Edisi 30-06-2016
Piawai Menari Tradisional


Ketertarikan pada dunia seni membuat Lisna Sari, mahasiswi Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, berniat mempelajari berbagai jenis kesenian. Seni tari salah satunya.

Dia mengaku sejak kecil dikenal memiliki perilaku hiperaktif hingga akhirnya memilih jalur seni tari sebagai aktivitas untuk mengisi waktu luang. Sejak kecil, gadis asal Kalimantan Tengah ini juga belajar berbagai tarian tradisional khas daerahnya.

Tidak jarang dia kerap diminta pentas di berbagai acara. Begitu juga setelah dia hijrah ke Surabaya untuk kuliah.

Di sela-sela kuliah, dia juga masih sering mementaskan tari-tarian tradisional. Selama tinggal di Surabaya, Lisna, sapaan akrab gadis kelahiran 13 Mei 1998 ini, lebih banyak mementaskan Tari Saman asal Aceh.

Di sinilah keunikan gadis berhijab tersebut. Meski dia asli orang Kalimantan, justru tertarik dengan kebudayaan Aceh. Hingga dia akhirnya memilih bergabung dalam Komunitas Pencinta Kebudayaan Aceh di kampusnya.

Dari komunitas itulah, dia bersama anggota yang lain mulai belajar Tari Saman secara autodidak. Pasalnya, tidak ada mentor yang bisa mengajari. Apalagi komunitas ini juga tergolong baru sehingga masih awam dan pesertanya lebih banyak belajar sendiri.

Setelah sekitar setahun belajar Tari Saman, barulah Lisna kerap tampil di depan umum untuk membawakan tarian tersebut. ”Sebenarnya komunitas ini termasuk BSO atau badan semi otonom. BSO ini seperti UKM (unit kegiatan mahasiswa) tapi tingkatnya hanya di fakultas dan anggotanya beragam.

Nggak mesti orang asal Sumatera, makanya aku pun tertarik ikut,” kata Lisna. Awal mula tertarik dengan Tari Saman karena sebelumnya Lisna memang sudah piawai menari tarian tradisional dari daerah asalnya, Kalimantan.

Ia berpikir untuk memperkaya keterampilan menarinya tidak hanya pandai membawakan tari-tarian khas Kalimantan.

Namun, dia juga ingin membawakan tarian dari daerah lain dan Tari Saman menjadi pilihannya. Menurutnya, tarian tersebut unik karena tidak banyak melakukan gerakan sambil berdiri, hanya duduk, tetapi tangan dan tubuh harus bergerak secara cepat.

”Tariannya itu kayaknya sepele cuma duduk doang kan . Nah , tarian asal Kalimantan yang gayanya loncat-loncat aja aku udah biasa apalagi yang kayak gini . Pikirku pasti lebih mudah.

Makanya aku penasaran pingin belajar,” papar gadis berhijab ini dengan tersenyum saat dijumpai usai pentas Tari Saman di Kirkos Ciputra World Surabaya belum lama ini.

mamik wijayanti


Berita Lainnya...