Edisi 30-06-2016
Arek Malang Pimpin Keuskupan


Gereja Katolik Keuskupan Malang segera memiliki Uskup baru. Penunjukan pemimpin keuskupan yang baru ini sudah diumumkan pada Selasa (28/6) di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Bunda Carmel, yang juga merupakan Gereja Katedral Keuskupan Malang.

Penyampaian pengumuman nama Uskup baru ini disampaikan langsung Uskup Keuskupan Malang Monsignor (Mgr) Herman Yoseph Pandoyo Putro O Carm.

Pengumuman nama pemimpin baru Keuskupan Malang tersebut disampaikan dalam sebuah kebaktian sore sederhana yang diikuti para imam, suster, biarawan, biarawati, dan perwakilan umat Katolik di Kesukupan Malang.

Nama pemimpin baru Keuskupan Malang yang langsung ditunjuk Paus Fransiskus, untuk menggantikan Mgr Herman Yoseph Pandoyo Putro O Carm adalah Mgr Henricus Pidyarto Gunawan O Carm.

Dia seorang guru besar bidang Kitab Suci Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widyasasana Malang. Pidyarto, yang kini sudah berusia 61 tahun, merupakan asli Arek Malang.

Pria berkacamata minus yang menamatkan pendidikan doktoralnya di Universitas Santo Thomas, Roma, tersebut, lahir dan besar di Jalan Widodaren, Kota Malang.

Saat ditemui di Biara Carmel Santo Elias, Pidyarto mengaku, sebelum disampaikan pengumuman secara resmi dalam ibadat sore Selasa (28/6), sudah dipanggil pribadi di Keuskupan Malang pada Selasa (24/6) untuk diberi tahu tentang penunjukan tersebut.

“Saya tidak punya firasat apaapa sebelum penunjukan ini,” ujarnya. Mantan Ketua STFT Widyasasana Malang dua periode tersebut mengaku proses pemilihan Uskup ini dilakukan sangat rahasia dan dilaksanakan dalam jangka waktu lama.

“Saya sendiri tidak tahu proses pemilihannya seperti apa. Penyelidikannya dilakukan secara rahasia, dengan dibantu Duta Besar Vatikan untuk Indonesia,” ungkapnya.

Pria yang ditahbiskan sebagai Pastor pada 1982 tersebut mengaku akan mengemban tugas pelayanan Gereja Katolik di Keuskupan Malang, dengan berpijak pada yang dilakukan para pendahulunya.

“Apa yang sudah baik, pastinya akan saya lanjutkan,” imbuh dosen Kitab Suci Perjanjian Baru tersebut. Apa yang sudah baik selama ini, menurutnya, adalah terwujudnya kerukunan kehidupan antarumat beragama di wilayah Keuskupan Malang.

Wilayah kerja Kesukupan Malang ini membentang dari Malang Raya, Madura, Pasuruan, Probolinggo, Jember, Situbondo, Bondowoso, hingga Banyuwangi.

Kerukunan umat beragama dalam kehidupan sehari-hari ini, baginya, harus terus dipertahankan, bahkan harus terus ditingkatkan dalam berbagai dialog, dan kerja-kerja nyata bersama di tengah masyarakat. “Kalau gereja hanya berdoa di tempat ibadah, itu bukan hal benar.

Agama harus punya dampak pada kehidupan nyata,” tandasnya. Selain itu, dia berupaya terus menjaga dan mempertahankan layanan pendidikan di pelosok-pelosok wilayah Keuskupan Malang.

Hal ini merupakan bentuk pengabdian dan pelayanan Gereja Katolik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi untuk menjalankan layanan tersebut.

Baginya, keberadaan Imam Gereja Katolik memang tidak diperbolehkan turut campur dalam praktek politik praktis.

Tetapi, sebagai orang Indonesia, tentunya memiliki tanggung jawab moral untuk melawan tindakan amoral, seperti penyalahgunaan narkoba dan korupsi yang sangat merugikan masyarakat. Sekretaris Keuskupan Malang Romo Aegidius Eka Aldilanta mengatakan, prosesi penahbisan Uskup Malang yang baru akan dilaksanakan pada 1 September 2016 di Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Abdulrachman Saleh Malang.

Pangkalan militer ini, menjadi alternatif tempat penahbisan karena memiliki tempat yang luas sehingga mampu menampung banyak umat yang ingin turut serta menghadiri prosesi penahbisan.

Selain itu, lokasinya di pinggiran kota sehingga tidak memicu kepadatan lalu lintas di tengah kota. “Diperkirakan akan ada ribuan peserta penahbisan. Kalau diselenggarakan di tengah kota, dikhawatirkan akan memicu kemacetan lalu lintas,” tuturnya.

Yuswantoro





Berita Lainnya...