Edisi 30-06-2016
Junjung Tinggi Keberagaman


SEMARANG – Setiap individu wajib menghormati keberagaman berbangsa, dari mulai budaya, bahasa, hingga warna kulit. Jika menolak keberagaman, berarti menolak sunatullah.

Pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Sema rang Ahmad Hasan Asy’ari menuturkan, keberagaman me ru pakan kuasa Allah SWT. Dari sisi kulit saja sudah berbeda-beda, ada yang putih, kuning, dan hitam. Meski sama-sama tinggal di Pulau Jawa, dialek bahasanya pun beragam. “Penyatuan hanya bisa dilakukan ketika ada pertemuan secara nasional, menggunakan bahasa Indonesia. Dalam pertemuan di level internasional pun juga sama, ada bahasa tersendiri,” katanya kemarin.

Menurut Ahmad, keberagaman itu membuat Indonesia menjadi bangsa besar. Tapi anehnya, hingga saat ini masih ada yang menyudutkan warna kulit tertentu. “Jika ada orang yang berkulit hitam, ngece . Ada kekurangan fisik, juga di-ece . Dalam ayat Hendaklah suatu kaum tidak menghina kaum yang lain. Bisa jadi kaum yang dihina itu bahkan lebih baik ,” ucapnya.

Keberagaman memiliki hikmah, yakni saling bantu-membantu. Orang yang memiliki ke - lebihan tertentu bisa membantu orang yang lemah. Pada da - sarnya tidak ada manusia yang sempurna di bumi ini. “Allah menciptakan manusia memiliki kelebihan, tapi suatu saat juga akan terlihat kekurangannya,” papar Ahmad. Diciptakannya laki-laki dan perempuan, tidak diperbolehkan adanya saling melemahkan. Menjadi seorang wanita juga tidak mudah. Mengan dung se - la ma 9 bulan juga bu kan pekerjaan yang ringan. Pe rempuan me mang lebih memiliki kesabaran yang tinggi di banding lakilaki. Tapi ada juga wanita yang tidak sabaran.

“Keberagaman ini jika bisa be kerja sama akan menjadi besar. Jika melihatnya dari sisi negatif, yang ada malah gelut (berkelahi),” ucapnya. Ahmad mencontohkan, di Lampung pernah ada keributan ketika orang Bali diboncengkan naik motor oleh orang Islam. Karena ada yang menyebarkan isu tidak benar, yakni karena di - sengaja dijatuhkan, akhirnya muncul masalah. Per soalan be - lum selesai ketika ada yang menghembuskan kabar, yang semakin simpang siur. Aki bat - nya, persoalan kian mem besar.

“Iniulahdari orangyangti dak bisa menjaga lisannya, da lam menyikapi adanya keberagaman dan perbedaan. Setan juga tidak mau hormat kepada ma nusia, menganggap manusia le bih hina karenadiciptakandari tanahdan beranggapan yang paling baik. Padahal setan itu lebih mengetahui Allah, ta pi be rani membangkang,” papar nya. Direktur Lembaga Tahfidz Alquran Adzdzikro Semarang Ari Purbono menambahkan, pada bulan Ramadan ini hendaknya umat Islam yang menjalankan puasa bisa menjaga li - sannya agar tidak mencederai orang lain.

Adanya perbedaan dalam kehidupan sosial maupun keberagaman budaya, harus disikapi secara bijak. “Emosiharuskitajaga, ja ngan sampai merendahkan ka rena ini akan mengurangi kualitas puasa. Hal-hal yang bisa meng ganggu kekhusyukan pua sa, sebaiknya dihindari,” tandas Ari. L

Arif purniawan

Berita Lainnya...