Edisi 30-06-2016
Demi Generasi Masa Depan


Sriati, 60, tak menghiraukan terik matahari siang hari yang menyengat. Langkahnya pelan di tengah pematang sawah.

Sesekali caping menutup kepalanya berganti fungsi menjadi kipas untuk sedikit menyejukkan kulit wajahnya. Perempuan asal Dusun Ledok, Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, itu sedang menggembala tujuh ekor kambing.

Sesekali matanya tertuju pada nyala di tengah lapangan minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip, Blok Cepu, dari aktivitas pembakaran gas suar bakar (flaring) tapak sumur B.

Sriati menggembala tujuh ekor kambingnya di luar pagar lapangan migas Banyu Urip Blok Cepu. Di dalam lokasi lapangan minyak itu, hiruk-pikuk kendaraan proyek tampak melintas.

Bangunan fasilitas produksi minyak juga berjejer berimpitan dan menjulang. Kegiatan dan kehidupan di dalam lapangan migas Banyu Urip dengan di luar terlihat kontras.

Sejak ada pengeboran migas, masyarakat Bojonegoro berubah cepat. Namun, tidak semua menikmati gula-gula keberadaan industri itu, Sriati contohnya. Meski kampung tempat tinggalnya adalah penghasil minyak mentah, hidup Sriati tak banyak berubah.

Dia tetap menggembalakan kambing milik orang lain. “Saya menggembala kambing ini maro (merawat kambing orang lain). Kalau kambingnya beranak, anaknya jadi milik saya,” ujar Sriati.

Sriati sebenarnya bekerja sebagai buruh tanam padi untuk mendapatkan uang. Namun, karena lahan pertanian di sekitar proyek migas terus susut, pekerjaan sebagai buruh tanam pun ikut tersisih.

Padahal Sriati bertekad menyekolahkan tiga anak hingga tuntas perguruan tinggi agar tidak bernasib seperti ibunya. Saat ini anak pertamanya duduk di bangku SMA, anak keduanya di bangku SMP, dan anak ketiga di bangku SD. “Dulu saya sekolah hanya sampai sekolah dasar.

Itu pun tidak sampai lulus. Saya tidak mau anak-anak saya seperti saya, mereka harus sekolah,” ujarnya.

Beruntung pemerintah membantu biaya sekolah di Bojonegoro sejak SD, SMP, hingga SMA. Siswa SMA atau SMK dari keluarga tidak mampu di Bojonegoro saat inidiberikan beasiswa sebesar Rp2 juta per tahun yang diperoleh dari dana bagi hasil minyak (DBH Migas).

“Anak-anak tetap bisa sekolah karena biaya sekolah gratis,” ujar Sriati sambil mengusap keringat di dahi. Sejak tahun 2000, wajah Bojonegoro memang banyak berubah setelah ditemukan cadangan migas.

Bojonegoro yang dulu gersang dan kering serta banjir setiap musim hujan, perlahan berubah.

Bojonegoro kini menjadi kawasan pertambangan migas. Ada lapangan Sukowati yang dikelola Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ), lapangan migas Tiung Biru yang dikelola Pertamina EP Asset IV Field Cepu, lapangan migas Banyu Urip Blok Cepu dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), dan terakhir cadangan migas Jambaran Tiung Biru yang dikelola Pertamina EP Cepu.

Selain itu, ada Blok Nona dan Blok Blora di kawasan selatan Bojonegoro yang masih tahap bereksplorasi. Namun, sumber daya alam migas tersebut suatu saat pasti akan habis. Lalu bagaimana nasib anak-anak Sriati dan masyarakat Bojonegoro lain ke depan? Menyadari hal ini, sejak 2014 Pemkab Bojonegoro getol memperjuangkan pembentukan dana abadi migas.

Sebagian dana bagi hasil migas dan participating interest (PI) disisihkan dan disimpan untuk generasi masa depan Bojonegoro. Rumusan naskah akademik dan raperda dana abadi migas telah selesai disusun dan segera dibahas bersama DPRD Bojonegoro.

“Dana abadi migas itu untuk anak cucu kita. Jangan sampai generasi mendatang hanya mendengar kejayaan industri migas di Bojonegoro saat ini. Tetapi, mereka hanyaditinggali puing dan sisa kejayaan belaka,” ujar Bupati Bojonegoro Suyoto.

Bila raperda dana abadi migas itu sudah disetujui, tahun ini dana abadi migas dari dana bagi hasil migas yang disimpan sekitar Rp100 miliar. “Dana abadi migas itu bakal tersimpan dalam jangka waktu 30 tahun dan bisa diperpanjang 20 tahun lagi,” ungkap Kang Yoto, sapaan Suyoto.

Dengan asumsi harga minyak di kisaran USD50 dolar per barel, diperkirakan dana abadi migas yang bisa tersimpan selama 30 tahun itu mencapai Rp15-20 triliun.

Dana ini disimpan dalam bentuk deposito atau surat berharga terpisah dari rekening kas daerah. Dana abadi hanya bisa digunakan peningkatan sumber daya manusia di Bojonegoro di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial budaya.

“Kami sudah konsultasi dengan Kementerian Keuangan. Acuan penggunaan dana abadi migas itu adalah peraturan daerah,” ujarnya.

Sebagai pengelola, dibentuk lembaga badan layanan umum (BLU) yang fokus pada bidang peningkatan sumber daya manusia, seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pemerintah pusat.

“Intinya, pada saat sumber daya alam migas di Bojonegoro sudah habis, kita masih punya simpanan dana membiayai anakanak pada masa mendatang.

Minyak dan gas bumi boleh habis, tetapi anak-anak generasi mendatang harus punya sumber daya manusia yang mumpuni. Dengan begitu, mereka kelak akan bisa bersaing dan mandiri,” ujarnya.

Kepala Badan Keuangan dan Kekayaan Daerah (BKKD) Kabupaten Bojonegoro, Ibnu Suyuthi mengungkapkan, tahun iniBojonegoro diperkirakan bakal menerima dana bagi hasil minyak dan gas bumi sebesar Rp800 miliar dengan asumsi harga minyak mentah dunia di kisaran USD50 dolar per barel.

“Nanti dari DBH Migas itu dana yang disisihkan untuk disimpan dalam dana abadi migas sekitar Rp100 miliar,” ujarnya.

Menghindari Kutukan Alam

Dana abadi migas merupakan perjuangan panjang masyarakat dan Pemkab Bojonegoro. Dana abadi migas diharapkan bisa menjadi jaminan agar generasi di Bojonegoro pada masa mendatang ikut menerima manfaat dari keberadaan industri migas saat ini.

Dana abadi migas itu juga dinilai sebagai solusi agar penguasa di Bojonegoro pada masa kejayaan industri migas tidak menghamburkan uang dan memikirkan generasi masa mendatang.

Direktur Bojonegoro Institute, AW Syaiful Huda menjelaskan, dana abadi migas telah diterapkan di sejumlah negara penghasil minyak seperti Kuwait (1953), Abu Dhabi (1974), Alaska (AS) sejak 1976.

Di kawasan Asia Tenggara, dana abadi diprakarsai Malaysia pada 1988 dan Timor Leste (2005). Dalam perkembangannya, dana abadi migas memiliki banyak nama atau istilah, seperti Petroleum Fund, Trust Fund, Sovereign Wealth Fund, Endowment Fund, dan lainnya.

Dana abadi migas merupakan kebijakan menyisihkan sebagian dari pendapatan negara atau daerah dari sektor migas untuk menjamin keberlanjutan pembangunan yang bersifat jangka panjang.

Anggaran hasil penyisihan itu bisa dipakai untuk stabilisasi fiskal atau tabungan bagi generasi mendatang. Ini harus dilakukan karena sumber daya alam migas tak selamanya menghasilkan. Sebaliknya, bila kebijakan dana abadi migas tidak dilakukan, sumber daya alam tak lebih dari sekadar kutukan. Membuat masyarakat terlena tanpa memikirkan masa depan.

muhammad roqib


Berita Lainnya...