah Ayu Kusumaningrum mengaku berkali-kali mendapat teror setelah banyak memberi kesaksian di pengadilan soal aliran dana tersebut.

Menurut pengakuannya, teror itu dilakukan di dalam lembaga permasyarakatan (lapas) maupun saat perjalanan ke Pengadilan Tipikor Semarang. “Saya tiga kali mendapat kiriman parsel dari orang yang tidak dikenal selama saya ditahan di LP Bulu. Isinya makanan ringan dan beberapa air minum dalam kemasan. Karena tidak tahu siapa pengirimnya, saya tidak berani menyentuhnya,” ucap Dyah Ayu. Selain itu, beberapa kali ada orang tak dikenal hendak menemuinya di dalam lapas. Namun, orang itu tidak mau menyebutkan namanya dan memaksa bertemu.

“Saya sudah laporkan hal itu ke pihak Lapas,” ujarnya. Teror yang terparah saat Dyah Ayu hendak bersidang. Saat dia akan naik mobil tahanan, ada lakilaki yang menunggu di luar pintu lapas dan mencoba meraih tas yang dibawanya. Selain itu, saat menaiki mobil tahanan menuju pengadilan, ada pengendara motor berboncengan memepet mobil tahanan yang membawanya. Pengendara mengetukngetuk kaca mobil tahanan itu sambil teriak memanggil Dyah Ayu.

“Sudah dua kali saya dipepet orang tidak dikenal itu, saya takut. Setiap mepet, mereka selalu bilang, Diah Ayu ya? Diah Ayu ya? Sambil tangannya berusaha masuk ke dalam mobil,” ungkapnya. Aksi teror tersebut ternyata bukan hanya omongan Dyah Ayu belaka. Dedy, petugas lapas yang setiap hari mengantar-jemputnya dari lapas ke pengadilan membenarkan pengakuannya.

“Benar, tadi (kemarin) ada orang naik motor yang memepet mobil tahanan kami, tidak tahu jelas, saya agak samar-samar,” ucapnya. Kuasa hukum Dyah Ayu, Suwiji, mengatakan dia akan melaporkan teror ini pada Kejaksaan. Dia meminta Ayu mendapatkan pengawalan ketat, baik di dalam sel tahanan maupun selama mengikuti persidangan. “Kami minta jaminan keamanan kepada klien kami.” “Melihat kasus ini dan komitmen kami membongkar semua perkaraini, adakepentinganorang lain yang tidak suka dan mencoba menghilangkan klien kami. Terus terang saja, jika klien kami hilang, maka kasus ini pasti akan mandek,” ucapnya. Teror yang diterima kliennya tidak menyurutkan niatnyamembongkarkasushilangnya dana kasda pemkot. Upaya untuk membongkar siapa saja yang terlibat akan tetap dilakukan.

Eksepsi Ditolak, Sidang Dilanjutkan

Dalam sidang yang digelar kemarin majelis hakim menolak secara keseluruhan atau eksepsi Dyah Ayu. Menurut majelis hakim yang diketuai Antonius Widijantono, eksepsi terdakwa tidak beralasan hukum sehingga tidak dapat diterima. “Mengadili, menyatakan tidak dapat diterima eksepsi terdakwa secara keseluruhan, menyatakan pengadilan Tipikor Semarang berwenang melakukan pemeriksaan dan menyatakan surat dakwaan JPU telah memenuhi persyaratan dan sah menurut hukum,” kata Antonius membacakan amar putusan selanya kemarin.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Semarang Zahri Aeniwati mengaku, pihaknya menyiapkan 36 saksi fakta. Selain saksi fakta itu, ada pula empat saksi ahli yang akan dihadirkan dalam persidangan. Kasus ini bermula saat Pemkot Semarang kehilangan uang kas daerah yang disimpan di salah satu bank swasta senilai Rp22,7 miliar. Namun, pihak bank tidak mengakui adanya penyimpanan uang dalam bentuk deposito. Selain itu, dari hasil pemeriksaan forensik, diketahui deposito yang disebut milik Pemkot Semarang itu palsu.

Polisi menetapkan dua orang tersangka, yakni Suhantoro, mantan Kepala UPTD Kasda Kota Semarang dan mantan karyawan bank swasta tempat Pemkot menyimpan uang, Dyah Ayu Kusumaningrum. Suhantoro telah terlebih dahulu divonis 2,5 tahun penjara karena dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 5 ayat (2) jo Pasal 5 ayat (1) UU No 31/1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Andika prabowo

Berita Lainnya...