Edisi 30-06-2016
Balita 2,5 Tahun Tewas Disodomi Paman


KEDIRI – Kekerasan seksual selama ini sering terjadi dari lingkungan terdekat. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindung kerap kali menjadi ancaman.

Seperti yang dialami AM, balita berusia 2,5 tahun asal Kelurahan Burengan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Balita tersebut tewas karena menjadi korban sodomi pamannya, Sentot Yuniarto, 30.

Menurut Kapolres Kota Kediri AKBP Wibowo, korban dibanting ke lantai karena meronta saat hendak disodomi kedua kalinya.

Benturan keras mengakibatkan tengkorak dan selaput otaknya retak. “Adanya kekerasan seksual (sodomi) diketahui dari hasil otopsi jasad korban,” ujar Kapolres Wibowo kepada wartawan kemarin.

Kepada penyidik kepolisian, Sentot mengakui semua perbuatannya. Aksi biadab itu terjadi pada Senin (27/6) di toko elektronik tempatnya bekerja sebagai penjaga sekaligus teknisi.

Ceritanya, ia biasa mengajak AM merupakan putra bungsu pasangan suami-istri Adi Triwahono dan Ita. Sebab Adi, ayah korban, kerap repot bekerja sebagaikulibangunan.

Sementara Ita, ibu korban, sedang menjalani proses sebagai buruh migran (TKW). Saat anak bungsunya terbunuh, Ita masih berada di penampungan calon TKW di Surabaya. “Selain mengajak korban, pelaku biasanya mengajak dua orang kakak korban yang masing- masing berusia 4 tahun dan 6 tahun,” kata Wibowo.

Tidak diketahui pasti latar belakang Sentot. Sebab pelaku berstatus menantu yang baru enam bulan menikah dan belum memiliki anak. Sebelum melampiaskan perbuatan bejatnya, kata Wibowo, pelaku Sentot lebih dulu menjauhkan dua orang kakak korban.

Keduanya diberi uang untuk bermain play station yang berada terpisah dari toko elektronik. Di ruangan sepi itu Sentot langsung menyergap korban memenuhi nafsu biadabnya. Ia berharap bisa mengulangi perbuatannya (Mei 2016).

Karena terus meronta dan memberontak, Sentot naik pitam. Dua kali ia membanting korban hingga yang bersangkutan tidak sadarkan diri. “Melihat korban tidak sadarkan diri, pelaku menghubungi ayah korban dan mengatakan anaknya sakit,” katanya.

Saat tiba di lokasi, Adi melihat anaknya dalam keadaan seperti orang tertidur. Melihat luka lebam sekitar muka, Adi hanya bertanya apa yang terjadi pada anaknya. Dengan santai Sentot mengatakan anaknya terjatuh saat bermain.

Saat itu juga Adi melarikan anaknya ke puskesmas setempat. Tidak berlangsung lama, pihak puskesmas langsung merujuk korban ke RS Bhayangkara Kediri. Dari pemeriksaan diketahui motif kejahatan pelaku adalah perasaan cemburu karena belum dikaruniai anak.

Cemburu itu mendorong pelaku melakukan tindak sodomi dan penyiksaan. Menurut Wibowo, pengakuan tersangka tergolong ganjil. Karenanya, dalam waktu dekat, pihaknya akan membawa pelaku menjalani tes psikologi dan kejiwaan.

“Dalam kasus ini pelaku akan dijerat Pasal 80 ayat 23 UU Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara. Yang bersangkutan bisa kena pidana tambahan bila terbukti ada unsur pemberatan,” kata dia. Adi, ayah korban, tidak menyangka pelaku yang dikenal dekat dengan anak-anaknya ternyata tega melakukan perbuatan keji.

Karena itu, ia menuntut aparat hukum menjatuhkan hukuman mati. “Saya minta dia (Sentot) dihukum mati,” katanya. Sebelum kejadian Adi mengaku sempat menaruh curiga.

Hal itu setelah anaknya yang terlihat ketakutan setiap melihat tersangka. Namun, ia segera menghapus pikiran buruknya karena dirinya dan tersangka merupakan kerabat. Seperti diketahui, jenazah AM dimakamkan di tempat pemakaman umum kelurahan setempat.

Sebelumnya tidak ada yang menyangka Sentot sebagai pelaku kejahatan. Untuk menutupi perbuatannya, Sentot bahkan masih ikut mengurus pemakaman jenazah.

Sentot dijemput paksa aparat kepolisian setelah proses pemakaman selesai. Peristiwa ini mengundang reaksi khalayak luas. Bahkan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar sempat membesuk jenazah korban saat masih berada di kamar jenazah RSU Bhayangkara.

Orang nomor satu di Kota Kediri itu berharap pelaku mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya. “Kita tidak pernah menoleransi perbuatan biadab seperti ini. Pelakulayakdihukumsetimpaldengan perbuatannya,” ujarnya.

solichan arif


Berita Lainnya...