Edisi 30-06-2016
Soto Kerbau Simbol Toleransi Warisan Sunan Kudus


KUDUS - Kabupaten Kudus tak hanya dikenal sebagai Kota Santri, tapi juga memiliki kuliner khas yang sudah lama dikenal masyarakat yakni soto kerbau. Kuliner khas tersebut diwariskan oleh Sunan Kudus, Syeh Jafar Shodiq.

Soto tersebut merupakan simbol toleransi yang digaungkan Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam. Hal itu dilakukan karena Sunan Kudus saat itu menghormati umat Hindu, mengingat sapi merupakan hewan yang dihormati. Bahkan, hingga saat ini di Kudus tidak ada pemotongan hewan sapi. Staf Yayasan Menara Kudus Deny Nur Hakim mengatakan, bukan tanpa alasan dengan penggunaan daging kerbau pada Soto Kudus peninggalan Syech Jafar Shodiq atau lebih dikenal Sunan Kudus ini. Dalam semangkuk soto Kudus ini dianggap memiliki nilai toleransi yang tinggi.

“Tujuannya adalah untuk tidak menyembelih sapi. Mengingat pada waktu itu Sunan Kudus memiliki pendekatan budaya yang sangat kuat dalam menyiarkan agama Islam. Karena pada masa tersebut, penduduk sekitar menara merupakan masyarakat pemeluk agama Hindu,” paparnya. Salah satu peninggalan Sunan Kudus adalah soto kebo (kerbau). Yang mana di daerah luar Kudus banyak yang menggunakan daging sapi. Tapi di Kudus menggunakan daging kerbau atau ayam sebagai bentuk toleransi terhadap pemeluk agama Hindu. Deny menjelaskan, hingga saat ini 95% masyarakat Kudus masih menjalankan perintah Sunan Kudus untuk tidak menyembelih sapi.

Termasuk Idul Kurban, di lingkungan Menara Kudus, tepatnya pada hari kedua hari tasyrik (12 Dzulhijjah) dalam penyembelihan hewan kurban tidak pernah menyembelih sapi. Tidak afdol rasanya jika datangkeKudusjikatidakmencoba soto peninggalan Sunan Kudus yang satu ini. Untuk mencari lokasi soto ini sangat mudah. Seperti Soto Pak Denuh, yang salah satu cabangnya di Jalan AKBP Agil Kusumadya.

“Banyak pemudik yang datang untuk menikmati soto untuk menu berbukanya,” papar Anita, salah satu pelayan di Warung Soto Pak Denuh.

NK

Berita Lainnya...