Edisi 30-06-2016
Bank Maspion Bidik Status Buku 2


SURABAYA – PT Bank Maspion Indonesia Tbk atau Bank Maspion tahun ini membidik status Bank Buku 2.

Untuk mencapai target tersebut, bank yang berdiri pada 1989 itu membutuhkan modal sekitar Rp1 triliun atau sesuai Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 14/26/PBI/ 2012 tentang Kegiatan Usaha dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank.

Direktur Utama Bank Maspion Herman Halim mengatakan, untuk mendapatkan modal senilai Rp1 triliun itu, perseroan telah melakukan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD).

Saat ini dana yang sudah dikantongi perseroan sudah mencapai Rp680 miliar. ”Kami menargetkan pada September dana Rp1 triliun itu sudah bisa diraih. Dengan begitu, kami akan menyandang status Buku 2.

Jika status ini sudah kami pegang, kami bisa lebih meningkatkan kinerja perseroan,” katanya. Saat ini emiten berkode BMAS ini sudah menyiapkan seperangkat infrastruktur penunjang layanan.

Yang paling difokuskan adalah layanan teknologi informasi atau layanan digital. Menurut dia, ke depan layanan perbankan akan lebih banyak pada aktivitas mobile .

Layanan perbankan secara tatap muka atau pelayanan di kantor saat ini sudah digantikan dengan layanan digital melalui mobile phone. ”Kami akan kembangkan layanan internet banking, mobile banking, dan memperkuat layanan electronic channel berupa virtual account ,” ujar Halim.

Sementara itu, Perwakilan BI Jawa Timur (Jatim) mencatat, secara umum terjadi perlambatan kinerja perbankan. Penyaluran kredit pada triwulan I/2016 hanya tumbuh 7,35%, turun dibanding triwulan III/2015 sebesar 8,93%.

Sebaliknya, risiko kredit atau non-performing loan (NPL) meningkat dari 1,92% menjadi 2,44%. ”Kredit berdasarkan lokasi proyek melambat cukup signifikan dari 10,41% menjadi 6,27% dengan NPL yang meningkat dari 2,14% menjadi 2,37%,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim Syarifuddin Bassara.

lukman hakim

Berita Lainnya...